Lompat ke isi utama
mikrobus Banjarnegara

Cerita Mudik Difabel di Banjarnegara

Solider.id, Banjarnegara – Lebaran tinggal menghitung hari. Orang-orang sudah mulai menyiapkan keperluan lebaran. Bagi para perantau, waktu untuk mudik sudah mulai mendekat. Tiket dan stamina di perjalanan mulai dipersiapkan. Mudik biasanya identik dengan perjalanan panjang lintas provinsi. Bahkan, untuk kepentingan ini, pemerintah Indonesia mempersiapkan Tol Trans Jawa yang memiliki panjang 1.167 km atau 725 mill. Angkutan umum pun disiapkan sebagai penyangga utama kegiatan mudik.

Mudik ternyata tidak selalu berarti dengan perjalanan lintas provinsi kembali ke kampung halaman. Mudik juga bisa berarti pulang dari perantauan yang masih berada dalam satu kawasan kabupaten. Khusus untuk kawasan Banjarnegara yang didominasi oleh lanskap pegunungan, perjalanan dari sisi selatan ke sisi utara Banjarnegara saja bisa memakan waktu 4-5 jam. Saya kemudian mewawancarai Indah Sari (16), seorang low vision yang sekarang bersekolah di salah satu sekolah swasta di pusat kota Banjarnegara. Ia tinggal di kos di bilangan Krandegan karena ia berasal dari Kecamatan Batur, kecamatan paling utara Banjarnegara.

Libur sekolah akan dimulai pada tanggal 29 Mei 2019 dan Indah berencana mudik ke Dusun Pasurenan Kecamatan Batur Banjarnegara keesokan harinya. Indah bercerita bahwa sabagai seorang low vision, mudik dari kota Banjarnegara ke rumahnya bisa dilakukan dalam dua opsi dengan jarak waktu yang cukup berbeda.

“Opsi jalur pertama adalah jalur dari kota Banjarnegara melalui jalur utara Banjarnegara melewati paling tidak enam kecamatan Banjarmangu, Madukara, Karangkobar, Kalibening, Wanayasa, Pagentan baru sampai Batur,” ujarnya.

Indah mengatakan bahwa meski jarak jalur ini lebih dekat jika dibandingkan dengan jalur lainnya, ia sering tidak menggunakan jalur ini karena opsi kendaraan umum yang minim.

“Paling tidak  saya harus tiga kali ganti kendaraan umum jika menggunakan jalur ini. Itupun, rentang tunggunya bisa lama karena jumlah angkutan umumnya tidak terlalu banyak, apalagi jika sudah masuk waktu sore,” terangnya.

Dari Banjarnegara, menurut Indah, ia harus menggunakan sebuah angkutan bus umum kecil dari Banjarnegara menuju Kecamatan Karangkobar sebagai pemberhentian terakhir. Ia harus berganti moda kendaraan dengan angkutan mobil pick up umum yang biasa mengangkut petani kentang. Jika sedang untung, ia bisa duduk di dek depan. Jika sudah terisi, ia biasanya harus mau berdesak-desakan di bagian belakang yang beratapkan terpal.

“Karena saya low vision, biasanya saya dikasih tempat duduk di depan,” ceritanya.

Waktu tunggu pun kadang tidak sebentar. Kendaraan umum pick up ini hanya akan jalan ketika penumpangnya sudah penuh. Biasanya, Indah bisa menunggu sampai 1 -2 jam sampai kendaraan jalan.  Angkutan ini pun belum bisa membawanya sampai ke depan rumah karena angkutan ini hanya berhenti sampai Pasar Batur. Rumahnya yang berada di Dusun Pasurenan masih sekitar 15 km dari Pasar Batur. Ia kemudian harus berganti moda transportasi dengan bus umum kecil jurusan Batur – Wonosobo. Kendaraan ini cenderung lebih baik dari moda transportasi yang Indah gunakan sebelumnya karena jumlah armadanya banyak dan ada setiap setengah jam sekali.

Dengan moda transportasi ini, Indah akan turun di pertigaan Pasurenan. Ia kemudian bisa dijemput oleh keluarganya atau bisa naik ojek dengan biaya lima belas ribu rupiah.

“Jalur ini beberapa kali jarang saya pakai karena susah sekali terutama yang di angkutan pick up. Sering kehujanan juga. Saya lebih memilih jalur kedua yang meski lebih jauh, tapi angkutan umumnya lebih nyaman dan tersedia,” terangnya.    

Jalur ini membuat Indah harus melintasi kabupaten sebelah, Wonosobo. Jika mengambil jalur ini, Indah hanya akan satu kali berganti moda transportasi. Dari depan sekolahnya, Indah bisa menyetop bus umum jurusan Purwokerto – Wonosobo, atau jurusan Purwokerto – Semarang. Indah akan turun di Wonosobo dan berganti dengan bus kecil jurusan Wonosobo – Batur. Ia akan turun di pertigaan Pasurenan dan naik ojek ke depan rumahnya.

“Sebagai difabel low vision, tantangannya jadi lebih banyak. Kadang kalau pas ngadang bus, saya sering kelewat, karena baru bisa lihat bus kalau sudah dekat, tidak ketika masih jauh. Apalagi, bus yang Purwokerto – Wonosobo yang biasanya ngebut, saya jadi sering kelewat,” kata Indah.

Dengan waktu tempuh yang cukup lama, orangtua Indah mulai mempertimbangkan untuk menjemput Indah ketika akan pulang menjelang lebaran.

Memilih modifikasi motor sendiri

Lain halnya dengan Untung, ia lebih memilih memodifikasi motornya menjadi motor roda tiga untuk keperluan mudik lebaran maupun keperluan lainnya. Sebagai warga asli Cilacap yang sudah menetap di Banjarnegara, ia mengaku tidak setiap tahun melakukan mudik.

“Tidak setiap tahun, tergantung, karena sudah domisili sini. Kadang di sini, kadang di Cilacap,” ujarnya.

Ia mengaku ide untuk membuat motor modifikasi dulu terdorong oleh keinginan untuk mudik ke Cilacap beberapa tahun silam. Dengan jarak yang lumayan jauh antara Banjarnegara dengan Cilacap, menggunakan kendaraan pribadi adalah hal yang menurut Untung paling ekonomis.

“Kalau pakai kendaraan umum susah sekali apalagi saya pakai kursi roda begini. Dari sini ke pusat kota Banjarnegaranya saja sudah susah, apalagi harus ganti kendaraan menuju Kecamatan Maos di Cilacap, bisa ganti dua atau tiga kendaraan lagi,” ujarnya.

Dulu waktu anaknya masih satu, ia masih berani mengendarai motor modifikasinya beserta istrinya yang juga difabel. Sekarang, dengan anaknya yang sudah dua, ia mulai berpikir ulang kalau mau mudik ke Cilacap.

“Tidak tahu tahun ini akan mudik atau tidak karena anak ada dua dan kalau naik kendaraan motor modifikasi sepertinya berbahaya. Nanti cari jalan lain saja,” ujarnya.

 

Wartawan: Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.