Lompat ke isi utama

Difabel Mengemis dan Bagaimana Islam Memandangnya

Solider.id, Banjarnegara – Pagi tadi, sehabis mengantar Ibu saya ke kantor tempatnya bekerja, saya berpapasan dengan seorang difabel netra yang sedang mengemis di pelataran minimarket samping kantor Pemerintah Daerah Banjarnegara. Saat keluar dari minimarket tersebut, difabel tersebut masih ada dan masih melakukan aktivitasnya dalam mengemis. Mukanya terasa tidak asing bagi saya. Saya duga ia pernah ikut dalam beberapa kegiatan yang diadakan oleh Sahabat Difabel Banjarnegara dan Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara.

Saya kemudian berinisiatif mengajaknya berbincang. Difabel yang tidak mau menyebutkan namanya ini mengonfirmasi dugaan saya bahwa ia pernah ikut dalam kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional di Alun-Alun Banjarnegara tahun 2015. Ia pun bercerita tentang aktivitas mengemisnya.

“Saya sebenarnya malu untuk mengemis begini, Mas. Namun ternyata hasil yang didapat melebihi hasil yang saya dapat sebagai pemijat. Mungkin orang kasihan lihat saya karena saya netra begini,” ia bercerita.

Menurutnya, sudah banyak teman dan keluarganya yang menyuruhnya berhenti dari kegiatan seperti ini. Tapi, karena tuntutan ekonomi, ia kembali mengemis dengan harapan bisa mendapatkan uang yang lebih banyak.

“Kalau dengan mijat saya kadang tak dapat uang berhari-hari karena tidak ada pelanggan. Kalau kayak gini bisa dapat uang untuk keluarga. Saya akan begini dulu sampai dapat pekerjaan yang lebih baik,” ungkapnya.

Cerita difabel ini mengingatkan saya dengan perbincangan dengan Untung, Ketua Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara beberapa minggu yang lalu. Untung pernah berujar bahwa salah satu kendala advokasi difabel untuk memperoleh hak-haknya datang dari difabel itu sendiri.

“Permasalahan diskriminasi di Banjarnegara, mungkin juga di tempat lain kadang disebabkan oleh difabel itu sendiri. Contohnya, difabel yang mengemis padahal sebenarnya masih bisa melakukan pekerjaan lain akhirnya yang membuat masyarakat melihat difabel dengan sebelah mata,” cerita Untung.

Menurut Untung, masyarakat tetap akan melihat difabel sebagai kalangan yang tidak mampu karena realitas yang mereka lihat di lapangan menunjukkan difabel sebagai orang yang memilih pekerjaan mengemis.

“Padahal kalau  dihitung proporsinya, yang mengemis di Banjarnegara sama yang bekerja secara terhormat itu kan jauh lebih banyak yang bekerja secara terhormat itu. Celakanya orang banyak melihat yang mengemis itu. Semakin susah saja advokasi itu. Saya pernah kapan itu mau tanya alamat ke sebuah warung, eh belum apa-apa sudah dikasih uang. Ya saya tolak,” ceritanya.

Untung pun banyak memberikan masukan kepada sesama difabel yang tergabung di Forum Komunikasi Difabel Banjarnegara untuk bisa membuktikan bahwa difabel itu mampu berkarya dan berkontribusi bagi Banjarnegara seperti nondifabel lainnya.

Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang fenomena difabilitas yang mengeksploitasi kedifabelannya dengan cara mengemis?

Mengutip buku Fiqih Penyandang Disabilitas, disebutkan bahwa “selama masih memungkinkan untuk mendapatkan penghasilan lainnya, maka mengemis itu haram dilakukan sebab mengandung  cara pandang yang menghinakan diri sendiri, iza’u val-mas’un (mengganggu orang yang diminta), izhar asy-syakwa (menampakkan keluh kesah atas takdir Allah).

Lebih lanjut, Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan:

“… dapat disimpulkan bahwa hukum asal mengemis itu adalah haram. Mengemis sesungguhnya hanya diperbolehkan ketika ada darurat atau kebutuhan yang sangat penting yang mendekati darurat. Tanpa kondisi itu maka mengemis adalah haram. Saya berkata bahwa hukum asalnya adalah haram sebab dalam mengemis itu tidak lepas dari tiga hal yang diharamkan, yaitu: Pertama, menampakkan keluh kesah terhadap keputusan Allah Ta’ala sebab mengemis adalah menampakkan kefakiran dan mengucapkan sedikitnya nikmat Allah yang ia peroleh dan ini adalah esensi dari mengeluh. Kedua, dalam mengemis ada penghinaan diri sendiri kepada selain Allah sedangkan seorang mukmin dilarang menghinakan dirinya kepada selain Allah Tetapi dia wajib menghinakan dirinya hanya kepada Tuhannya saja sebab dalam hal itu ada kemuliaannya. Adapun seluruh makhluk, mereka semua adalah hamba-hamba Allah yang sama seperti dia sehingga tidak sepatutnya ia merendahkan diri terhadap mereka kecuali dalam kondisi darurat. Dan, dalam meminta-minta ada menghinakan diri dari pihak peminta kepada yang dimintai. Ketiga, dalam mengemis biasanya tidak lepas dari mengganggu orang yang dimintai sebab kebanyakan orang yang dimintai tidak dengan sukarela memberikan pemberian.”

 

Selain itu, Syaikh Muhammad al-Khadimy dalam kitabnya yang berjudul Bariqah Mahmudiyyah juga menegaskan bahwa dalam mengemis ada tiga unsur terlarang yang membuatnya menjadi haram, kecuali jika situasinya benar-benar darurat, seperti akan mati jika tidak mengemis. Dalam hal ini, baik difabel atau nondifabel diberlakukan ketentuan yang sama. Pada intinya, Islam tidak melarang seseorang yang ditimpa kesulitan untuk meminta bantuan atau meminta pertolongan kepada orang lain tetapi Islam melarang untuk menjadikan hal tersebut sebagai sebuah profesi untuk mencari keuntungan.

 

Selain mengevaluasi difabel yang melakukan aktifitas mengemis untuk mendapatkan pendapatan, evaluasi bagi penyelenggara negara yang memilliki otoritas dalam menyediakan lapangan pekerjaan juga perlu dilakukan. Setidaknya, dengan memberikan akses terhadap lapangan pekerjaan yang lebih besar, potensi difabel untuk memperoleh pendapatan dari aktifitas mengemis juga akan semakin berkurang.

 

Wartawan: Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.