Lompat ke isi utama
ilustrasi difabel dalam komunitas, diambil dari akun instagram

Difabel Sulit Cari Kerja? Lakukan Kegiatan ini Sebagai Alternatif Peroleh Peluang

Solider.id, Jakarta – hingga detik ini, difabel masih kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak dan sesuai dengan minat dan bakat mereka. Meski telah menempuh pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi yang notabene secara administratif telah layak untuk memperoleh pekerjaan, namun pada kenyataannya, difabel masih sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Berwirausaha, mungkin hal inilah yang kemudian terlintas dibenak banyak orang untuk mengatasi kurang terserapnya difabel pada lapangan pekerjaan yang mereka minati. Ibaratnya, orang sering bilang bahwa jika kamu punya hambatan tertentu untuk melamar pekerjaan, maka ciptakanlah lapangan pekerjaan sendiri. Namun nyatanya hal ini tak mudah. Tidak semua orang punya bakat dan bahkan passion di bidang wirausaha. Beberapa intelektual difabel yang telah mengantongi gelar sarjana misalnya, masih ingin bekerja di sektor formal. Alasannya simple, mereka ingin mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat untuk dapat bermanfaat dan menunjang jenjang karir mereka.

Regulasi soal bagaimana agar difabel terserap ke lapangan pekerjaan formal memang sudah ada. Namun hingga detik ini, implementasi ihwal hal ini belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Beberapa Kementerian pada tahun lalu memang telah membuka formasi penerimaan Pegawai Negeri Sipil untuk difabel. Namun segudang persoalan masih menjadi pekerjaan rumah agar berbagai hambatan dan potensi kawan-kawan difabel lebih dapat diakomodir.

Menghadapi hal ini, beberapa kawan difabel sangat rentan mengalami stres dan tekanan batin. Usia semakin bertambah, kebutuhan pribadi juga semakin meningkat, belum lagi segudang keinginan dan harapan tak kunjung tercapai. Namun disisi lain, pekerjaan yang sesuai dengan harapan, minat, dan bakat tak kunjung mereka dapatkan.

Untuk menghindari stress pada difabel usia produktif yang belum mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai dengan harapan mereka. Berbagai hal positif tetap dapat dilakukan. Melalui berbagai kegiatan tersebut, difabel usia produktif dapat meningkatkan kualitas, hidup, meningkatkan kapasitas diri, dan menambah berbagai keterampilan agar dapat memantaskan diri untuk mendapatkan pekerjaan yang telah diidam-idamkan. Beberapa kegiatan berikut selain dapat meningkatkan percaya diri, juga dapat meningkatkan tingkat kesiapan kita untuk mendapatkan pekerjaan yang kita idam-idamkan.

1. Mengikuti Pelatihan dan Seminar sebagai bekal Keterampilan Baru

Ikutiliah berbagai pelatihan dan seminar sesuai dengan apa yang kita minati. Hal ini dapat meningkatkan kapasitas dan keterampilan sesuai dengan bidang yang diminati. Berbagai pelatihan dan seminar tentu sangat bermanfaat. Sebagai difabel, kita tak perlu kemudian membatasi diri untuk tidak meningkatkan kapasitas. Menjadi difabel, bukan berarti harus membatasi kita untuk meningkatkan keterampilan diri kita. Setiap orang mempunyai potensi masing-masing. Bahkan setiap orang mampu berkarya dan memiliki sebuah pencapaian yang mampu ia hargai.

Sikap tidak takut untuk memulai belajar hal yang baru merupakan langkah awal menuju aktualisasi diri yang baik. Sebaiknya menghapus asumsi negatif tentang difabel dari lingkungan dan perkataan orang lain terkadang menjadi sebuah penghalang untuk beraktivitas bebas.

Apabila pelatihan tidak ada yang khusus difabel, jangan takut untuk menunjukkan diri akan keberadaanmu. Tidak ada salahnya kita mengikuti pelatihan dan seminar dengan kawan-kawan nondifabel.   Selain dapat meningkatkan kapasitas, mengikuti pelatihan yang dihadiri oleh kawan-kawan nondifabel juga dapat melaltih kita semakin percaya diri. Hal ini juga membuktikan bahwa difabel tidak mengeksklusifkan diri, dapat berbaur dengan orang lain dan bahkan punya potensi yang terkadang orang tidak akan dapat menyangkanya.

2. Jangan Takut Jadi Volenteer

Menjadi volunteer memang identik dengan kawan-kawan nondifabel yang kemudian dapat membantu kawan-kawan difabel dalam berbagai hal. Namun bukan berarti hal ini menutup kemungkinan bagi para difabel untuk menjadi relawan dalam kegiatan tertentu. Pada penyelenggaraan Asian Paragames misalnya, kawan-kawan difabel dapat bekerja sama dan menjadi tim yang baik dan solid untuk menjadi volunteer dalam penyelenggaraan perhelatan olahraga pada kisaran Oktober tahun lalu itu. Hal ini juga dapat meningkatkan kapasitas diri, dan percaya diri. Tanamkan bahwa selain mempunyai berbagai hambatan, kamu juga punya sejumlah kekuatan dan potensi untuk turut berperan dalam sebuah tim.

3. Terlibatlah dalam Berbagai Organisasi dan Kepanitiaan Acara

Berorganisasi, mengikuti koimunitas dan bahkan terlibat dalam  kepanitiaan merupakan sebuah cara yang sangat ampuh  untuk meningkatkan kapasitas diri, bahkan cara ini tak jarang menjadi pintu gerbang bagi difabel untuk mendapatkan jaringan dan memperoleh berbagai peluang mendapatkan pekerjaan idaman. Berorganisasi dapat meningkatkan kepercayaan diri, berorganisasi juga dapat melatih soft skill diri untuk dapat menjadi tim work yang baik. Melalui berbagai kegiatan dan pekerjaan dalam organisasi, kita diajarkan untuk dapat bekerja sama dengan orang lain, memetakan kekuatan dan kelemahan kita dan bahkan menunjukkan potensi kita dihadan orang lain. 

Melalui wadah organisasi, tak jarang kita mendapatkan peluang untuk menemukan jaringan atau menemukan lingkaran pertemanan baru yang bisa jadi potensial memberikan informasi, referensi, dan bahkan rekomenendasi agar kita mendapatkan pekerjaan yang kita idam-idamkan. Cara ini juga ampuh dan jamak dilakukan oleh pencari kerja nondifabel. Salah satu dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM pernah berkata bahwa “keadaanmu yang lama tak kunjung mendapatkan pekerjaan tetap bisa jadi hal yang dapat dijual dan ditonjolkan dalam CV yang kamu susun. Asalkan selama kamu belum bekerja, kamu terus aktif mengembangkan diri dan terus mengaktulaisasikan diri dengan berbagai cara. Bisa dengan mengikuti banyak seminar dan pelatihan, atau bahkan turut terlibat aktif dalam berbagai organisasi dan komunitas”.

 

Penulis: Dina Amalia Fahima

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.