Lompat ke isi utama
suasana sedekah sekitar UII

Bangun Kesadaran, Perkenalkan Lingkungan Ramah Difabel di Kampus

sedekah sekitarSolider.id, Yogyakarta - “Kita seringkali berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita dengan kondisi fisik yang berbeda, termasuk di lingkungan kampus. Mungkin tidak semua dari kita pernah berinteraksi dengan difabel. Perbedaan fisik kadang menjadi penghalang bagi kita untuk berinteraksi dengan mereka”, ujar Kenny Meigar selaku panitia dari komunitas Sedekah Sekitar UII (Universitas Islam Indonesia). Masjid Ulil Albab UII yang digunakan untuk sholat pun berada di lantai 2 dan tidak dapat diakses oleh difabel dengan hambatan mobilitas. Atas dasar inilah, komunitas Sedekah Sekitar UII mengadakan kegiatan diskusi dengan tema “Know Me, Feel Me” dengan judul Pentingnya Kesadaran Akan Lingkungan yang Ramah terhadap Disabilitas Guna Menciptakan Lingkungan yang Inklusif pada Kamis, 9 Mei 2019 di Tropical Garden Yogyakarta.

Dihadiri oleh 40 peserta yang mayoritas adalah mahasiswa UII, kegiatan ini diadakan menjelang buka puasa dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Pembicara yang pertama adalah Dr Muhammad Zulfikar Rakhmat sebagai dosen difabel di UII, kedua adalah Fikri Muhandis dari Deaf Art Community (DAC), ketiga adalah Muhammad Ismail dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB). Muhammad Zulfikar menjelaskan pentingnya dibangun ruang pendidikan yang inklusif. “Saat saya kecil, orang tua saya mendaftarkan saya di berbagai sekolah di Semarang hingga akhirnya saya bisa bersekolah di sekolah umum meskipun saya harus mengalami banyak perundungan dari teman-teman dan bahkan dari guru kelas. Namun saat saya melanjutkan SMA hingga kuliah S1 di Qatar, semuanya sangat berbeda. Lingkungan pendidikan disana sangat baik, teman-teman dan guru sangat supportive (mendukung) hingga mengantarkan saya sebagai siswa berprestasi tingkat nasional”, ujar Muhammad Zulfikar yang mengalami difabel motorik karena Asphyxia Neonatal.

Pemuda lulusan S2 dan S3 dari University of Manchester, Inggris, yang kini berprofesi sebagai seorang dosen Hubungan Internasional di UII ini menyatakan bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting dimiliki oleh semua orang, khususnya difabel, karena dengan pendidikan yang baik maka peluang untuk mendapatkan pekerjaan juga semakin baik dan bisa mengurangi angka pengangguran. Sadar akan pentingnya pendidikan dan banyaknya hambatan yang dialami oleh anak difabel yang ingin masuk sekolah umum, Zulfikar kemudian mendirikan organisasi Sekolabilitas guna berkontribusi membantu anak-anak yang mengalami penolakan masuk sekolah dengan berupaya membujuk, menjelaskan, dan meyakinkan kepada pihak sekolah bahwa anak difabel mampu beradaptasi di sekolah umum.

Senada dengan pengalaman yang disampaikan Muhammad Zulfikar, Fikri Muhandis sebagai seorang Tuli pun pernah mengalami penolakan di sekolah karena kondisi disabilitasnya. “Dulu ibu saya menemani saya mendaftar SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta tapi ditolak. Hingga akhirnya saya bisa bersekolah di SMK N 3 Kasihan Bantul dan melanjutkan S1 di Universitas Brawijaya Malang. Sangat berbeda kondisi di sekolah dan di kampus. Saat saya kuliah, saya mendapatkan banyak akses informasi melalui juru bahasa isyarat dan bisa didampingi oleh notulen. Sebelum menghadapi skripsi, saya juga mendapat pelatihan dari Pusat Studi Layanan Difabel di kampus sehingga skripsi saya bisa berjalan lancar”, ucap Fikri menggunakan bahasa isyarat.

Muhammad Ismail kemudian melengkapi informasi mengenai etika berinteraksi dengan Tuli. “Membangun interpersonal itu lebih penting apalagi membangun empati masyarakat terhadap Tuli selain akses juru bahasa isyarat dan noluten. Keunikan Tuli dalam kehidupan kampus diantaranya interaksi mereka singkat dengan siswa lain dan jumlah kontak komunikasi yang terbatas. Guna mendorong terciptanya kampus yang inklusif, penting adanya pembelajaran insidental dan menjadikan Tuli sebagai konsultan dalam persiapan pembelajaran akademik,” pungkas Ismail.  

 

Wartawan: Ramadhany Rahmi

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.