Lompat ke isi utama
Jabaran Tuli dan Tunarungu

Sebutan Tuli Dinilai Lebih Nyaman, Ini Penjelasannya

Solider.id, Bandung – Kata tunarungu dan Tuli masih menjadi dua istilah yang terus diselaraskan untuk sebutan  difabel yang memiliki hambatan dalam pendengaran. Masyarakat umum secara universal memang lebih mengenali kata tunarungu daripada kata Tuli, untuk mengidentitaskan setiap individu yang memiliki hambatan daya respon mendengar. Sedangkan, pada masyarakat difebel-nya sendiri, mereka lebih nyaman dengan sebutan Tuli.

Fenomena istilah keduanya menjadi sangat penting untuk diperhatikan oleh masyarakat umum. Sebab, kata tunarungu dan Tuli yang mudah dilontarkan baik secara lisan maupun dalam bentuk penulisan, ternyata bukan sekedar sebutan untuk memberikan identitas terhadap seseorang saja. Dibalik kata tunarungu dan Tuli terdapat beragam makna dan pengertian yang berbeda, sehingga mempengaruhi rasa kenyamanan, kehormatan, serta kesetaraan kepada pemiliknya.

Kekeliruan dalam menyebutkan istilah tunarungu dan Tuli, bagi para difabel yang memiliki hambatan pendengaran berdampak kepada citra diri mereka. Sebagian besar dari mereka lebih memilih, menerimakan dan menghargai sebutan Tuli ketimbang tunarungu dari masyarakat umum.

Mengapa bisa demikian?

Berikut berbagai penjabaran yang dapat dipahami bersama terkait istilah tunarungu dan Tuli.

Tunarungu dan Tuli ditinjau dari bahasa umum.

Dikaji dari sisi bahasanya, tunarunggu dan Tuli memiliki istilah yang dapat diartikan sebagai berikut: Menurut bahasa secara umum, ‘Tuli’ diartikan ‘Deaf’. Sedangkan ‘Tunarungu’ diartikan ‘Hearing impaired’ (Gangguan pendengaran)

Tambahan lain, ‘Dengar’ dapat diartikan sama dengan ‘Hearing’ dan ‘Normal’ sama dengan ‘Normal’. Istilah ‘Orang Dengar’ pun sering disebutkan sebagai pembeda antara orang Tuli atau tidak.

Istilah orang dengar yang biasa digunakan di kalangan masyarakat difabel Tuli memang terlahir sebagai bentuk bagian dari arus silang antara individu Tuli dengan individu yang mendengar. Dapat diartikan juga lawan kata dari Tuli adalah orang dengar. Sedangkan, untuk istilah tunarungu belum diketahui. Sebab, istilah Tuli lebih disukai untuk digunakan sebagai sebutan jati diri mereka.

Tunarungu dan Tuli ditinjau dari Medis

Secara medis atau istilah dokternya, ‘Tuna’ memiliki pengertian rusak atau luka, sedangkan ‘Rungu’, mempunyai arti pendengaran. Bila diartikan dari sisi bahasa secara medis, kata tunarungu dapat diartikan sebagai kerusakan pada indra pendengaran. Atau, tunarungu sebagai individu yang mengalami kerusakan pendengaran.

Sementara, secara medis ‘Tuli’ dapat dijabarkan sebagai kondisi fisik seseorang yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan seseorang untuk mendengarkan suara. (Wikipedia).

Perbedaan keduanya terletak pada kerusakan pendengaran atau penurunan dan ketidakmampuan mengakses suara oleh indra penndengaran. Dari pembeda tersebut, kata Tuli lebih halus untuk dimaknai secara medis.

Bentuk Penulisan Tuli

Tuli atau deaf dengan menggunakan inisial huruf kapital pada ‘T’ sebagai hurup pertamanya, menandakan aktif dalam budaya Tuli, kelompok budaya minoritas, bahasa isyarat, bangga, kaya, dan positif dalam pengertian maupun definisi.

Huruf ‘T’ kapital pada kata Tuli dapat diartikan sebagai subyek atau user. Tuli, menunjukkan orang, indvidu atau sosoknya.  

