Lompat ke isi utama
Mudji ketika difoto

Makna Bekerja sampai Tua bagi Mudji Difabel Netra

Solider.id, Kulon Progo– Jika ingin hidup dalam usia yang panjang, belajarlah dari orang Jepang. Negeri sakura ini memiliki konsep Ikigai, sebuah nilai hidup yang membuat orang bersemangat memulai hari dan menjalankan aktifitas.

Ikigai memberikan alasan orang untuk bangun dipagi hari dengan penuh antusias dan memberikan peluang usia hidup yang lebih panjang dari siklus usia hidup manusia. Membahas Ikigai juga berarti membahas Okinawa, sebuah pulau terpencil di Jepang Barat Daya. Pulau ini terletak di kawasan Zona Biru (Blue Zone) Jepang.

Masyarakat pulau ini terkenal memiliki rentang usia hidup yang lebih panjang dari siklus usia hidup masyarakat di belahan dunia lain. Ikigai yang berakar dari pulau ini, membuat masyarakatnya mempunyai tujuan hidup yang membuat aktifitas mereka lebih berkualitas. Sehingga berimbas pada rentang usia hidup mereka yang panjang.

Masih dari Jepang, hidup dan berkarya sampai tua benar-benar ditunjukkan oleh Shigeaki Hinohara, seorang dokter yang masih melakukan praktik di usianya yang ke 97 tahun 4 bulan. Mengutip Japan times, Hinohara sudah menjadi dokter sejak tahun 1941. Dari tahun itu, ia mengobati pasien di St. Luke’s International Hospital serta mengajar ilmu kesehatan di institusi yang sama.

Hinohara bahkan bisa menulis 150 buku sejak berusia 75 tahun, termasuk sebuah buku legendaris berjudul Living Long, Living Good yang sudah terjual 1,2 juta eksemplar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Apa yang menjadi rahasia dari Hinohara?

Hinohara menganjurkan orang untuk hidup lama dengan cara bahagia dan menikmati hidup. Dalam Living Long, Living Good, ia menulis beberapa rahasia hidupnya sehingga ia masih bisa aktif dan bekerja di usia senjanya. Bebarapa diantaranya merujuk pada bagaimana perasaan bahagia membentuk kesehatan dalam tubuh serta memperpanjang usia pensiun minimal di usia 65 tahun. Terus bekerja penuh antusias sampai tua ternyata berkorelasi dengan panjangan usia hidup.

Perihal terus bekerja sampai tua juga dirasakan oleh Mudji, seorang difabel netra yang ada di Lendah Kulon Progo. Mudji yang sekarang sudah berusia 77 tahun masih rutin memanjat pohon kelapa serta berjalan kaki beberapa kilometer untuk mencari rumput untuk kambing peliharaannya. Kedua hal itu menjadi penghidupan utamanya.

Menjadi difabel netra membuatnya mencari cara alternatif untuk mengganti daya visualnya yang terbatas. Dalam memanjat pohon kelapa contohnya, banyak orang yang tak mengira ia bisa begitu lincah dalam memanjat kelapa. Absennya daya visual membuat konsentrasinya tertuju pada rabaan ceruk pada batang kelapa sebagai tempatnya berpijak. Berpuluh-puluh tahun melakukan hal seperti ini membuat Mudji seperti sedang bermain dengan mainnya sendiri ketika sedang memanjat kelapa: lincah dan cepat.

Mudji pernah berujar kepada penulis tentang makna hidup sebagai seorang difabel netra. “Bagi saya, sebagai difabel netra, bekerja itu membuat saya bergairah. Kalau di rumah saja, saya malah jadi sakit. Itu mengapa saya masih terus bekerja sampai usia tua. Herannya, karena sering bekerja saya jadi jarang sakit,” ujarnya dengan menggunakan bahasa Jawa.

Mudji merasa bahwa menjadi difabel netra tidak punya banyak perbedaan dengan non difabel netra. Bahkan, ia mengklaim bahwa ia tidak memiliki masalah karena menjadi difabel netra.

“Ketika banyak yang tanya apa susah menjadi difabel netra. Saya kok tidak merasa begitu ya. Saya merasa tidak ada masalah. Saya bisa semuanya, dengan cara-cara yang saya temukan sendiri. Genteng rumah bocor, saya bisa naik meski tidak bisa melihat. Saya bisa panjat kelapa. Jaman dulu malah saya sering jalan jauh sampai Sentolo sana. Saya bisa sendiri karena saya berusaha,” terang Mudji.

Mudji mengaku akan tetap terus bekerja meski usianya sudah tua. Ia memegang prinsip bahwa hidup harus dihabiskan untuk hal-hal yang bermanfaat. Dengan terus bekerja di hari tuanya, ia akan tetap bergairah dan penuh antusias dan itu membuat ia tetap sehat.

“Yang penting itu sehat pikiran. Saya akan tetap bekerja meski sudah 77 tahun. Bukan lagi masalah uang, karena tanpa bekerja pun, saya sudah ditanggung uang oleh anak saya. Tapi ini soal makna hidup. Banyak orang sakit karena mereka malas-malasan dan berhenti beraktifitas, hanya di rumah saja. Saya tidak bisa. Bisa sakit saya kalau hanya di dalam rumah saja,” kata Mudji.

Secara tidak langsung Mudji mempraktekkan prinsip Living Long Living Good dari Hinohara serta konsep Ikigai dari Okinawa. Di pikiran Mudji, menjadi difabel netra tidak memberikannya banyak masalah yang membuatnya berbeda dari non difabel. Setidaknya, di dalam lingkungan sosiologis dan kebudayaan Mudji, ia bisa menemukan berbagai macam alternatif akses dalam penghidupannya.[]

 

Reporter: Yuhda

Editor: Robandi

The subscriber's email address.