Lompat ke isi utama
ilustrasi buku braille di perpustakaan

Difabel Terhambat Akses buku, ini Solusi Pemecahannya

Solider.id, Yogyakarta - Sejak Tahun 2002, tanggal 17 Mei setiap tahunnya selalu diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Peringatan  ini bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia.

Salah satu kelompok masyarakat Indonesia yang tidak lepas untuk berinteraksi dengan buku adalah kelompok mahasiswa. Aktivitas seperti membaca, membuat rangkuman, bahkan melakukan review terhadap buku-buku yang menjadi bahan-bahan perkuliahan tentu akrab bagi kehidupan kemahasiswaan. Namun, aktivitas-aktivitas tersebut tidak serta merta dapat dilakukan oleh semua mahasiswa dengan mudah.

Kelompok mahasiswa difabel merupakan golongan mahasiswa yang kerap kali menjumpai hambatan-hambatan saat akan melaksanakan  aktivitas yang berkaitan dengan mengakses bacaan buku. Terkait hal ini, beberapa kategori difabilitas memiliki hambatannya masing-masing.

Mahasiswa difabel netra yang memiliki hambatan dalam hal pengelihatan adalah kategori difabel yang paling mudah diasosiasikan dengan hambatan mengakses buku. Sebabnya jelas, mahasiswa difabel yang tidak mampu maembaca dengan menggunakan mata, secara otomatis akan kesulitan membaca buku-buku pada umumnya yang tersedia dalam versi buku cetak. Minimnya ketersediaan buku-buku berformat audio, elektronik, maupun braille jelas menjadi hambatan utama bagi difabel netra untuk mengakses buku.

Tidak berhenti sampai disitu, keberadaan perpustakaan yang tidak memperhatikan aspek aksesibilitas bagi kelompok difabel juga menambahkan daftar panjang hambatan yang telah ada sebelumnya. Aspek aksesibilitas yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya terkait dengan kemudahan dalam bentuk fisik seperti aksesibilitas gedung, tetapi juga mencakup pemahaman petugas perpustakaan dalam melayani difabel dan adanya aturan-aturan yang tidak memperkenankan peminjaman buku-buku tertentu yang mana tanpa dilakukannya peminjaman, kelompok difabel tidak mampu mengakses buku tersebut akibat minimnya aksesibilitas dalam perpustakaan.

Terkait hambatan di perpustakaan ini, sesungguhnya bukan hanya mahasiswa difabel netra yang mengalaminya. Mahasiswa difabel pengguna kursi roda tentu juga akan terhambat untuk mengakses buku, karena pusat ketersediaan buku biasanya terdapat di perpustakaan. Difabel pengguna kursi roda memang dapat mengakses buku cetak pada umumnya yang beredar, tapi hambatan aksesibilitas di perpustakaan menjadikan difabel pengguna kursi roda juga mengalami kesulitan untuk mengakses buku. Belum lagi mengingat kondisi toko buku di Indonesia yang terkadang juga sulit diakses oleh kelompok difabel.

Akibatnya kelompok mahasiswa difabel kerap kali mengalami hambatan dalam mengerjakan tugas-tugas perkuliahan sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini. Pekerjaan seperti review literatur, membuat makalah, bahkan hingga mengerjakan tugas akhir berpotensi terhambat. Meski pun saat ini penggunaan buku elektronik mulai dikembangkan, tapi hal itu tidak sepenuhnya mampu menghilangkan hambatan yang ada, mengingat ketersediaan buku elektronik yang tidak senbanyak buku konfensional.

Solusi bagi Mahasiswa Difabel Agar dapat Mengakses Buku

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa difabel untuk dapat mengakses buku seperti mahasiswa lainnya. Kemunculan beberapa alternatif ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi yang  berkontribusi besar dalam membantu difabel untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya dianggap sulit dilakukan oleh difabel.

Pertama, Mencari buku via toko buku online. Berkembangnya teknologi informasi menjadikan aktivitas perdagangan yang dulunya dilakukan secara konfensional secara tatap muka, kini berubah menjadi online. Hal ini tidak terkecuali penjualan buku. Fenomena ini memberikan keuntungan bagi kelompok difabel, mengingat terkadang gedung perpustakaan dan toko buku konfensional sulit diakses oleh kelompok difabel. Melalui cara ini difabel yang hendak membaca buku, bisa memperoleh buku sesuai kebutuhannya hanya dengan menunggu kiriman buku yang telah dipesannya.

Kedua, scanning buku. Cara kedua ini khusus untuk mahasiswa difabel netra. Scanning buku harus dilakukan karena buku-buku konfensional sulit diakses oleh difabel netra. Scanning buku dapat dilakukan dengan mudah yakni dengan hanya memiliki laptop dan mesin scanner. Melalui cara ini, difabel netra dapat mengalihmediakan tulisan dalam buku yang berbentuk hardcopy menjadi tulisan softcopy. Setelah tulisan dialihmediakan, kawan-kawan difabel netra dapat membaca buku dengan

Ketiga, melakukan penelusuran secara online. cara ketiga ini adalah cara yang paling mudah dilakukan oleh semua orang. Bukan hanya kelompok difabel. kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan  bagi para mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Penelusuran secara online ini dapat dilakukan dengan menelusuri situs-situs penyedia karya ilmiah seperti Google Scholar (scholar.google.com) dan Science Direct (sciencedirect.com). kedua situs tersebut menjadikan berbagai referensi yang dapat dimanfaatkan seperti buku-buku elektronik, jurnal nasional mau pun internasional, dan karya-karya ilmiah lainnya.

Menurut pengalaman penulis yang juga masih berstatus sebagai seorang mahasiswa, penggunaan situs-situs ini cukup efektif untuk menunjang aktivitas penulis sebagai seorang mahasiswa difabel netra.

 

Penulis: Tio Tegar

Editor:   Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.