Lompat ke isi utama

Susahnya Jadi Supporter Bola Difabel di Indonesia

Solider.id, Sleman – Liga Premier English (EPL) baru saja menuntaskan musimnya dengan menobatkan Manchester City sebagai juara musim ini sekaligus mempertahankan gelar yang mereka dapat musim lalu. Bagi anak asuhan Pep Guardioala ini, musim ini menjadi musim ke enam the Citizens, julukan resmi Manchaster City, bisa meraih juara. Kemenangan musim ini juga sukses mengubur impian Liverpool untuk memuaskan dahaga gelar EPL setelah terakhir kali mereka raih pada musim 1989/1990.

Bagi penggemar Liverpool, menjadi peringkat dua di EPL setelah beberapa pekan tidak terkejar di puncak klasemen adalah hal yang menyakitkan. Namun, perasaan sakit ini bisa terobati jika the Reds, julukan Liverpool, bisa mengunci gelar Liga Champions Eropa musim ini.

Perasaan seperti ini juga dirasakan oleh Ansyari Anwar, seorang difabel pengguna kursi roda, yang juga seorang Liverpulian atau penggemar Liverpool.

“Musim ini memang menyakitkan. Sampai tengah pekan menjelang akhir, Liverpool masih berada di puncak klasemen dengan selisih dua sampai tiga poin. Tapi akhirnya kesalip juga,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Ia mengaku menjadi penggemar Liverpool sejak 2005 ketika the Reds berhasil mengandaskan AC Milan di Final Liga Champions. Setelah itu, ia resmi menjadi penggemar klub dari kota pelabuhan ini.

“Kalau untuk klub luar negeri saya sudah cinta Liverpool setengah mati. Tapi kalau untuk lokal, saya juga seorang Slemania sejak SMP, saat PSS Sleman masih main kandang di [Stadion] Tridadi,” ungkap pria yang tinggal di Sidoarum, Godean, ini.

Ansyari pun menceritakan bagaimana susahnya menjadi seorang supporter klub bola lokal yang difabel. Ia mengklaim, militansi yang ia punya tidak kalah dari orang lain, namun itu semua terhalang dengan akses ke stadion yang menyulitkan dirinya sebagai pengguna kursi roda.

“Maguwoharjo kan dibangun memang belum menyediakan akses bagi difabel pengguna kursi roda. Kalau mau nonton kan harus naik tangga dulu. Nah bagi saya itu menyusahkan. Tidak ada ramp juga. Tidak ada jalur khusus difabel juga. Bayangkan kalau pas lagi disitu terus rusuh antar supporter. Habis saya,” ujarnya sambil tertawa.

 Ia pun menceritakan bagaimana fasilitas di Anfield—kandang Liverpool—bisa mengakomodasi pengguna kursi roda seperti yang ia lihat di kanal resmi YouTube Liverpool.

“Ada satu video bagaimana manajemen Liverpool bisa menyediakan slot untuk pengguna kursi roda untuk bisa menonton di stadion. Ada juga ketika manajemen Liverpool mengundang seorang supporter Liverpool yang difabel netra untuk bisa menonton sesi latihan Liverpool, tentunya dengan didampingi oleh pendampingnya,” ceritanya.

Menurutnya, konsep stadion di Indonesia memang belum mengakomodasi kebutuhan difabel. Untuk perhelatan sebesar Asian Para Games 2018 saja, beberapa fasilitas untuk difabel di stadion Gelora Bung Karno atau Stadion Madya Jakarta masih sifatnya portabel dan belum permanen.

“Padahal sebagai seorang supporter sejati, saya juga ingin bisa mengikuti pertandingan PSS baik kandang maupun tandang. Apalagi musim ini PSS bisa masuk Liga 1 yang artinya akan ada banyak klub besar Indonesia yang mampir ke Maguwoharjo. Saya membayangkan bisa ikut tandang ke GBK atau ke Kanjuruhan Malang saat lawan Arema,” ungkap Ansyari.

Ia berharap ke depan, Pemerintah Indonesia bisa menyediakan akses untuk pengguna kursi roda untuk bisa menikmati pertandingan di stadion. “Harusnya bisa karena bermodal Asian Para Games kemarin, harusnya pemerintah sadar akan hal itu,” tutupnya.

 

Wartawan: Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.