Lompat ke isi utama
 Motor roda tiga kendaraan mudik Pawiji

Transportasi Umum Kurang Akses, Sejumlah Difabel Pilih Mudik Pakai Motor Roda Tiga

Solider.id, Bandung – Moda sarana transportasi umum secara berkala memang terus melakukan perbaikan kearah aksesibel. Misal saja, Bus dan Kereta Api yang mulai menyediakan ruang khusus untuk masyarakat difabel pengguna kursi roda. Area yang disediakan pun diberi logo kursi roda dilengkapi dengan besi pegangan. Namun, dari sisi kenyamanan bagi penggunanya masih dirasakan kurang, bahkan cukup menakutkan.

Kelengkapan sarana penunjang keselamatan pengguna kursi roda masih belum maksimal, seperti akses pengunci agar kursi roda tidak terbawa arus laju kendaraan yang hanya mengandalkan pada besi pegangan tangan yang disediakan. Saat kendaraan melaju dengan kecepatan tertentu, kursi roda masih dapat bergeser meski sudah diposisi rem dua kiri kanan. Begitu pula saat kendaraan hendak melaju atau berhenti. Kendala lain yang dirasakan, undakan tangga terlalu tinggi dan masih menyulitkan masyarakat difabel pengguna alat bantu kruk maupun para penumpang dengan lanjut usia (Lansia) yang menggunakan alat bantu untuk berjalan.  

Faktor kesulitan yang masih ditemui dalam mengakses fasilitas transportasi umum, membuat sebagian masyarakat difabel memilih motor roda tiga sebagai sarana mobilitasnya. Termasuk saat melakukan perjalanan mudik dan balik pada suasana Lebaran.

Disampaikan oleh Pawiji difabel Daksa polio, perantau asal Gombong Jawa Tengah, setiap kali momentum hari raya Idul Fitri tiba, ia selalu memilih mudik dengan menggunakan motor roda tiganya. Meski harus menghabiskan waktu sekitar dua belas jam atau lebih untuk menempuh perjalanan Bandung menuju Gombong saat mudik dan sebalikanya,  dirinya mengaku lebih merasakan kenyamanan menggunakan motor roda tiga ketimbang transportasi umum.

Selain menghindari berdesakan dengan penumpang lain, berebut untuk mendapatkan tiket, kendala aksesibilitas tadi pun menjadi pertimbangan tersendiri yang membuatnya merasa lebih nyaman mudik dan balik Lebaran dengan motor roda tiga. Tentu saja persiapan kendaraan  harus dilakukan. Salah satunya, dengan mengecek kelayakan motor untuk menempuh jarak jauh.

Pawiji menuturkan, dengan melakukan servis motor sebelum mudik, dirinya akan lebih tenang dalam perjalanan yang cukup panjang. Alasan lain yang disampaikan terkait pilihan mudik dengan mengendarai motor roda tiganya adalah untuk memudahkan mobilitas dan aktifitasnya ketika berada di kampung halaman, dan lebih leluasa mengatur waktu perjalannya.

Senada dengan Pawiji, Sunardi difabel Daksa Litle People (LP) yang mudik ke Lampung juga memilih motor roda tiga sebagai moda trasnportasi daratnya. Rasa nyaman kembali menjadi prioritas yang diutamakan ketimbang harus menggunakan kendaraan umum. Ketidak nyamanan mengakses naik dan turun undakan tangga Bus sangat dirasakannya. Meski mudik ke luar pulau lebih santai menikmati perjalanan dengan kendaraan umum, akan tetapi, kenyamanan dalam mengaksesnya yang dirasakan belum sesuai dengan harapan.

Persiapan yang dilakukan pun sama, kondisi motor roda tiganya wajib layak untuk menempuh perjalanan jarak jauh. Penunjang keselamatan lainnya perlu digunakan, seperti helm, sarung tangan, jaket hingga sepatu, selain kelengkapan surat kendaraan dan SIM D yang di kantonginya. Meski langka terkena razia operasi lalu lintas, dengan ikut mentaati peraturan yang berlaku, perjalanan pun akan lebih nyaman, tenang serta fokus.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat difabel yang belum atau tidak memiliki kendaraan pribadi baik mobil maupun motor roda tiga, dan mereka masih mengalami kesulitan dalam mengakses kendaraan umum?

Menikmati layanan fasilitas publik dengan rasa nyaman, amam dan menunjang kemandirian merupakan hak setiap warga masyarakat, termasuk para difabel.  

 

Wartawan: Srikandi Syamsi

Editor       : Ajiwan Arief        

The subscriber's email address.