Lompat ke isi utama
ilustrasi buku fiqih difabel

Pencerahan berkeagamaan melului buku Fiqih Penyandang Disabilitas

Solider.id, Banjarnegara – Ariyadi (41) tersenyum senang membaca file pdf buku Fiqih Penyandang Disabilitas yang saya unduhkan kepadanya. Ia adalah seorang difabel pengguna kursi roda yang selama ini sering ditolak masuk masjid.

“Saya sering sekali ditolak masuk masjid karena beberapa masjid tidak membolehkan kursi roda masuk. Kedua, karena memang  masjid-masjid itu tidak aksesibel. Baru sedikit masjid yang membolehkan saya masuk. Di Jogja ada satu. Masjid Jogokariyan,” ujarnya.

Bahkan di mushola kecil di seputaran rumahnya juga masih belum terlalu aksesibel dan terbuka untuk difabel terutama pengguna kursi roda. Berbekal buku ini, ia bisa memberi tahu takmir mushola atau masjid lain agar bisa menerima pengguna kursi roda untuk bisa bersembahyang seperti nondifabel lainnya.

“Nanti malam ingin saya tunjukkan ke takmir mushola belakang rumah situ biar saya bisa ikut Salat Taraweh. Sudah lama sekali tak ikut karena tidak bisa masuk,” terangnya sambil tertawa kecil.

Buku Fiqih Penyandang Disabilitas memang menjadi jawaban baik bagi difabel seperti Ariyadi yang sering mendapatkan diskriminasi dalam mengakses dan menggunakan fasilitas tempat ibadah. Sebagai seorang muslim yang taat, kewajiban untuk menunaikan salat berjamaah bagi laki-laki seperti Ariyadi seringkali terhalang oleh belum terbukannya pikiran para pengurus masjid terhadap difabel. 

Buku ini menjadi rujukan bagi kegiatan keberagamaan difabel yang selama ini jarang mendapat ruang pada kajian-kajian keagamaan. Dalam pengantarnya di buku ini, Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siroj, M.A. menegaskan bahwa misi Islam dalam pemenuhan hak difabel dimulai dari contoh teladan umat Islam yaitu Nabi Muhammad SAW. 

Dalam pengantar tersebut Said Aqiel Siroj menceritakan riwayat ketika sahabat Abdullah Ibnu Umi Maktum mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk memohon bimbingan Islam. Nabi Muhammad SAW pada saat itu mengabaikannya karena beliau sedang sibuk mengadakan rapat bersama petinggi kaum Quraisy tentang hal yang prioritas. Kemudian, turun Surat ‘Abasa sebagai peringatan agar Nabi Muhammad SAW lebih memperhatikan Abdullah Ibnu Umi Maktum yang merupakan difabel netra daripada para pemuka Quraisy itu. Sejak saat itu, Nabi Muhammad SAW sangat memuliakan Ibnu Ummi Maktum.

“melihat sebab turunnya surat ‘Abasa, Islam sangat memperhatikan difabel, meneimanya setara sebagaimana sebagaimana manusia lainnya. Bahkan memprioritaskannya” Tulis Said Aqiel siroj

Buku ini memang membedah banyak hak dalam perkara keagamaan bagi difabel termasuk dalam perkara ibadah, ekonomi sosial, hukum kebijakan serta pernikahan dan keluarga. Difabel seperti Ariyadi merasa begitu tercerahkan dengan diterbitkannya buku ini.

“Setelah saya baca selintas, ada banyak bab yang selama ini menjadi perhatian dan tanda tanya saya sebagai difabel muslim,” ujarnya.

Ia menitikberatkan pada beberapa pengalaman yang sering ia rasakan. Ia kemudian merelasikan pengalamannya dengan pembahasan pada halaman 76 tentang Hukum Kesucian Kursi Roda dan Tongkat.

“Ini saya baca, pada intinya, roda pada kursi roda dan bagian bawah tongkat dengan segala bentuknya tidak selalu dihukumi najis ketika sudah dipakai menyentuh tanah, aspal, jalanan dengan berbagai kondisinya. Yang dianggap najis adalah hanya ketika barang-barang tersebut nyata-nyata menyentuh barang najis seperti kotoran hewan, muntahan, nanah, darah dan sebagainya. Artinya ketika tidak menyentuh itu semua tidak berarti dianggap najis,” terang Ariyadi.

Ia juga membahas tentang hukum shalat dengan menggunakan kursi roda. “Selama ini saya sering ngengsot menuju dalam masjid karena tidak tahu hukum shalat menggunakan kursi roda,” ceritanya.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa untuk soal shalat di kursi roda hukumnya diperbolehkan dan shalatnya sah, akan tetapi dengan syarat tidak menggenggam kursi roda tersebut dan dipastikan kursinya tidak ikut bergerak sebab pergerakan orang tersebut (misalnya di-hand-rem). Jadi kursi roda tersebut berfungsi sama seperti kursi pada umumnya yang tidak ikut bergerak dengan pergerakan orang di atasnya. Hal seperti ini tak mempengaruhi keabsahan shalat orang yang mendudukinya meskipun bagian bawah kursi itu najis.

Aiyadi mengaku begitu tercerahkan dengan adanya buku ini. Ia mengaku akan mensosialisasikan buku ini ke difabel lain di komunitasnya di Persatuan Difabel Mandiri (PDM) Banjarnegara serta menggunakan buku ini untuk melakukan advokasi tentang hak beribadah difabel di tempat ibadah umum.

 

Wartawan: Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.