Lompat ke isi utama
Muhammad Zulfikar sedang memberikan materi

Mengkaji Bagaimana Islam Memandang Difabel

Solider.id, Semarang- Majelis Pengajian Difabel, Himpunan Masyarakat Inklusi Kota Semarang (HIMIKS), kembali mengadakan kajian untuk yang ke tujuh kalinya di Masjid Mabaul Qoir RRI Semarang, Jalan Ahmad Yani 144-146 Semarang.

Forum dengan bingkai pengajian tersebut bertajuk Difabilitas Dalam Kajian Islam dengan menghadirkan Muhammad Zulfikar Rakhmat, disabilitas Asphyxia Neonatal, yang sudah meraih gelar doktor bidang politik dari University of Manchester di usianya yang ke 26 tahun.

Pengajian juga dihadiri kepala Dinas Sosial kota Semarang, dan 100 orang difabel dari semua ragam difabilitas. Kajian diawali dengan pembacaan kalam Illahi oleh Sofyan. Sebagai saritilawah Yusi Dwi Haningdyah, keduanya adalah difabel netra.

Sebelum menyampaikan tauziah, Zulfikar yang dalam keseharian juga menjadi tenaga pengajar di salah satu Universitas Islam Negeri Yogyakarta, terlebih dahulu memperkenalkan diri dan berkisah tentang kondisi masa kecilnya yang selalu jadi korban bully.

“Namun sebagai muslim, saya mendapat motivasi dari agama saya yang selama ini jadi panutan Rasulullah. Dari sini kemudian saya bisa belajar bagaimana Islam memandang difabel,” ujar Fikar (28/04).

Menurut Zulfikar, islam adalah agama yang mengajarkan etika. Di dalam islam, istilah difabel diwakili dengan penyebutan orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus. Di dalam kitab suci dan fiqih banyak rujukan yang ditujukan kepada orang yang tidak mampu. Seperti bagi difabel yang tidak mampu shalat dengan berdiri, dan diperbolehkan melakukannya dengan duduk.

“Bagi yang tidak bisa duduk, mereka bisa dengan berbaring. Ini menandakan bahwa islam sangat memperhatikan kebutuhan para difabel,” lanjut Zulfikar.

Dalam kajiannya pula, Fikar menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah SWT dalam dua bagian. Yakni dalam wujud jasad dan nyawa. Jasad, dengan kondisinya yang berbeda-beda dan dalam jasad pula setiap manusia ada yang memiliki keterbatasan. Sementara dalam wujud nyawa, semua manusia memiliki nyawa yang sama.

“Dengan kondisi inilah kita bisa merasakan kasih sayang Allah swt. Karena nanti saat di akhirat, jasad kita akan terkubur dimakan cacing dan rayab. Yang pergi menghadap Allah swt. hanya nyawa kita. Nyawa yang tidak ada beda ini nanti akan dinilai dari kebersihan hatinya, apakah hati itu bersih atau tidak,” imbuh Zulfikar memberikan penjelasan.

Zulfikar juga menjelaskan bahwa dalam menilai manusia islam hanya menilai hati dari sisi keimanan. Yakni hati yang memiliki kepercayaan dan kedekatan dengan tuhannya. “Bukan mereka yang memiliki kesempurnaan fisik tapi hatinya jauh dari Allah SWT,” tutur Zulfikar.

Selain itu menurut Zulfikar, sebelum islam datang, difabel dipandang sebagai ujian atau balasan. Namun setelah datangnya agama islam, difabel dipandang sebagai nikmat dari Tuhan. “Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasul, saat seorang muslim terkena ujian, bahkan saat terkena coblosan duri saja dosanya sudah diampuni Allah swt. Orang dengan keterbatasan seperti kita harus merasa bersyukur, karena setiap kita diuji, maka dosa kita telah dihapuskan,” jelasnya.

Mengingatkan para peserta kajian, Fikar juga menyampaikan bahwa Allah swt bersama orang-orang yang sabar. Menjadi difabel yang sabar bisa mengubah difabilitas sebagai sumber pahala untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena ujian adalah cara allah untuk menghapus dosa-dosa.

“Tentu difabel netra tidak akan ditanya tentang pandangan mereka sebagaimana orang-orang awas yang bisa melihat. Inilah nikmat hakiki yang tidak berupa materi. Nikmat hakiki adalah kenikmatan nanti saat kita bertemu Allah kita tidak banyak ditanya dan bisa lebih mudah masuk ke dalam surga. Amin,” kata Zulfikar memberi contoh.

Menurut Zulfikar, setiap manusia akan diuji Allah swt. Tidak cukup bagi manusia mengaku beriman, kecuali Allah swt akan mengujinya. Allah menakdirkan pada orang-orang yang lebih kuat (difabel) untuk diberi ujian berupa hambatan fisik.

Zulfikar menyampaikan islam memberi akomodasi dan kemudahan. Bentuk tersebut menjadi cara dan peringatan bagi manusia agar lebih peduli pada sesama. Dia menekankan islam sudah memikirkan hal yang seharusnya jadi pelajaran bagi manusia untuk bisa membantu dan mengakomodir kebutuhan difabilitas di sekitar mereka.

Dari sana pula Zulfikar berinisiatif untuk mendirikan sekolabilitas pada 2017 untuk membantu difabel. “Masih banyak difabel yang ingin bersekolah tapi orangtuanya tidak tahu kepada siapa harus melobby dan mereka juga tidak tahu harus bagaimana,” terangnya.

Di dalam kesetaraan, Zulfikar mengatakan Islam mengacu saat Rasul menganjurkan seluruh umat islam untuk berkumpul melakukan sholat berjamaah setelah mendengar adzan. Tak ada perbedaan. Islam mengajarkan kesabaran. Bagaimana nondifabel untuk terus peduli pada difabel, terutama bagi orangtua/keluarga yang memiliki anak/anggota keluarga difabel. Hal ini dikarenakan kemenangan umat muslim tergantung dengan bagaimana kaum muslim bersikap terhadap mereka, saudara yang dhuafa.

“Dalam islam sangat dilarang membully, menghina dan mengejek seperti yang dituliskan dalam Qur’an surat Al-Hujurat ayat 11, bahwa kita tidak boleh memanggil dengan sebutan buruk. Itu artinya Qur’an mengajarkan kita agar kita tidak saling menghina, tidak saling mengejek dan tidak saling mentertawakan mereka yang memiliki keterbatasan,” tutur Zulfikar.

Menutup kajian dengan tanya jawab, Zulfikar mengaku terharu karena ini pertama kali datang ke acara pengajian dengan tema islamic event yang diadakan oleh teman difabel. Dia menyatakan dukungan kegiatan semacam agar terus dikembangkan.

“Kita harus terus semangat dan berjuang dengan mimpi sebesar mungkin. Karena kita pasti bisa mendapatkan apa yang kita impikan dengan dua jalan, yaitu dengan doa dan perjuangan,” tutup Zulfikar.

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.