Lompat ke isi utama
 PNS Difabel Djanwar Nugraha dan Ikhsan Setiawan.

Kedisiplinan Tenaga Kerja Difabel Paska Libur Hari Raya

Solider.id, Bandung – Nuansa libur panjang di hari raya telah usai seiring perhitungan kalender masa cuti bersama selesai. Runitinas perkantoran baik di lingkungan perusahaan,  swasta maupun pemerintahan mulai kembali ramai. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, seusai menikmati libur hari raya atau libur panjang sering sekali terjadi inspeksi mendadak atau sidak terhadap tim kerjanya oleh para atasan juga pimpinan.

Pemeriksaan secara langsung tentang pelaksanaan peraturan dan tugas, atau pemeriksaan pasukan dengan cermat untuk mengetahui kesiapan di tempat kerja masing-masing seperti ini dilakukan untuk memantau tingkat kedisiplinan para pegawai. Aturan tersebut berlaku untuk semua tanpa terkecuali tenaga kerja difabel, baik sebagai PNS maupun pekerja swasta. Di lingkungan pemerintahan, bagi PNS yang masih meliburkan diri tanpa keterangan ada sanksi yang akan diberikan yaitu pemotongan tunjangan kinerja.

Sejauh mana para pegawai memaknai kedisiplinan kerja, mungkin hal tersebut dapat terlihat dari mangkir atau absen tidaknya pada hari pertama kembali berkantor paska libur panjang hari raya. Termasuk para pegawai Difabel.

Seperti Djanwar Nugraha difabel Daksa polio pekerja PNS dengan jabatan Kasi Pemerintahan di Kelurahan Rancanumpang, Gede Bage Bandung misalkan, hari pertama berkantor tetap mengikuti Apel pagi dan hadir tepat waktu. Meski memiliki banyak aktifitas lain bersama masyarakat difabel, baik sebagai ketua umum Motor Disabilitas Federation Indonesia, Pembina sebuah yayasan di Jawa Barat, dan ketua dewan guru sebuah beladiri di Jawa Barat, Djanwar tetap mengutamakan kedisiplinan dalam pekerjaan utamanya sebagai aparatur pemerintahan.

Menurutnya, disiplin dalam menjalankan tugas pekerjaan  merupakan hak dan kewajiban selain rasa tanggung jawab. Lebih tegas Djanwar menuturkan, jika haknya sudah kita ambil kita harus konsekuen dengan kewajibannya dan mengusahakan untuk disiplin pula. Sebagai manusia insani, mengambil hak tanpa melaksanakan kewajiban bukanlah sesuatu yang benar. Atas kesadaran tersebut, dirinya menghindari mangkir atau absen di hari pertama kembali ke kantor, meskipun rutinitas pekerjaannya belum dipadati oleh tugas-tugas.   

Sama halnya dengan penuturan Ikhsan Setiawan, S.Kom. Difabel yang menggunakan alat bantu kursi roda ini pun menghindari mangkir pada hari pertamanya berkantor setelah libur panjang hari raya. Memangku jabatan sebagai Staf Sub bagian inventarisasi dan distribusi aset bagian umum sekertariat daerah kota Samarinda, yang berkantor di balai kota Samarinda Kalimantan Timur, Ikhsan mendapatkan perlakuan kerja dan peraturan yang sama di lingkungan kantornya. Tidak ada yang diistimewakan  terhadap dirinya.

PNS berusia 43 tahun ini pun memiliki sudut pandang tersendiri dalam perihal kedisiplinan. Perspektifnya, disiplin dapat diartikan sebagai sikap seseorang atau kelompok yang berniat untuk mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Ikhan menjabarkan lebih luas dalam kaitannya dengan pekerjaan, pengertian disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan pegawai atau karyawan terhadap peraturan organsasi maupun kantor atau tempat bekerja.

Bukan terkait soal sanksi yang akan diterima apabila dirinya memilih untuk mangkir di hari pertama bertugas di kantornya. Akan tetapi, rasa ketaatan, kepatuhan yang dimiliki hingga membuatnya bersedia untuk mendisiplinkan diri mengikuti aturan di tempat kerja. 

Ikhsan juga berpesan, kita tunjukan bahwa difabel bisa lebih mengikuti disiplin secara waktu, meski dalam keterbatasan fisik yang dimiliki. Kondisi kedifabelan seperti apa pun, janganlah dijadikan alasan untuk tidak disiplin.

Dari kedua pemaparan yang disampaikan oleh perwakilan pegawai negeri sipil difabel, mereka memaknai disiplin sebagai tanggung jawab, kewajiban, bentuk ketaatan dan kesaradan diri. Bukan semata besar kecilnya, melanggar atau tidaknya sebuah aturan yang telah ditetapkan, dengan konsekuensi berupa sanksi yang akan dijatuhkan. Mereka mampu dan mau untuk mendisiplinkan diri, kembali melaksanakan tugas pekerjaannya dengan tepat waktu setelah mendapatkan libur panjang di hari raya.  

 

Wartawan  : Srikandi Syamsi

 Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.