Lompat ke isi utama
ilustrasi difabel dalam keberagaman

Peran Masyarakat Difabel Sebagai Bagian dari Ragam Kemajemukan

Solider.id, Bandung – Siapa pun berpotensi menjadi individu difabel baru. Baik disebabkan oleh faktor kecelakaan maupun sebuah penyakit yang berujung kelumpuhan atau tindakan medis berupa amputasi. Menyebut kata difabel atau disabilitas, kadang masih menjadi pengetahuan yang asing bagi sebagian kalangan masyarakat. Bisa dimaklumi, isu terkait keberadaan difabel masih sangat minim dari publikasi. Bahkan, baru ada segelintir saja media yang konsen terhadap pemberitaan mereka. Padahal, masyarakat difabel di Indonesia cukup banyak dan mereka menjadi bagian dari ragam kemajemukan secara individualistik dan karakteristik.

Merujuk kepada isi Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas, dalam ketentuan umum pasal 1 menjelaskan: ‘Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.’

Kondisi menjadi difabel memang bukan pilihan. Namun, sebuah takdir yang tidak mungkin dapat dielakan. Selain difabel sejak lahir, difabel baru berpotensi dialami oleh setiap orang. Lalu, mengapa keberadaan kaum minoritas termasuk difabel belum sepenuhnya memperoleh kesetaraan, dan bagaimana masyarakat difabel turut berperan aktif di lingkungannya sebagai bagian dari kemajemukan sebuah negara?

Dalam buku Keberpihakan Media terhadap Difabel menyoroti peran media komunitas dalam isu difabel antara lain: Membangun saluran informasi dan komunikasi di dalam komunitas. Membuka ruang-ruang dialog dan pertukaran pendapat guna menguatkan hak-hak kaum difabel. mendorong partisipasi warga komunitas dalam perjuangan hak kaum difabel. menyediakan saluran suara bagi kelompok–kelompok difabel yang tidak tersuarakan. Mempromosikan berbagai potensi yang dimiliki warga. Juga sebagai media advokasi.

Masih minimnya informasi pemberitaan terkait masyarakat difabel secara faktual, menjadikan kesimpangsiuran pemahaman yang beragam dan cenderung menuai citra negatif. Konten media masih bertajuk kepada objektifitas, dan menggambarkan difabel sebagai sosok yang masih perlu dikasihani, tokoh inspiratif, hal yang perlu diistimewakan, maupun percontohan dari sebuah capaian atau keberhasilannya.

Perlakuan yang demikian masih mencerminkan belum adanya kesetaraan yang berimbang antara masyarakat difabel dengan nondifabel. Imbasnya, penerima informasi akan sulit mendapatkan pemahaman yang tepat terkait individu difabel. Keberadaan masyarakat difabel membuktikan, kemajemukan bukan saja berdasarkan suku, bahasa, budaya, agama, perbedaan warna kulit, maupun adat-istiadat.

Mereka juga memiliki cara untuk selalu menjalani segala tantangan kehidupan yang terus berlanjut. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas serta potensi diri yang dimiliki dengan pengembangan melalui pemberdayaan.

Disampaikan oleh Ken Kerta dari Forum Malang Inklusi, Output outcome dan dampak harus dijelaskan di awal sebelum kegiatan perberdayaan dilakukan, sehingga difabel memahami kegiatan yang akan dilakukan dan mereka mempersiapkan diri menjadi pelaku utama dalam kegiatan tersebut.

Lebih rinci dalam pemaparannya menjelaskan, manfaat output dan outcome yang dimaksud seperti outputnya adalah hasil langsung yang didapatkan dari kegiatan. Misalnya, dengan diadakannya pelatihan kerja maka difabel yang bergabung didalamnya memiliki keterampilan. Sedangkan outcomenya adalah, difabel dapat membuka peluang usaha baru.

Dampak dari keduanya akan meningkatkan kesejahteraan difabel dan menurunkan angka penggangguran.

Cara yang efektif mengarahkan masyarakat dan difabel di lingkungan adalah dengan menciptakan keterlibatan dan manfaat yang jelas dalam kegiatan pemberdayaan. Dengan demikian, mereka akan merasakan dan bertanggung jawab bersama. Manfaat yang diciptakan merujuk kepada kepentingan masyarakat, baik difabel dan nondifabel.

Sementara dari pihak difabel secara pribadi, bentuk pemberdayaan yang lebih diminati adalah yang sesuai dengan keinginan atau harapan mereka. Seperti halnya menjalani hobi sesuai bidangnya.

Harapan ini dapat menjadi sebuah evaluasi diawal sebelum tahapan pemberdayaan dilakukan. Dengan mengetahui tingkat hasrat serta minat yang ingin dikembangkan, akan mempermudah pencapaian keberhasilan proses pemberdayaan yang dilakukan. Para difabel akan merasa senang, nyaman, bahkan menjalaninya dengan kegembiraan.

Melalui pemberdayaan, merupakan salah satu cara dan bentuk partisipasi dalam berperan aktifnya masyarakat difabel untuk mengembangan diri dan mencapai kemandirian serta tingkat kesejahteraan yang lebih baik dari sebelumnya, dengan dukungan semua pihak terkait.  

Kemajemukan dapat menjadi kekuatan dan tantangan bagi sebuah bangsa. Pasal 27 Undang-Undang Dasar 1945 ‘(1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintaham itu dengan tidak ada kecualinya. (2) Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. (3) Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.’

Masyarakat difabel memiliki peran aktif di dalam lingkungannya sesuai dengan kapasitas serta kemampuannya. Sesuai dengan pasal 27 UUD 1945 ayat 3 diatas, masyarakat difabel pun berperan dalam upaya pembelaan terhadap negaranya.

Menurut Djumono anggota National Paralympic Committe Indonesia (NPCI), difabel memiliki kemampuan dan harapan berprestasi dalam bidang olah raga. Dan sudah banyak dilaksanakan kejuaraan hingga multi event sampai tingkat internasional. Sehingga untuk membawa nama baik pribadi juga bangsanya sudah sangat dimungkinkan atlet difabel pun mampu.

Peran masyarakat difabel sebagai bagian dari ragam kemajemukan memang tidak dapat berdiri sendiri. Kehadiran mereka diantara masyarakat luas masih sangat membutuhkan partisipasi dari berbagai pihak. Bentuk pengakuan, toleransi, pemahaman, kesetaraan, hingga apresiasi serta dokumentasi yang tepat terhadap mereka, akan sangat berpengaruh dan berdampak besar terhadap lingkungannya.

Sebagai bagian dari kemajemukan, masyarakat difabel sudah sepantasnya mendapatkan hak mereka dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagaimana mereka pun mendapatkan kewajiban yang sama secara aturan hukum. Bentuk diskriminasi, eklusifisasi, serta kerentanan lainnya yang masih dapat dialami oleh mereka, sudah seharusnya diminimalisir bahkan dihapuskan. Sehingga kesetaraan serta kehidupan yang sejajar benar-benar dapat dirasakan masyarakat difabel diantara kemajemukan masyarakat yang ada yaitu masyarakat yang berbhineka tunggal ika.

 

Penulis: Srikandi Syamsi

Editor   : Ajiwan Arieft

The subscriber's email address.