Sementara, tuli atau deaf dengan menggunakan huruf kapital pada ‘t’ sebagai huruf awal,  menandakan tidak dapat mendengar karena rusak pendengaran atau pekak (Arti menurut KBBI). Istilah kasar, makna umum, tidak baku.

Hurup ‘t’ kecil pada kata tuli dapat diartikan sebagai keterangan yang menyatakan adanya kerusakan pada indra pendengarannya.

Dalam konteks penulisan, penggunaan huruf diawalpun, antara ‘Tuli’ dan ‘tuli’ memiliki sudut pandang yang sangat kontras. Derajat atau level pendengaran yang beragam bukanlah menjadi sebuah masalah. Namun bahasa dan budaya Tuli adalah identitas dan Tuli adalah sosok individu manusia.

Prespektif lain antara Tuli dan Tunarungu.

Tuli, lebih dipandang sebagai sosok individu yang memiliki kemampuan untuk berbahasa isyarat dalam melakukan interaksi dan berkomunikasi. Adanya hambatan lingkungan, artinya  Tuli tidak akan merasa terhambat saat aksesibilitasnya di lingkungan terpenuhi. Tuli sebagai identitas sosial, dan Tuli mampu untuk setara. Tuli memiliki berbagai level dalam mengakses daya dengar, misalnya masih mampu mendengar hanya saja samar atau kurang jelas sehingga memerlukan alat bantu dengar. Atau hilangnya seluruh daya pendengarnnya.

Tunarungu, lebih dipahami sebagai sebuah ketidakmampuan mendengar. Kerusakan indra pendengaran. Artikulasi kata yang kurang jelas secara diagnosa medis. Tunarungu juga dipandang mampu menimbulkan diskriminasi.

Dari penjabaran diatas, terdapat pembeda antara tunarungu dan Tuli dalam berbagai hal. Untuk masyarakat difabel dengan hambatan pada pendengarnnya, mereka lebih menyukai sebutan Tuli daripada tunarungu. Istilah Tuli lebih nyaman untuk mereka terima sebagai identitas dirinya.

Mewakili masyarakat difabel Tuli kota Bandung, Sri Kurnia Ketua selaku Gerakan untuk Kesejahteraan tunarungu Indonesia (Gerkatin) menyampaikan terkait istilah tunarungu dan Tuli, pihaknya lebih memilih sebutan ‘Tuli’ karena merasakan nyaman berkomunikasi dalam menggunakan bahasa isyarat dan ada aksesibilitasnya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Adi Kusumo Bharoto, tokoh difabel Tuli senior dari Yogyakarta menyampaikan pendapatnya terkait istilah Tuli dan Tunarungu.

Menurut Adi, perbedaannya dari perspektif sosial budaya dan medis. Untuk tunarungu dari perspektif medis yang mengacu pada kondisi pendengaran, tidak dapat mendengar, kerusakan dan sebagainya. Istilah tersebut kesannya negatif yang mengharuskan ‘Dinormalkan’ dengan terapi pendengaran, penggunaan alat dengar, terapi wicara, dan sebagainya.

Sedangkan sebagian besar masyarakat Tuli tidak merasa nyaman dengan sebutan tunarungu. Mereka lebih nyaman dengan sebutan Tuli, karena mengacu pada identitas. Mereka merupakan kelompok minoritas linguistik yang menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa ibu. Mereka tidak melihat adanya permasalahan dalam dirinya, mereka hidup normal seperti halnya orang lain. Demikian pemaparan Adi secara garis besar yang disampaikan pada jurnalis Solider.id.

Terkait penggunaan huruf awal kapital atau kecil pada kata Tuli, Adi menyampaikan, secara pribadi dirinya tidak mempermasahkan hal tersebut.

Kendati demikian, identitas tunarungu maupun Tuli tetap merupakan bagian dari masyarakat difabilitas yang memiliki kesamaan hak dan kewajiban sebagai satu kesatuan warga negara di tanah air. Mereka membutuhkan rasa nyaman, penghormatan serta kesetaraan dalam pemenuhan hak asasi dalam kehidupannya. Saat mereka lebih nyaman dengan sebutan Tuli, itulah bentuk penghormatan yang dapat diberikan kepada mereka. Pun demikian dengan sebutan tunarungu.

 

Wartawan: Srikandi Syamsi

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.