Lompat ke isi utama
Ilustrasi empat orang sedang belajar bahasa isyarat

Dua Langkah Orangtua Mengenalkan Isyarat untuk Tuli di Usia Dini

Solider.id,Jakarta- Salah satu faktor pendukung komunikasi bahasa isyarat anak Tuli adalah keluarga. Keluarga menjadi katalisator paling efektif bagi pembelajaran anak Tuli, khususnya saat di usia balita. Di fase ini, anak Tuli mencermati bahasa alamiah dari aktifitas sehari-hari dengan keluarganya.

Hal itu dibahas dalam sebuah artikel dari portal media Aussie Deaf Kids tentang bagaimana cara anak-anak Tuli belajar bahas isyarat. Riset hasil dari kerjasama para peneliti Australia dengan peneliti luar tersebut juga memaparkan ciri khas bahsa isyarat Auslan, bahasa isyarat Amerika (ASL) dan bahasa isyarat Inggris (BSL).

Hasil riset menunjukkan, bagi orangtua yang memiliki anak Tuli secara sadar ataupun tidak, terdapat aktifitas berkomunikasi sama halnya dengan balita dengar ketika diajari suatu kata kaitannya dengan suatu benda.

Orangtua, biasanya berusaha menandai sesuatu baik dengan suara ataupun dengan geraakan tangan untuk menunjukkan arti dari suatu benda tersebut kepada anaknya. Tujuannya, untuk menyesuaikan cara berkomunikasi mereka. Riset menunjukkan anakpanak Tuli yang belajar bahasa isyarat sama halnya dengan ia belajar berkomunikasi seperti pada umumnya. Anak Tuli di usia dini yang sudah bisa berbahasa isyarat alamiah ini biasa disebut sign language baby.

Sign language baby didukung oleh peran keluarga yang senantiasa memperkaya kosa kata melalui berbagai metode pembelajaran. Seperti memperkenalkan ikon logo atau gambar untuk meningkatkan ketajaman visualnya.

Contohnya mendekripsikan gambar sebuah tong sampah, orangtua menggerakkan tangan dengan gestur pura-pura membuang sampah pada wadah atau ketika bertemu kucing di jalan,  orangtua harus bertanya bagaimana isyarat kucing kepada salah satu individu anak Tuli. Hal itu untuk melatih logika pikir anak-anak Tuli mengenal berbagai macam benda. Metode ini sangat berbeda dari bahasa lisan, di mana bunyi sebagian besar kata tidak memiliki tautan ke artinya daripada gerakan.

Hal itu pernah muncul pada kisah hidup Helen Keller, seorang anak Tuli yang diajar oleh seorang guru bernama Anne Sullivan. Ketika Helen di usia balita, Anne lebih banyak mengenalkan berbagai benda dengan gestur tangan, meraba dan ekspresi wajah. Hasilnya, baik Anne ataupun Helen menemukan berbagai kosa kata bahasa isyarat sendiri dalam komunikasinya sehari-hari.

Sebagaimana anak-anak pada umumnya sering menirukan hal apapun dari apa yang ia tangkap. Anak-anak Tuli juga terbiasa dengan gerakan-gerakan tangan dan mencermatinya. Meski memang, bagi orangtua dengar hal ini akan jauh adri kebiasaannya berkomunikasi dengan orang dengar. Hal yang penting konsisten belajar memahami dan menghargai hak bahasa isyarat anak Tuli tanpa paksaan dan tekanan. Tujuannya untuk menghindari depresi atau stress baik orangtua ataupun anak-anak Tuli itu sendiri.

Upaya lain bisa dilakukan oleh orangtua Tuli dengan mengikuti kelas belajar bahas isyarat. Proses tersebut menjadi dasar bagi orangtua untuk memahami lebih awal komunikasi anak tuli di usia dini. Di ruang tersebut juga menadi pertukaran kosa kata bahasa isyarat dengan para orangtua lain.

Di samping beberapa proses di atas, orangua Tuli juga bisa menggunakan dua cara berikut ini:

Pertama, bagi orangtua dengar wajib aktif mengajarkan setiap kata per kata dalam berbahasa isyarat bagi anak Tuli dengan gestur atau gerakan. Hal itu akan menarik anak-anak Tuli untuk menirukan dan semakin banyak menerima tanda-tanda baru ke dalam daftar kosa kata mereka.

Anak-anak Tuli mengumpulkan tentang berbagai macam kosa kata isyarat yang mereka  menghasilkan dari tanda-tanda. Para orangtua bisa memulainya dengan mengenalkan keluarganya seperti kakak, adik, perempuan, laki-laki dan lain sebagainya.

Jika gerakan bahasa isyarat yang kurang tepat orangtua bisa mengoreksi di hadapan anak Tuli. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengartikulasi suara terkait intonasi nada tinggi dan rendah dengan situasi lingkungan, baik formal ataupun informal. Agar komunikasi didasari etika dan adab berbahasa isyarat benar dan sopan.

Kedua, mulai ,mengkombinasikan dua kata yang muda dipahami untuk anak Tuli berusia dua atau tiga tahun. Hal itu untuk mendorong tingkatkan pengetahuan mereka dalam berkomunikasi. Semisal “suka kucing” atau ‘’cari sepatu” dan Lain sebagainya.

Proses tersbeut terus berlangsung sampai tahap kemampuan anak Tuli dalam menampung kosa kata yang sudah diajarkan. Tahapan ini untuk memungkinkan orangtua mengajarkan anak Tuli dalam satu kalimat utuh.

Untuk mengetahui fase tersebut, orang tua bisa menanyakannya dengan cara anggukan kepala yang menunjukkan “iya” atau “tidak’. Selanjutnya, berikan kesempatan bagi anak-anak Tuli untuk bertanya lagi tentang berbagai benda sambil mengkombinasikan dua kata.

Melalui tahap tersebut, pada usia lima tahun anak-anak Tuli akan dapat memahami sebagian besar tata bahasa dasar yang sudah dipelajari. Meskipun perlu beberapa tahun lagi sebelum semua aspek bahasa dipelajari sepenuhnya. Namun,tidak boleh berhenti belajar kosa kata baru terus berlanjut sepanjang mereka aktif berbahasa isyarat.

 

 

Reporter: Dina Amalia Fahima

Editor: Robandi

The subscriber's email address.