Lompat ke isi utama
ilustrasi kapal pelni

Difabel Mudik Naik Kapal, Begini Tantangannya

Solider.id, Tiakur – Sebagai satu dari sedikit difabel yang saya kenal saat penempatan Indonesia Mengajar di Maluku Barat Daya, Nur Imamuddin adalah seorang pekerja keras. Lelaki asli dari Baubau Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara ini sudah lebih dari 10 tahun berada di Tiakur, Ibukota Maluku Barat Daya untuk berdagang pakaian. Sebagai orang asli suku Buton, darah perantau mengalir di nadinya. Sejak usia 15 tahun, ia sudah mengarungi ganasnya lautan untuk mencari tanah baru demi mendulang rupiah.

Kini beberapa hari menjelang lebaran. Bagi orang Buton yang ada di Maluku seperti Nur, pilihannya bisa mudik atau merasakan lebaran di Maluku. Saya mendengar pengalaman mudiknya sebagai difabel dengan moda transportasi kapal laut dua tahun yang lalu. Untuk kepentingan tulisan ini, saya kembali meneleponnya, menanyakan kabarnya dan meminta ia bercerita kembali.

Nur adalah seorang difabel daksa. Kaki kanannya diamputasi karena mengalami kecelakaan beberapa tahun silam. Kini ia menggunakan kruk atau tongkat ketiak untuk mobilisasinya. Meski memakai kruk, ia tetap bisa berkendara sepeda motor tanpa adanya modifikasi. Tahun ini ia berencana untuk tidak mudik.

“Sepertinya tahun ini tidak mudik karena tahun lalu sudah mudik. Apalagi, sudah tanggal segini. Sekarang jadwal kapal sedang simpang siur. Kalau mudik hari ini, bisa-bisa lebaran di kapal. Harus dua minggu sebelum lebaran kalau mau tepat waktu sampai Buton,” terangnya.

Nur paham betul perkara tidak jelasnya jadwal kapal di Maluku. Persoalan ombak dan letak geografis berupa kepulauan membuat masyarakat sering salah jadwal soal kapal perintis. Ia pun bercerita pengalaman-pengalaman mudik dengan kapal perintis milik perusahaan kapal berplat merah, Pelni, tahun lalu.

“Tahun lalu saat mudik lebaran, saya pakai dua kapal. Satu kapal yaitu Kapal Sabuk Nusantara 43 dari Tiakur ke Ambon. Lalu, lanjut KM Nggapulu jurusan Kaimana ke Makassar yang melewati Baubau,” ia memulai cerita.

Sebagai seorang difabel daksa, naik kapal di Maluku adalah sebuah penderitaan. Desain bibir dermaga yang tidak aksesibel ditambah dengan akses masuk ke kapal dengan menggunakan tangga besi sungguh membuat difabel seperti Nur kadang kesulitan.

“Kalau musim teduh (tenang) lebih mudah naik ke kapal karena gelombang laut biasanya bikin kapal tenang. Kalau lagi agak bergejolak, kapal biasanya goyang-goyang sedikit. Bagi orang yang tidak difabel itu tidak masalah, bagi saya yang difabel, yang hanya pakai satu kaki, bisa rentan jatuh ke laut,” terangnya.

Ia memang bisa berenang. Meski begitu, jatuh ke laut ketika kapal sedang menepi di dermaga bisa membuat orang tersangkut baling-baling kapal. Resikonya satu: mati. Nur sebenarnya punya opsi lain untuk menuju Ambon dari Tiakur.

“Ada pesawat perintis berpenumpang kurang lebih 30 orang. Tapi mahal sekali. Satu kali perjalanan bisa 1.5 juta sampai 1.8 juta. Sedangkan, beta (saya) harus bawa anak dan istri. Kalau kapal perintis hanya 48 ribu. Jauh lebih murah. Meski harus 3 hari di kapal untuk sampai Ambon,” ujarnya.

Tantangan belum usai ketika sudah naik kapal. Ada tiga dek ekonomi di kapal sabuk 43. Nur akan bersyukur kalau dek tengah masih ada yang kosong. Kalau sudah penuh, ia harus turun ke dek bawah dengan tangga besi.

“Harus hati-hati apalagi kalau ramai. Orang Maluku kan keras-keras. Kadang senggolan sedikit saja bisa jadi kelahi,” ujarnya tertawa.

Nur merasa desain kapal Pelni memang tidak menyesuaikan dengan kebutuhan difabel. Hanya ada satu kamar mandi bersama untuk para penumpang yang letaknya ada di dek bawah. Tingkat kebersihan kapal ekonomi ini juga cukup memprihatinkan. Dengan kamar mandi yang licin, Nur punya potensi terpeleset.

Setelah sampai Ambon, Nur harus mengganti kapal dengan KM Nggapulu jurusan Kaimana Makassar. Di banding Kapal Sabuk 43, KM Nggapulu memang jauh lebih baik. Meski masih bertangga besi untuk naik ke dalam kapal, struktur kapal yang besar memang membuatnya cukup tenang meski berada di lautan bergelombang. Selain itu, tiket sudah bertanda nomor tempat tidur sehingga tidak ada lagi saling rebut tempat tidur penumpang. 

“Untuk sampai Baubau kira-kira memakan waktu dua hari dengan harga tiket Rp. 168.000,” ungkap Nur.

Dengan segala tantangannya, Nur sudah berulang kali mudik menggunakan moda transportasi kapal laut ini. Alasannya satu: biayanya terjangkau dirinya. Ada harapan ia bisa mudik menggunakan pesawat terbang sehingga bisa lebih menghemat waktu.

“Kalau soal uang, naik kapal meski murah juga butuh biaya tambahan untuk makan di jalan. Jadi sebenarnya mending naik pesawat saja. Semoga ada rejeki untuk bisa mudik naik pesawat,” tutupnya.

 

Wartawan: Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.