Lompat ke isi utama
ilustrasi menggunakan e learning untuk aksesibilitas

E-Learning Optimalkan Pembelajaran Difabel di Universitas

Solider.id, Yogyakarta - 16 Mei minggu lalu, tepat saat peringatan hari aksesibilitas global, perusahaan teknologi terkemuka Google baru saja meluncurkan aplikasi Live Transcribe. Aplikasi ini bertujuan untuk membantu Tuli dalam hal berkomunikasi. Cara kerja aplikasi ini adalah perangkat lunak  ini akan menerjemahkan suara menjadi teks yang dapat diakses oleh Tuli.

Membaca informasi peluncuran aplikasi yang dilakukan oleh Google tersebut, membuat saya teringat mengenai makalah yang pernah saya tulis dan saya presentasikan di The 2nd International Conference Indoeduc4all, sebuah  konferensi internasional yang mendiskusikan  masalah-masalah  pendidikan tinggi inklusi. Lalu, apa kaitannya makalah saya dengan peluncuran aplikasi Live Transcribe oleh Google? Kebetulan makalah yang saya tulis tersebut adalah makalah yang membahas mengenai optimalisasi E-learning dalam mewujudkan pembelajaran yang inklusif di sebuah universitas.

Makalah yang saya tulis tersebut mendiskusikan beberapa hal yaitu pengalaman mahasiswa difabel dari beberapa universitas yang ada di Yogyakarta terkait penggunaan e-learning, masalah-masalah yang dihadapi, dan diakhiri dengan rekomendasi yang bertujuan untuk mewujudkan pembelajaran yang akomodatif bagi setiap mahasiswa. Saya merasa hal ini sangat penting karena dalam konteks kehidupan sehari-hari, kelompok difabel telah banyak menikmati kemajuan teknologi. Oleh karenanya, menjadi penting untuk melihat sejauhmana kemajuan teknologi memberi dampak bagi mahasiswa difabel dalam pembelajaran di universitas.

Pengalaman Mahasiswa Difabel dalam Penggunaan E-learning

Ada tiga mahasiswa difabel dari tiga universitas berbeda di Yogyakarta yang saya wawancarai dalam penulisan makalah tersebut. Masing-masing berasal dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Ketiganya memberikan pandangan yang tidak jauh berbeda mengenai pengalaman mereka dalam menggunakan e-learning selama berkuliah di kampus masing-masing.

Setidaknya ada tiga hal yang dihasilkan dari wawancara bersama tiga mahasiswa difabel tersebut. Pertama, masing-masing universitas tersebut telah memiliki platform e-learning. Kedua, mereka mengaku bahwa e-learning cukup membantu mereka dalam aktivitas pembelajaran, meski pun tidak sepenuhnya menghilangkan hambatan. Ketiga, ini yang harus menjadi poin evaluasi, tidak banyak kegiatan belajar mengajar di universitas yang menggunakan e-learning.

Melihat fakta-fakta tersebut, sesungguhnya dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi yang diwujudkan dalam e-learning juga dapat menunjang aktivitas pembelajaran bagi kelompok mahasiswa difabel. Namun sayangnya platform e-learning yang dimiliki oleh masing-masing universitas diatas belum digunakan secara optimal. Alhasil mahasiswa difabel terkadang masih menjumpai hambatan yang sesungguhnya dapat dihilangkan dengan penggunaan e-learning.

Contoh hambatan yang dapat dihilangkan dengan hadirnya e-learning ini adalah kesulitan mahasiswa difabel netra dalam mengakses materi berbentuk cetak, dapat diatasi dengan penyediaan materi yang dapat diakses melalui e-learning yang kemudian dapat diterjemahkan oleh aplikasi pembaca layar. Selain itu, hambatan Tuli untuk memahami materi perkuliahan yang disampaikan secara lisan, dapat sedikit terbantu dengan penyediaan materi melalui e-learning sebelum kuliah, sehingga mahasiswa Tuli telah mengetahui terlebih dahulu mengenai topik yang akan didiskusikan di kelas pada kuliah berikutnya.

Optimalisasi E-learning untuk menyediakan pembelajaran yang akomodatif

Ada dua hal yang setidaknya harus dilakukan untuk menciptakan pembelajaran berbasis e-learning sehingga dapat memudahkan mahasiswa difabel. kedua hal tersebut meliputi kebijakan hingga hal yang bersifat teknis.

Pertama, adanya kebijakan dari universitas yang mewajibkan setiap aktivitas pembelajaran menggunakan e-learning. Kebijakan seperti ini akan meningkatkan kemauan dosen untuk menggunakan e-learning dalam pembelajaran. Kebijakan ini sesungguhnya bukan hanya akan menguntungkan mahasiswa difabel, tetapi juga mahasiswa nondifabel.   Dengan keberadaan e-learning, mahasiswa nondifabel juga dapat mengakses materi melalui platform e-learning. Dalam konteks ini, kebijakan ini dapat mendudukkan posisi antara mahasiswa difabel dan mahasiswa nondifabel menjadi benar-benar setara dengan kebijakan tersebut.

Kedua, pembuatan dan perawatan platform e-learning harus mematuhi panduan Website Contain Accessibility Guideline (WCAG). WCAG adalah panduan standar dalam pembuatan dan perawatan website  yang memperhatikan aspek aksesibilitas bagi difabel. Dengan adanya platform-platform e-learning seperti WCAG tentu mahasiswa difabel akan semakin mudah dalam menggunakan platform e-learning. Hal yang bersifat teknis seperti ini menjadi penting karena kerap kali sebuah website dibuat tanpa mempertimbangkan aspek akssesibilitas bagi difabel, sehingga kemajuan teknologi yang sesungguhnya dapat dinikmati oleh kelompok difabel, menjadi tidak sepenuhnya terrealisasi akibat diabaikannya hal teknis seperti ini.

 

Penulis: Tio Tegar

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.