Lompat ke isi utama
suasana sosialisasi bahasa isyarat di UGM

Sebagai Bahan Edukasi, Bahasa Isyarat Mampu Cegah Munculnya Diskriminasi

Solider.id, Yogyakarta - Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP UGM) mengundang Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) Yogyakarta untuk mengenalkan   kelas bahasa isyarat dan sosialisasi budaya Tuli kepada HMP UGM. “Kami dari unit aksi sosial pastinya akan bertemu dengan orang-orang yang menggunakan bahasa Indonesia, pasti ada juga yang menggunakan bahasa isyarat. Nah dengan adanya sosialisasi ini diharapkan teman-teman HMP UGM sudah mengenal budaya Tuli dan bahasa isyarat”, ujar Putri Diana sebagai ketua panitia Sosialisasi Bahasa Isyarat. (10/5)

Dalam proses sosialisasi, HMP UGM mengundang dua pemateri, yakni Davi Muchlisin dari Pusbisindo Yogyakarta dan Phieter Angdika perwakilan dari Laboratorium Riset Bahasa Isyarat Yogyakarta. Davi menyampaikan mengenai tujuan dibentuknya Pusbisindo di Yogyakarta, “Kami membentuk Pusbisindo bertujuan untuk melindungi dan memberdayakan guru-guru Tuli. Dengan adanya guru Tuli,  juga memberikan kesempatan kepada Tuli untuk dapat bekerja di bidang pendidikan, yakni menjadi guru”, ujar Davi menggunakan bahasa isyarat.

Dilanjutkan materi dari Phieter Angdika yang menjelaskan mengenai manfaat bahasa isyarat bagi orang dengar. “Manfaat menggunakan bahasa isyarat tidak hanya untuk Tuli saja, ada juga banyak manfaat bahasa isyarat bagi orang dengar. Yang pertana, dengan mampu berbahasa isyarat, orang dengar dapat membantu orang-orang Tuli di sekitar kita, bisa menjadi penyambung lidah dan menjadi juru bahasa isyarat, menambah pengalaman dan teman baru, meningkatkan pemakai Bisindo yang masih sangat minim, dan turut mendukung perjuangan teman-teman Tuli di sekitar kita”, jelas Phieter yang juga menggunakan bahasa isyarat.

Kegiatan yang dihadiri oleh 20 peserta ini mendapat tanggapan beragam dari peserta yang kesemuanya belum pernah mengenal bahasa isyarat. Ada yang menanyakan mengenai perbedaan bahasa isyarat di tiap daerah apakah menjadi hambatan untuk berkomunikasi, ada juga yang menyampaikan ketertarikannya belajar bahasa isyarat karena memiliki om Tuli yang selama ini jarang terjalin komunikasi. “Kami jadi tahu ada Pusbisindo, sehingga kita punya jaringan karena di kampung saya di pelosok Sulawesi banyak anak-anak yang tidak mampu mendengar belum terfasilitasi bahasa isyarat, orang tua mereka tidak tahu bagaimana harus memperlakukan mereka, jadi potensi mereka tidak tercapai maksimal. Saya berencana ikut kelas bahasa isyarat karena saya bergerak di bidang kesehatan masyarakat, jadi untuk mencegah diskriminasi. Orang Tuli juga butuh untuk kita perlakukan sama, mereka juga butuh untuk kita kasih edukasi, saya perlu memberi tahu mereka mengenai gizi, sedangkan kita sebagai edukator jika tidak mampu berbahasa seperti mereka, bagaimana cara menyampaikan ilmunya?”, pungkas Yayuk sebagai salah satu peserta kepada Solider.id.  

 

Wartawan: Ramadhany Rahmi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.