Lompat ke isi utama
 Nabila bersama seorang relawan dalam acara peringatan hari peduli autis 2019 di Taman Monumen Banjarsari.

Nabila, Terapi dan Berorganisasi bikin Hidup Lebih Berarti

 

Solider.id, Surakarta - Nabila namanya. Ia berusia 13 tahun dan anak kedua. Ia cerebral palsy dan berkursi roda. Nabila anak remaja yang potensial, dengan menjalankan berbagai terapi dan mengikuti berbagai organisasi serta komunitas, hidupnya jadi semakin berarti. Anak difabel seperti Nabila membutuhkan akses terapi rutin, agar hambatan yang dimilikinya tidak semakin parah dan ia dapat beraktivitas seperti orang lain, dengan meminimalkan hambatannya.  

Ambar, ibunda Nabila  menceritakan perjalanan dan perjuangan hidupnya bersama Nabila. Saat lahir, Nabila sulit menangis sehingga diperlukan tindakan dokter yang menjadikannya kemudian bereaksi. Ketika menginjak usia enam bulan sebuah kecelakaan menimpanya, bayi Nabila turut jatuh bersama sang ibu saat membonceng sepeda motor. Kemudian terjadi kejadian beruntun seturut bertambahnya usia, Nabila terus menerus mengalami penurunan berat badan, bahkan hingga sampai usia dua tahun berat badan tidak menunjukkan grafik naik, dan ia bergeming pada Bawah Garis Merah (BGM). Menurut penuturan Ambar, tak ada masalah perkembangan intelektual dan kognitif Nabila yang saat ini duduk di kelas 6 SD SLB YPAC Surakarta. Meski verbal masih dirasa ada hambatan, Nabila pernah meraih juara 3 Lomba MIPA Inklusi tingkat Kota Surakarta tahun 2016.

Nabila oleh ibunya diikutkan pada komunitas-komunitas Anak Berkebutuhan Khusus. Beberapa tahun lalu Nabila aktif di Yayasan Cinta Harapan Indonesia (YCHI) dan Autis Center Indonesia (ACI) dari homebase di daerah Ngemplak, kemudian pindah di Tegalharjo. Di sana Nabila mendapatkan terapi gratis dari para relawan. Kemudian Nabila juga aktif di Komunitas Canda yang didirikan oleh para relawan pegiat ABK di tahun 2016. Beberapa bulan lalu Nabila bergabung dalam Forum Orangtua Difabel Surakarta yang menjadi salah satu dampingan dari Tim Advokasi Difabel (TAD) Surakarta.

Saat ini terapi yang dilakukan oleh Ambar kepada Nabila adalah dengan mengakses JKN, dan mendapat terapi gratis dua kali seminggu di RS. Dr. Moewardi. Seminggu sekali Ambar juga mengantar terapi di Yayasan Pangon Utomo yang terletak di Kadipiro, tidak jauh dari kediamannya. Terapi tersebut berbayar namun disubdisi oleh yayasan sehingga berbiaya lebih ringan.

“Dulu ketika masih usia dua tahun, Nabila tidak bisa ngapa-ngapain, tidur berbaring, tengkurep saja tidak bisa. Lalu ketika ditemukan sebagai kasus BGM oleh dinas kesehatan waktu itu saya dipertemukan oleh ibu walikota, kemudian mendapatkan Jamkesmas meski waktu itu prosesnya agak rumit, akhirnya saya mendapat kartu Gold Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS). dan sejak saat itu Nabila mendapatkan terapi gratis di RS. Dr Moewardi. Kartu itu hanya berlaku selama 5 tahun, kemudian akses rumah sakit berubah pindah ke swasta, Nabila pernah ngalamin mogok terapi kemudian masalah itu teratasi, hingga sekarang masih ke RS. