Lompat ke isi utama
Menuju Sumber Daya Air yang Inklusif (sumber WaterAid)

Menuju Sumber Daya Air yang Inklusif

Solider.id, Yogyakarta – Saya teringat pengalaman saya di Maluku Tenggara Barat ketika bertugas sebagai seorang Pengajar Muda dua tahun silam. Dengan daerah bergugus kepulauan dengan tipikal iklim yang panas dan kering, daerah tempat saya bertugas adalah daerah yang miskin air. Dengan kawasan perkampungan yang berada di pesisir, susah sekali untuk mendapatkan air bersih untuk keperluan minum. Sumur desa yang dibangun di belakang perkampungan ternyata tidak bisa menghasilkan air tawar karena rasanya yang masih payau. Air seperti ini masih bisa digunakan untuk mandi dan mencuci baju, namun tidak untuk minum.

Pemerintah desa saat itu akhirnya menggunakan dana desa untuk membeli selang karet dengan panjang hampir 2 kilo meter yang digunakan sebagai jalan air yang diambil dari mata air di atas perbukitan di belakang desa. Air tawar kemudian ditampung di tiga bak beton besar yang ada di sudut-sudut perkampungan. Setiap pagi, ibu-ibu antre untuk mengambil air dengan ember-ember besar. Ember-ember itu mereka panggul atau dibawa dengan gerobak bagi mereka yang beruntung mampu untuk membuat gerobak. Situasi seperti ini tentu saja tidak menguntungkan bagi difabel. Mengingat air adalah kebutuhan pokok manusia, tidak terbukanya akses bagi difabel dalam mengakses air untuk minum dan sanitasi adalah pembatasan akan hak asasi manusia.     

Pada tahun 2014, World Bank telah merilis Water Global Practice sebagai upaya untuk mengarusutamakan isu aksesibelitas sebagai cara untuk memenuhi hak difabel atas sumber air minum dan kebutuhan sanitasi. Di Indonesia, program ini diterjemahkan untuk mendukung program pemerintah yang bernama PAMSIMAS atau Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat. Selain PAMSIMAS, World Bank juga merilis catatan panduan untuk pelibatan difabel di sektor penyediaan air bersih dan sanitasi.

Panduan ini berusaha untuk memberikan gambaran akan isu dan tantangan kunci yang difabel hadapi dalam mengakses sumber-sumber air dan sanitasi. Catatan ini juga menyertakan rekomendasi akan dukungan sistematis dan intervensi yang berkelanjutan pada sektor air minum dan sanitasi yang sesuai dengan inklusifitas difabel.

Difabel mengakses sumber daya air—termasuk di dalamnya ada air minum, sanitasi, dan irigasi—secara bebas dan tanpa tergantung pada orang lain adalah sebuah perwujudan hak hidup. Secara khusus, ketergantungan difabel terhadap sumber daya air untuk kebutuhan sanitasi dasar dan air minum bisa meningkatkan resiko eksploitasi secara seksual dan finansial. Selain itu, akses yang tidak tersedia pada sumber daya air dan segala fasilitas yang mengelilinginya mengurangi potensi difabel untuk bisa masuk ke dalam area umum dan kegiatan yang bersifat interaksi sosial secara lebih luas.

Catatan panduan dari World Bank ini merilis beberapa masalah mendasar yang dihadapi oleh difabel berkaitan dengan sulitnya akses terhadap sumber daya air dan sanitasi. Salah satu masalah utama yang dialami oleh difabel, terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah jarak yang begitu jauh dengan sumber air. Daerah-daerah kering seperti Nusa Tenggara Timur maupun kawasan Maluku memberi contoh bagaimana perjuangan mendapatkan air adalah perjuangan yang tidak mudah. Kesulitan akan menjadi bertambah bagi difabel yang berada di kawasan yang jauh dari akses sumber daya air karena kondisi medan yang sering menyulitkan mobilitas difabel.

