Lompat ke isi utama
sungkeman, sebagai salah satu tradisi lebaran di Indonesia

Makna Idul Fitri dalam pemenuhan hak manusia

Solider.id, Yogyakarta – Perayaan Idul Fitri di Indonesia selalu dilaksanakan dengan gagap gempita di seantero tanah air. Ritual mudik tahunan yang melibatkan kurang lebih 23 juta orang adalah salah satu aktifitas migrasi paling besar di dunia. Mereka yang mudik ini ingin kembali ke rumah di kampung halaman. Para pemudik ingin bertemu dengan sanak saudara sekaligus merasakan kehangatan waktu yang berkualitas dengan keluarga. Salah satu yang terpenting, momen Idul Fitri adalah saat ketika, secara personal, orang-orang ingin kembali menjadi suci atau menjadi fitrah, kembali ke asal. Namun, siapa sangka jika pemaknaan kembali ke fitrah alias kembali suci ternyata kurang tepat.

Menurut Iding Rosyidin, Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam sebuah tulisannya di Geotimes, pemaknaan kembali ke fitrah atau kesucian adalah hal yang sulit untuk dilaksanakan. Fitrah yang menurutnya diartikan sebagai sifat asal, kesucian atau keadaan diri yang belum dipengaruhi oleh apa pun, baik pemikiran, ideologi atau apa saja, tampak sulit untuk dicapai oleh manusia setelah dewasa. Baginya, tidak akan ada manusia yang benar-benar bisa kembali ke fitrah seperti saat masih bayi.

Menurutnya, Idul Fitri yang diawali dengan ibadah puasa selama satu bulan sebelum Idul Fitri justru bertumpu pada makna puasa tersebut. Ayat yang mewajibkan puasa secara tegas menyebut tujuan puasa adalah “agar kalian bertakwa” (la’allakum tattaqun). Hal yang sama juga ada dalam hadits tentang hari Idul Fitri yang lebih menekankan tentang ketakwaan, alih-alih perkara soal kembali ke kesucian atau kembali ke asal.

Di Indonesia sendiri, Idul Fitri dimaknai dengan sangat besar karena memang berbarengan dengan ritual mudik yang melibatkan jutaan orang. Dalam pengertian filosofinya, sesungguhnya yang terpenting bukanlah idul fitrinya, tetapi justru ibadah puasanya. Apakah puasanya benar-benar bisa menjadikan umat Islam sebagai pribadi yang bertakwa atau tidak.

Menurut Ibnu Abbas, orang yang bertakwa diartikan sebagai "orang-orang yang meyakini (Allah) dengan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan patuh akan segala perintah-Nya. Dalam pengertian yang lebih luas dan berkaitan dengan isu difabel sebagai manusia, perkara patuh dengan segala perintah Allah SWT berhubungan dengan pemaknaan kesetaraan manusia di mata Allah SWT. Yang membedakan manusia satu dengan manusia  yang lainnya adalah kadar ketakwaan terhadap Allah SWT, bukan perkara perbedaan fisik antara difabel dan nondifabel.

Merujuk pada buku Fiqh Penyandang Disabilitas, posisi difabel dalam kacamata Islam berada pada pengertian bahwa pada dasarnya semua manusia diciptakan Allah Swt fi ahsan taqwim (dalam bentuk sempurna). Manusia adalah karya agung (masterpiece) Allah dan berbeda dengan makhluk lain yang Allah ciptakan karena Allah menyediakan akal budi dalam diri manusia agar mampu mengemban amanah membangun peradaban di bumi sebagai Khalifah. Allah SWT telah menganugerahkan pada manusia kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan.

Masih dalam buku yang sama, ketakwaan manusia mengantarkannya dalam memahami hak atas tanggung jawab sesama yang bisa dipilah ke dalam lima kategori: a) Hak manusia individu atas tanggung jawab dirinya sendiri; b) Hak manusia individu atas tanggung jawab individu lain; c) Hak manusia individu atas tanggung jawab masyarakat; d) Hak masyarakat atas tanggung jawab individu; e) Hak masyarakat atas tanggung jawab masyarakat yang lain. Menurut buku ini, para ulama bersepakat bahwa dalam hak manusia selalu ada hak Allah di dalamnya. Hal itu berarti bahwa ketika manusia memenuhi hak manusia, maka ia sekaligus telah melakukan pemenuhan hak Allah. Sebaliknya, pengingkaran terhadap hak manusia juga bermakna pengingkaran atas hak Allah. Pemenuhan hak atas manusia juga melingkupi pemenuhan hak difabel atas penghidupan sebagai perwujudan ketakwaan terhadap Allah sebagai Sang Pencipta.

Dalam pengertian Islam sebagai rahmatan lil alamin, misi kemaslahatan atau kesejahteraan merupakan tawaran untuk seluruh manusia dan alam semesta. Pengejawantahan rahmatan lil alamin juga disebut dalam ushul al-khams atau lima prinsip dasar yang salah satunya melingkupi hifzh al-nafs wa al’irdh.

Menurut buku Fiqh Penyandang Disabilitas, Hifzh al-nafs wa al-’irdh adalah pemberian jaminan hak atas setiap jiwa (nyawa) manusia, untuk tumbuh dan berkembang secara layak. Dalam hal ini Islam menuntut adanya keadilan, pemenuhan kebutuhan dasar (hak atas penghidupan) pekerjaan, hak kemerdekaan, dan keselamatan, bebas dari penganiayaan dan kesewenang-wenangan.

Secara tidak langsung, ada keterkaitan antara ketakwaan yang sifatnya vertikal kepada Allah SWT dengan pemenuhan hak Allah SWT dalam memperlakukan makhluk ciptaannya secara adil dan setara dalam perayaan Idul Fitri. Memaknai perayaan Idul Fitri secara lebih luas juga bisa dengan cara memaknai misi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Artinya, setiap merayakan Idul Fitri akan ada semangat dan misi untuk memanusiakan difabel dan menempatkan difabel kepada posisi sebagai manusia yang punya harkat dan martabat dengan sesama manusia lainnya. Pun, setiap merayakan Idul Fitri, umat muslim juga diingatkan misi kemaslahatan terhadap manusia termasuk terhadap difabel.

 

Penulis : Yuhda

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.