Lompat ke isi utama
Ilustrasi Tuli Mendongeng

Mendongeng Ala Tuli bersama Komunitas Tuli Mendongeng

Solider.id, Jakarta– Mendongeng tidak hanya bisa dilakukan dengan cara menuturkan melalui suara. Aktifitas mendongeng juga bisa dilakukan menggunakan bahasa Isyarat.

Mendongeng menggunakan bahasa isyarat ini dilakukan komunitas Tuli Mendongeng di kota Malang. Berangkat dari latar belakang pendidikan untuk anak Tuli di usia dini ini bertujuan untuk memberikan alternatif lain bagi masyarakat dan khususnya para orangtua dengar agar dapat mengedukasi anak Tuli.

Pada mulanya, komunitas Tuli Mendongeng muncul dari pertemuan tiga gadis di sebuah warung kopi. Mereka adalah Gadis Pratiwi, Rizka Azaria dan Mareta. Mereka membincangkan masing-masing kemampaun yang mereka miliki. Seperti Rizka mahir dan aktif mendongeng di Surabaya dan Gadis yang memiliki kemampuan berbahasa Isyarat dan cukup mengetahui budaya Tuli. Sedang Mareta membantu mencarikan Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Yayasan yang mau menerima mereka mendongeng.

“Saya sedang liburan summer sambil ambil data buat thesis,” kisah Gadis kepada Solider melalui pesan WhatApps. “Lalu kami berpikir untuk membuat sebuah komunitas yang dapat menyalurkan kemampuan kami,” lanjut mahasiswi yang tengah menempuh ilmu S2 di Master of applied linguistics, Universitas Monash.

Hingga obrolan selesai, mereka bertiga sepakat untuk membuat komunitas yang diberi nama Tuli Mendongeng. Selain aktifitas mendongeng di SLB dan Yayasan, komunitas Tuli Mendongeng juga membuat forum belajar Tuli untuk mendongeng. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya.

“Walau status anak baru, kami pun tetap menggerakan langkah kecil kontribusi untuk mereka Tuli bisa berkarya melalui dongeng,” tutur Gadis.

Dari forum tersbeut kemudian, komunitas Tuli memilih satu Tuli untuk mendongeng di SLB Idayu 2 di Pakis. Dukungan yang positif dari guru SLB, mereka semakin mantap melanjutkan program mereka. “Dengan rasa syukur, karena support guru sangat baik terhadap komunitas kami, dan anak-anak terutama anak-anak Tuli sangat antusias menyambut program kami,” kata Gadis.

Meski begitu, Gadis menjelaskan ada beberapa kendala yang emsti mereka hadapi. Seperti sistem komunikasi mahasiswa Tuli yang terbiasa menggunakan Bisindo, sedangkan anak-anak SLB menggunakan SIBI. Sehingga penerjemahan Bahasa isyarat membutuhka proses dua kali jadi.

“Pendongeng (Tuli) menggunakan Bisindo, lalu ada volunteer Tuli lainnya yang menggunakan SIBI untuk menjelaskan ulang ke siswa Tuli, agar pemahaman mereka untuk menyerap nasihat tersirat didongengi oleh Tuli,” terang Gadis.

Membangun Literasi Dongeng untuk Tuli di Indonesia

Menurut Gadis, banyak organisasi tuli aktif memperjuangankan Bisindo dan memberikan kepedulian terhadap budaya Tuli. Sebagian besar aktivis Tuli mulai sadar pentingnya bahasa isyarat. Hal inilah yang menurutnya menjadi modal untuk membangun literasi dongeng bagi Tuli. Di sisi lain, peran “orang dengar” juga menjadi dukungan penting bagi literasi.

Literasi mendongeng untuk Tuli sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi para orangtua dengar yang memiliki anak Tuli. Mereka dapat mempelajari metode mendongeng dengan menggunakan bahasa isyarat kepada anak Tuli saejak dini. Mulai dari mengajarkan nilai-nilai moral, pendidikan karakter, dan membangun imajinasi.

“Tugas orangtua mendongeng kepada anak sebelum tidur. Ketika anak sudah bertumbuh besar, maka mereka akan penasaran tentang buku dan mendorong minat baca buku,” papar Gadis. Dia mengaku, hal tersebut berangkat dari pengalamannya sendiri ketika sewaktu kecil ayahnya sering mendongeng untuknya. Hasilnya, dia suka membaca buku dari kecil.

Gadis berpandangan, pendidikan inklusi di Indonesia terkhsusus Tuli belum merata. Walaupun pemerintah sudah memberikan banyak regulasi tentang pendidikan inklusi, dan kebijakan bahwa sekolah harus menerima semua anak termasuk anak disabilitas, namun kenyatannya sekolah masih banyak yang belum siap.

Menurut Gadis, lembaga pendidikan masih kekurangan tenaga ahli, utamanya pendidikan di SLB. Sampai sekarang pendidikan SLB masih memakai metode isyarat SIBI, sedangkan kita tahu sendiri SIBI adalah Bahasa Indonesia yang diisyaratkan. Padahal, Bahasa Isyarat jelas berbeda dengan Bahasa Indonesia dalam hal struktur kalimat. Penggunakan SIBI dan bahasa bibir pada SLB seperti memaksakan Tuli untuk menjad orang dengar.

Gadis sangat mengagumi kesiapan Australia yang sudah memberikan akses yang luas bagi Tuli. Seperti sudah ada ribuan professional Australian sign language (Auslan) interpreter yang dilatih Lembaga bernama NAATI bertingkat nasional. Pemerintah Australia juga langsung memberikan dana kepada sekolah dan Universitas untuk menyediakan Auslan interpreter.

Praktik baik lain dijelaskan Gadis dari pengalamnnya mendaftar kelas di Auslan. Di sana, dia diajari oleh mentor Tuli dari Australia langsung tanpa ada penerjemah. Hal tersebut berbeda ketika dia mengikuti kelas yang diselenggarakan Akartuli, akan ada Tuli dan penerjemah. Dia merasakan seperti ada di dunia Tuli karena kelas benar-benar tidak ada suara. Semua fokus pada guru Tuli. Menurutnya sungguh menarik, karena pelatihan Bisindo biasanya diawali dengan abjad dan angka.

Gadis menjelaskan ada beberapa perbandingan di kelas Auslan, pertama peserta murid kelas isyarat diajari logika Tuli yang berbeda dengan orang dengar. “Lalu diajari bertanya siapa namamu - name, who? Lalu diajari menunjuk (atas, bawah, kiri, kanan) dengan Auslan. Setelah itu baru belajar abjad dan angka,” imbuhnya. Di mana materi penjelasan tersebut dapat diakses di Portal Auslan.

Sedangkan konteks di Indonesia menurut Gadis, masih dalam fase memperjuangkan Bisindo di dalam lemabaga pendidikan. Di samping itu, pemerintah belum menyediakan anggaran secara langsung kepada institusi Pendidikan. Perihal anggaran tersebut yang senantiasa menjadi alasan beberapa institusi Pendidikan untuk tidak menyediakan akses untuk Tuli, karena kendala dana. Meski begitu, dia mengapresiasi Universitas Brawijaya yang menyediakan akses Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk Tuli tanpa anggaran dari pemerintah.

Gadis berharap untuk teman-teman Tuli jangan putus semangat memperjuangkan hak-hak Tuli. Dan jangan lupa meningkatkan literasi dengan membaca. Untuk anak-anak bisa dimulai dengan dongeng.[]

 

Reporter: Dina Amalia Fahima

Editor: Robandi

The subscriber's email address.