Lompat ke isi utama
Sri Mulyani, Hafid dan foto keluarga kecilnya.

Cerita Ibu yang Melahirkan Difabel dan Upaya Pencegahan Postpartum Depression

Solider.id, Surakarta- Postpartum Depression (depresi pasca melahirkan) adalah masalah kesehatan yang biasanya terjadi pada perempuan setelah melahirkan. Umumnya perempuan akan merasa senang akhirnya bertemu dengan buah hati saat melahirkan, namun pada beberapa orang justru muncul perasaan sedih, cemas, dan depresi. Kondisi ini disebut dengan baby blues. Menurut penelitian, 30-70 persen perempuan mengalami baby blues usai melahirkan, sedangkan satu dari tujuh di antaranya mengalami postpartum depression. Risiko ini akan meningkat pada perempuan yang sudah mengalami cemas dan depresi saat kehamilan dan kurang mendapat dukungan sosial. Atau pernah memiliki riwayat depresi sebelumnya atau memilki anggota keluarga yang pernah mengalami depresi. Meski belum ada data yang jelas,ibu yang melahirkan anak difabel atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) rentan memiliki risiko postpartum depression.

Sri Mulyani, ibu dari Hafid (13) siswa kelas 5 SD SLB YPAC yang beralamat di Semanggi Solo, menceritakan kepada Solider tentang pengalamannya setelah melahirkan Hafid. Sri Mulyani tidak mengalami suatu hal yang membuat stress karena ia baru tahu diagnosa bahwa Hafid mengalami down syndrom setelah bayinya tersebut berumur dua bulan. “Tahunya dari dokter spesialis anak. Kemudian dunia serasa runtuh. Saya menangis setiap hari, setiap melihat bayi saya. Saya merasa bingung dan resah, bagaimana nanti jika ia besar,” terang Sri Mulyani.

Dari keadaan shock, stress, dan segala kecemasan, Sri Mulyani akhirnya menerima dan mensyukuri bagaimanapun keadaan Hafid. Suami dan keluarga besarnya memiliki peran dalam pendampingan di saat Hafid bayi. Kemudian ketika Hafid berusia tiga bulan, Sri Mulyani dan suami mulai menerapikan Hafid. Terapi ke rumah sakit dijalani hingga Hafid berusia 8 tahun. Sri Mulyani kemudian juga bergabung dengan komunitas-komunitas yang didirikan oleh para mahasiswa yang memberikan terapi gratis seperti Autis Center Indonesia (ACI) dan komunitas CANDA dan Senyum. “Hafid saat ini tumbuh setara dengan anak lainnya, memang kami masih melatih keterampilan baca dan tulisnya,” ujar Sri Mulyani.

Lain lagi pengalaman Listri, ibunda Haikal, hydrocephallus, warga Polokarto Sukoharjo. Saat menyadari bayi Haikal mengalami hydrocephallus di usia empat bulan, ia merasa sedih teramat sangat. Listri menangis saban hari. Karena  diagnosa baru dia dapat saat bayinya usia empat bulan, dikarenakan hasil scan terjadi perdarahan kecil di otak Haikal karena terkena alat vacum saat lahir. “Saya menangis bukan karena menyesal, tetapi merasa tidak tega saja, anak kecil sudah merasakan sakit yang luar biasa,” terang Listri. Saat ini usia Haikal 5 tahun 8 bulan dan Listri rutin mengantar Haikal untuk menerima terapi di RS Dr. Moewardi. “Beruntung saya langsung sadar diri, bahwa kesehatan Haikal lebih penting dari kesedihan saya sehingga dengan dukungan suami dan keluarga besar, kesedihan tersebut berangsur hilang dan yang tinggal adalah semangat dan semangat membesarkan Haikal,”terang Listri.

Listri juga bercerita tentang progress Haikal yang semakin baik dan saat ini dirinya ditunjuk sebagai pengurus sanggar inklusi di Polokarto. Setelah dia dan kawan lainnya mendirikan sanggar inklusi sebagai salah satu sarana terapi, harapannya stigma masyarakat terhadap ABK mulai terkikis. 

Ada perbedaan antara baby blues dan postpartum depression yakni pada baby blues terjadi dalam waktu lebih singkat, tidak lebih dua minggu meski tetap dibutuhkan dukungan dari suami, keluarga dan teman. Sedangkan postpartum depression bisa terjadi berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan bila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan gangguan dalam kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari. Postpartum depression memilki gejala yang hampir mirip baby blues : kehilangan kesenangan dan semangat di bidang yang sebelumnya disukai, mengalami kecemasan/kepanikan terus-menerus, merasa bersalah, tidak berguna, menyalahkan diri sendiri dan mudah tersulut amarah, merasa sedih yang mendalam, memiliki kekhawatiran akan menjadi ibu yang tidak baik, susah tidur, kesulitan mengingat dan membuat keputusan, dan memilki pemikiran untuk melukai bayi.

Postpartum depression disebabkan oleh banyak hal yakni gabungan antara faktor fisik dan emosi, dan kadar hormon estrogen serta progesteron yang menurun drastis usai melahirkan. Hal ini yang menyebakan perubahan mood secara ekstrim. Juga faktor kelelahan dan stigma masyarakat yang menyinggung perasaan dan menimbulkan perubahan emosi pada ibu. Apalagi jika si ibu melahirkan anak difabel/ABK, maka masyarakat awam menstigma buruk pada si ibu, dan banyak yang mengkaitkannya dengan azab atau hukuman. Hingga saat ini stigma negatif yang melekat pada ibu yang melahirkan anak difabel/ABK sebagai bentuk diskriminasi sosial. Keadaan yang demikian bisa jadi membuat si ibu mengurung diri dan bahkan mengurung anaknya sehingga tidak bersosialisasi di luar rumah, bahkan kamar. Hal itu tidak terjadi pada Sri Mulyani dan Listri, dua ibu yang melahirkan ABK, karena kesadaran suami dan keluarga akan pendampingan ada. Sehingga keadaan keadaan baby blues segera bisa teratasi dan menghadapi hidup di masa depan dengan penuh keyakinan. 

Dra. Anisa Cahya Ningrum, M.Psi (Psikolog) kepada Solider dalam sebuah perbincangan dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Maternal belum lama ini mengatakan bahwa beberapa faktor pelindung untuk mencegah terjadinya postpartum depression adalah dengan memperkuat faktor pelindung dari diri sendiri, mindset atau pikiran bahwa seorang ibu diajarkan untuk tangguh, faktor keluarga terutama suami, dukungan fisik, atau tenaga serta bantuan secara psikologis. Dukungan pelindung juga bisa datang dari komunitas yang bisa menjadi tempat curhat atau bercerita sehingga mengurangi beban. Menurut Anisa Cahya, upaya penanganan yang bisa dilakukan adalah secara preventif dengan mencegah timbulnya masalah dan kambuhnya, dengan mengantisipasi diri sendiri, dan keluarga serta penanganan medis oleh psikiater. Penanganan lainnya adalah dengan mengedukasi kepada masyarakat adanya awareness (kesadaraan/kepedulian) dengan bentuk sosialisasi dan menghindari pemicu serta menyediakan bantuan fisik dan psikologis dari keluarga.

 

Wartawan: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.