Masalah umum selanjutnya adalah desain dari sumber mata air atau fasilitas sanitasi yang tidak memperhatikan kaidah aksesibilitas bagi difabel.  Lalu, dengan jarak yang seringkali tidak dekat, difabel akan menghadapi tantangan ganda dalam proses membawa air sampai ke rumah masing-masing. Mengambil konteks di Maluku Barat Daya, difabel tentu perlu modifikasi khusus untuk mengatasi tantangan ini.  Yang paling krusial adalah faktor keamanan pada sumber daya air atau fasilitas sanitasi. Di negara berkembang, sering dijumpai kamar mandi umum yang berada di level tanah lebih atas dengan beberapa anak tangga untuk menggapainya. Di kawasan pedesaan, seringkali anak tangga hanya berupa gundukan tanah liat keras yang akan menjadi licin dan becek ketika hujan mengguyur. Bentuk sumur juga bisa menjadi faktor penambah resiko keselamatan bagi difabel yang mengakses fasilitas sanitasi ini.

Lalu bagaimana dengan sistem saluran irigasi yang juga merupakan salah satu elemen dalam sumber daya air? Dengan karakteristik negara agraris, tulang punggung pertanian adalah sistem irigasi yang memadai. Difabel yang bermatapencaharian sebagai petani rentan terkendala akses ketika desain irigasi membatasi mobilisasi mereka, seperti desain jembatan irigasi yang ringkih atau jalan dan seberangan pada kanal irigasi yang berundak-undak. Sebagai sektor yang paling banyak digeluti oleh masyarakat Indonesia, pertanian dengan sistem irigasi yang aksesibel akan bisa mendorong partisipasi produktif difabel dalam sektor agraris.

Catatan panduan World Bank dalam pengelolaan sumber daya air memberikan rekomendasi perwujudan pengelolaan air yang memberikan akses luas bagi difabel. Panduan ini mengajukan pendekatan dua jalur (Twin-track) untuk inklusi difabel di sektor ini. Pendekatan ini melibatkan dua jalur: pertama adalah jalur pengarusutamaan difabel dalam sektor sumber daya air dengan menyingkirkan hambatan dalam berkonsultasi, asesmen kebutuhan, pengembangan infrastruktur dan pelayanan; kedua adalah melakukan projek yang ditargetkan mampu mengisi celah dalam kebutuhan difabel dalam sektor sumber daya air.

Pendekatan Twin-track juga harus didukung oleh kebijakan dengan implementasi yang bersifat inklusif. Kebijakan dan rencana nasional dalam hal sumber daya air akan membawa pada pengembangan alokasi anggaran, panduan dan standar yang sesuai dengan inklusifitas difabel. 

Meski begitu, masalah klasik terkait kebijakan dalam isu difabel adalah soal data terpilah. Untuk itu, penyediaan data terpilah tematik isu sumber daya air juga menjadi rekomendasi penting untuk menyokong kebijakan nasional yang berbasis bukti (evidence-based). Praktik baik dari penyediaan data ini datang dari Tajikistan ketika WASH project mengadarkan survei mengenai statistik difabel menggunakan Washington Group dengan memasukkan pertanyaan mengenai akses difabel terhadap sumber daya air dan sanitasi.

Dengan data terpilah tematik pada sektor sumber daya air, pemangku dan penentu kebijakan harus membangun kapasitas mereka terhadap kebijakan yang inklusi. Proses ini akan membawa pada desain infrastruktur fisik sumber daya air dan sanitasi yang aksesibel bagi difabel. Desain ini menggunakan prinsip desain universal dan akan diteruskan dengan audit aksesibilitas dan keamanan bagi pengguna sumber daya air dan sanitasi difabel. Setelah terjadi, manual, panduan dan toolkit tentang desain sumber daya air dan sanitasi yang aksesibel bisa diedarkan.

Terakhir, melibatkan difabel dalam siklus pelaksanaan projek (Project Life Cycle). Siklus ini pada umumnya dibagi menjadi empat fase: inisiasi (initiation), perencanaan (planning), execution (eksekusi), dan penutup (closure). Dalam konteks difabel, pelibatan difabel dalam ke empat fase tersebut akan memastikan operasi sumber daya air dan sanitasi akan menerapkan kaidah aksesibilitas bagi difabel. Dua hal utama dalam project life cycle yang berkaitan dengan difabel berhadapan dengan manajemen sumber daya air dan sanitasi adalah pelibatan mereka dalam konsultasi publik tematik. Difabel sering ‘tidak terlihat’ (invisible) dan terekslusi dari konsultasi publik tentang sumber daya air. Hal selanjutnya adalah bekerjasama dengan komunitas difabel untuk memastikan bahwa project life cycle dari manajemen pengelolaan sumber daya air ini sudah memasukkan prinsip inklusifitas difabel di dalamnya.

 

Penulis: Yuhda

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.