Lompat ke isi utama
ilustrasi lagu merakit dari youtube

Yura Yunita dan Inovasi Musisi Tanah Air Terkait Hak Akses bagi Tuli

Solider.id, Bandung – Musik salah satu unsur seni budaya yang turut mewarnai alur kehidupan manusia. Istilah musik dapat menyatukan dan menghargai perbedaan rupanya mulai merambah kepada pengertian inklusifitas. Beberapa musisi di tanah air mulai memberikan celah aksesibilitas unsur musiknya untuk masyarakat difabel. Seperti kepada difabel yang memiliki hambatan pendengaran atau Tuli, dan juga difabel dengan hambatan penglihatan atau Netra.

Sebut saja, musisi senior Dewi Sandra bersama musisi lainnya yang melantunkan ‘Cahaya dalam Sunyi’ (2018) dengan memberikan aksen bahasa isyarat.

Dan, saat ini musisi belia Yura Yunita hadir menambahkan versi bahasa isyarat lengkap dengan teks lirik dalam lagu andalannya berjudul ‘Merakit.’ Dalam versi bahasa isyarat-nya, Yura menggaet langsung tokoh difabel Tuli sebagai model sekaligus penuang lirik kedalam gerakan bahasa isyarat bisindo bersama dirinya.

Pada pembuatan video klip versi universal sebelumnya dari judul lagu yang sama, musisi ini pun mengajak para difabel Netra sebagai backing vokal.

Dituturkan Dera Sofiarani, salah seorang difabel Netra  yang masih berstatus sebagai mahasiswi sebuah kampus di Bandung, memiliki kesempatan menjadi backing vokal musisi ternama merupakan hal yang sangat menyenangkan. Ia berharap, keterlibatan  difabel dalam bidang musik yang digaungkan oleh para musisi handal seperti ini, dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara yang ramah terhadap masyarakat difabelnya.

Ragam tanggapan dari masyarakat difabel Tuli yang telah mengetahui adanya musisi tanah air yang mulai menggunakan bahasa isyarat hampir memiliki kesamaan pendapat. Mereka merasa senang dapat ikut mengetahui makna dari lagu yang dinyanyikan, dengan mengubahkanya ke dalam bentuk bahasa isyarat dan teks yang dapat dibaca. Melalui gerak tubuh yang diperagakan dan bahasa isyarat yang dipahami, difabel Tuli mampu turut merasakan keindahan sebuah musik.  

Patut Dijadikan Contoh

Para  musisi yang sudah mulai dapat berkolaborasi secara langsung dengan difabel, bahkan meningkatkan pemahamannya terhadap aksesibilitas masyarakat difabel mungkin belum banyak. Namun, mereka yang mulai bergerak, dan mau menyajikan sebuah karya dengan menuangkan unsur inklusi yang dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali oleh masyarakat difabel Tuli, memang layak untuk dijadikan sebagai contoh budaya seni yang menyatukan serta menghargai perbedaan.

Dukungan dan peran media sebagai alat atau ruang yang memfasilitasi publikasi dari sebuah karya seni seperti dibidang musik pun sangat dibutuhkan.

Mengutip tulisan Adhi Kusumo Bharoto, dalam buku Keberpihakan Media terhadap Difabel yang menyoroti aksesibilitas Tuli dan media, ia memaparkan, seperti manusia lain pada umumnya, masyarakat Tuli membutuhkan akses terhadap informasi, salah satunya melalui media.

Adhi menyoroti, baik secara devinisi dan jenisnya media (Media visual, media audio, media audio visual) belum sepenuhnya ramah terhadap Tuli. Masyarakat mayoritas memperoleh informasi melalui indera pendengaran dan vokal, sedangkan masyarakat Tuli memperoleh informasi melalui indera penglihatan dan gerakan gestural (Tangan, wajah, tubuh). Perbedaan tersebut memengaruhi akses terhadap informasi melalui sarana media sebagai salah satu hak yang harus terpenuhi.

Kehadiran karya musisi tanah air menciptakan musik dalam balutan bahasa isyarat, perlu mendapatkan dukungan dari media sebagai penyampai informasi kepada masyarakat luas. Terlepas dari fungsi media sebagai partner promosi, bentuk publikasi yang sifatnya menyebar luaskan sebuah karya unik, kreatif dan inovatif dengan merujuk kepada inklusifitas diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran serta pengetahuan tambahan terkait aksesibilitas masyarakat difabel, khususnya Tuli.

Harapan lainnya, akan lebih banyak lagi karya musik atau karya lainnya yang turut mampu memperhatikan kebutuhan masyarakat difabel secara menyeluruh, termasuk dengan ragam kedifabelan yang dimilikinya.  

Selain menjadi sesuatu aksesibilitas yang baru bagi masyarakat difabel Tuli. Sebuah karya yang inklusi, akan melepuh tanpa adanya peran media untuk menyebar luaskan kepada seluruh masyarakat yang ada. Dengan munculnya karya bertajuk bahasa isyarat, sekaligus menandakan keberdaan masyarakat difabel Tuli diakui secara hak dalam mendapatkan akses yang menjadi kebutuhannya.  

Perlindungan terhadap karya inklusi.

Untuk setiap orang yang memiliki karya cipta inklusi dan kesetaraan bagi masyarakat difabel, memiliki perlindungan tersendiri dari pemerintah. Selain perlindungan hak cipta atau perlindungan terhadap kekayaan intelektual yang dihasilkannya.

Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Hak Disabilitas pada bagian kesembilan menyangkut Kebudayaan dan pariwisata, Pasal 89 (2) ‘Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melindungi dan memajukan budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan hak penyandang disabilitas.’

Dari pasal tersebut sudah dengan tegas disampaikan, pihak pemerintahan juga turut memberikan peran perlindungan, serta memajukan hasil karya inklusi yang menunjang kesetaraan kepada masyarakat difabel. Bentuk memajukan yang dimaksud, dapat berupa ruang promosi melalui ragam jenis media, ruang gerak untuk tampil baik secara langsung di media elektronik, maupun berupa pagelaran konser. Intinya, terus memperkenalkan karya tersebut kepada banyak pihak, sehingga dapat memberikan kebaruan informasi serta edukasi terkait keberadaan masyarakat difabel dan aksesibilitas yang dibutuhkannya, khusunya tentang masyarakat difabel Tuli.

Yang dilakukan para musisi dengan menciptakan karya dengan versi berbahasa isyarat, jelas akan menumbuhkan tingkat kesetaraan antara difabel Tuli dengan difabel lainnya, bahkan dengan masyarakat nondifabel. Mereka semua akan memiliki kesamaan dalam kemampuan memahami isi dari karya tersebut. Meskipun, bagi masyarakat difabel Tuli masih memiliki keterbatasan dalam menikmati alunan musiknya, mereka tetap dapat mengerti lirik dalam bahasa isyaratnya, ditambah teks tulisan yang dapat mereka baca.

Dengan demikian, bahasa isyarat lebih bisa dikenali oleh banyak orang. Tujuan lainnya, diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat luas tentang difabel Tuli yang masih kesulitan mengakses informasi akan musik, serta memahami ragam kebutuhan masyarakat difabel Tuli. Juga memberikan kesadaran kepada siapa pun, terkait akses untuk masyarakat difabel Tuli dapat diciptakan.  

 

Wartawan: Srikandi Syamsi

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.