Lompat ke isi utama
penampakan dispenser bicara

Dispenser Bicara, Mudahkan Hidup Difabel Netra

Solider.id, Cimahi  Kemajuan teknologi sudah sangat pesat. Ragam penemuan baru tercipta melalui pengolahan berbasis teknologi yang diberfungsikan untuk memudahkan hingga mempercepat segala akses penunjang bagi kehidupan. Begitu pula pengaruhnya terhadap masyarakat difabel. Melalui inovasi yang terus dikembangkan, peran kecanggihan sarana atau media mobilitas serta perangkat penunjang kehidupan sehari-hari mulai dapat dinikmati masyarakat difabel. Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan saat ini adalah jenis perkakas rumah tangga berupa dispenser berbicara.

Peranti elektonik yang secara otomatis dapat memanaskan dan mendinginkan air yang siap untuk diminum tersebut, menjadi media riset agar dapat diakses oleh difabel Netra. Hambatan yang sering dialami mereka saat menggunakan dispenser adalah mengetahuai tombol air yang akan dituangkan, apakah panas atau dingin. Kesulitan lainnya, mengetahui takaran air yang hendak dituangkan ke dalam gelas, cangkir ataupun botol minum. Tidak jarang, mereka menuangkan air dari dispenser hingga tumpah, atau berulang menekan tombol agar air yang keluar tidak meluber dari wadah.

Selain tulisan dalam huruf braille, pemetaan visualisasi adalah hal yang menjadi penting untuk sarana aksesibilitas bagi masyarakat difabel Netra. Pemahaman tersebut yang menjadi langkah awal ‘Kompor,’ nama komunitas mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung menggagas dispenser berbicara.

Inovasi cara kerja dari sebuah dispenser yang kemudian menjadi aksesibel untuk masyarakat difabel Netra ini dapat dikatakan cukup sederhana. Mulai dari saat memangsangkan kabel dispenser ke saluran pusat listrik (Stop kontak) visualisasi sudah dapat didengar. Dengan pemetaan yang menginformasikan arus listrik sudah diterima atau terpasangkan. Kemudian tombol penekan on/of yang ada di bagian belakang.

Lalu, di bagian depan atau muka yang secara umum sebuah dispenser hanya memiliki dua tombol yaitu untuk untuk tombol air panas atau air dingin. Namun, pada dispenser berbicara ini tombol lebih banyak yaitu enam buah, digunakan sebagai alternatif pilihan yang dapat diakses difabel Netra untuk menuangkan air sesuai yang dibutuhkan.

Dengan  tiga tombol vertikal di sisi kiri dan tiga lainnya di sebelah kanan, dibuat untuk membedakan antara air panas atau dingin saat ingin dituangkan dengan takaran yang berbeda pula. Antara lain untuk volume air 50 mililiter, 150 mililiter atau 250 mililiter secara berutut vertikal untuk memudahkan pilihan yang diinginkan.

Informasi fungsi seluruh tombol, serta semua takaran air disampaikan dalam bentuk suara yang dapat membantu indra pendengaran bagi difabel Netra. Dengan demikian, mereka dapat menggunakan dispenser berbicara lebih aksesibel serta mengurangi bentuk resiko seperti terkena tumpahan air yang melebihi kapasitas wadah, ataupun kesalahan menyajikan antara air dingin dan air panas.  

Peranti elektronik dispenser berbicara tersebut belum diproduksi secara masal. Hasil inovasi sekelompok mahasiswa ini baru ditahapkan uji guna kepada dua Sekolah Luar Biasa Negeri bagian A (SLBN A) yang ada di Bandung dan Cimahi, serta kepada sebuah pusat rehabilitasi khusus Netra di Bandung.

Dalam peluncurannya, dispenser berbicara ini langsung diaplikasikan cara menggunakannya kepada beberapa perwakilan difabel Netra, baik totally blind dan lov vision. Mereka dapat merasakan langsung efek manfaat kemudahan yang didapatkan. Para difabel Netra pun mengakui dalam mengakses dispenser berbicara, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk menghapalkan secara ekstra. Menurut mereka, cukup dengan perabaan untuk mengetahui letak tombol saat menyajikan air sesuai kebutuhan.

Kemunculan ragam inovasi berbasis teknologi yang dapat menunjang kemandirian, kemudahan serta mengurangi tingkat resiko bagi pengguna, khususnya masyarakat difabel sudah seharusnya menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Melalui sarana yang aksesibel, baik secara mobilitas maupun aksesibilitas yang menunjang bidang kehidupan masyarakat difabel, akan mampu meningkatkan potensi serta daya kreatif masyarakat difabel serta mengurangi tingkat ketergantungan terhadap pertolongan orang lain.

 

Wartawan : Srikandi Syamsi

 Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.