Lompat ke isi utama
taman parkir Abu Bakar Ali Yogyakarta

Taman Parkir Abu Bakar Ali Sisakan Problematika bagi Difabel

Solider.id, Yogyakarta  -  Hingga saat ini, negara masih menempatkan difabel sebagai warga kelas dua. Hal ini terjadi pada berbagai kebijakan. Baik pada dunia pendidikan, ketenaga kerjaan, kesehatan, hukum dan berbagai sektor kehidupan lainnya. Bahkan, ketersediaan ruang parkir  bagi kendaraan difabel pun masih di nomor duakan. Tidak mudah difabel pengguna motor roda tiga menemukan ruang parkir bagi kendaraan mereka. Demikian pula keamanan dan kenyamanan difabel masih jauh dari perhatian.

Bermobilitas dengan motor modifikasi roda tiga, menjadi cara bagi difabel mengakses jalan raya.  Meski hingga saat ini belum juga ada perhatian pemerintah mengatur standarisasi modifikasi motor roda tiga. Terlepas dari masalah standarisasi, pengguna motor difabel juga masih kesulitan menemukan ruang parkir bagi kendaraan mereka (roda tiga). Meski di area parkir yang dibangun pemerintah sekalipun. Taman parkir portabel Abu Bakar Ali (ABA) sebagai contoh. Di tempat parkir  tersebut, space atau ruang parkir bagi kendaraan bermotor ditempatkan di lantai dua dan tiga. Adapun lantai satu adalah tempat memarkir bus wisata yang hendak mengakses kawasan Malioboro.

Penempatan ruang parkir di lantai atas ternyata menyisakan permasalahan bagi difabel, demikian pula dengan kelompok rentan lain (lansia, perempuan hamil, anak-anak). Bagaimana tidak? Setelah mereka memarkir kendaraan, untuk menuju ke bawah mereka harus menuruni anak tangga yang jumlahnya cukup banyak. Demikian pula ketika hendak mengambil kendaraan yang mereka parkir.  Lagi-lagi meraka harus mengakses tangga untuk mencapai ke lantai dua atau tiga. Bisa dibayangkan effort (usaha) lebih yang harus dilakukan difabel pengguna krug dan protesa. Lantas bagaimana dengan para difabel pengguna kursi roda? Mustahil bagi mereka dapat mengakses taman parkir tersebut. Sebab kursi roda mereka tidak mungkin dapat mengakses anak tangga.

Lebih mengenaskan lagi, ternyata lantai dua dan tiga area parkir ABA tidak memberikan ruang khusus bagi kendaraan difabel. Keadaan ini mengiyakan bahwa pembangunan area parkir ABA tidak melibatkan difabel. Menempatkan difabel sebagai warga yang diabaikan hak-hak dasar mereka.

Tidak aksesibel

Kondisi Taman Parkir ABA yang tidak aksesibel pernah dikeluhkan oleh Veronika Anik. Perempuan yang menjadi difabel akibat amputasi ini mengaku tidak berani memarikir motornya di ABA. Anik yang menggunakan protesa atau kaki palsu tidak berani mengendarai motor menuju lantai dua, apalagi lantai tiga. Terlebih ketika itu dirinya tengah hamil.

Demikian pula bagi Winarsih, perempuan difabel yang menggunakan kursi roda untuk bermobilitas. Dia menyatakan ketidak mungkinannya mengakses area parkir ABA. Pembangunan Taman Parkir ABA menurut dia tidak mempertimbangkan keberadaan warga difabel.

“Taman Parkir ABA sangat tidak aksesibel bagi saya dan pengguna kursi roda. Bagaimana mungkin kursi roda kami menuruni atau menaiki anak tangga? Pemerintah betul-betul tidak mempertimbangkan keberadaan kami warga difabel,” ungkap Winarsih.

Sangat disayangkan kebijakan pembangunan area parkir tidak mengikutsertakan atau melibatkan difabel. Sehingga difabel betul-betul ditempatkan sebagai warga kelas dua yang selalu luput dari perhatian.

Bagi Sukri Budhi Darma atau Butong, pria difabel pengguna tongkat. Dia mengatakan bahwa Malioboro memang tidak ramah bagi difabel fisik. Setelah pembangunan area parkir ABA yang tidak mudah diakses difabel, tidak pula disediakan kantong-kantong parkir motor roda tiga di kawasan Malioboro.

Kehilangan pekerjaan

Dirinya sudah pernah melakukan negoisasi saat hendak memarkir motor roda tiganya di dekat tempat dia bekerja. Namun demikian Butong mengaku tetap juga tidak diberikan izin memarkir motor di area dekat kantornya. Kesulitannya mengakses ruang parkir membuat dirinya memutuskan keluar dari pekerjaannya di toko oleh-oleh Bakpia Kedhaton, yang berada di kawasan pertokoan Malioboro.

Menanggapi problematika tersebut Kepala UPT Malioboro Ekwanto menyatakan bahwasanya, pembangunan area parkir ABA merupakan bentuk antisipasi atas tingginya volume kendaraan di Kota Yogyakarta. Selain itu juga merupakan bentuk penataan area parkir atas kebijakan Malioboro sebagai kawasan semi pedestrian.

Terkait kebutuhan kantong-kantong parkir di Kawasan Malioboro menurut dia memang saat ini belum ada pembahasan ke arah sana. Yang menjadi pemikirannya  adalah suttle bus yang dapat menjadi sarana bagi difabel menuju kawasan Malioboro dari Taman Parkir ABA.

Sedangkan ketidakmungkinan difabel pengguna kursi roda dan kesulitan difabel pengguna krud, tongkat, kaki palsu dan kelompok rentan lain mengakses area parkir ABA, Ekwanto mengatakan akan membahasnya dengan instansi yang  berkompeten menangani.  

Kota Yogyakarta yang memiliki cita-cita untuk menjadi kota yang inklusif dan ramah untuk difabel nampaknya masih jauh dari harapan. Kawasan Malioboro dan beberapa fasilitas pendukung yang berada di sekitarnya, seperti taman parkir Abu Bakar Ali ternyata masih menyisakan pekerjaan rumah untuk benar-benar memberikan fasilitas yang ramah bagi difabel. Pemerintah sudah semestinya bergerak dan melakukan inovasi agar semua kalangan dapat menikmati kota Yogyakarta yang sebenarnya sangat potensial untuk menjadi kota yang inklusif. keberagaman, keterbukaan, dan keramahan masyarakatnya nampaknya sudah cukup jadi modal awal untuk mewujudkan inklusifitas di kota Yogyakarta.

 

Wartawan : Harta Nining Wijaya

Editor        : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.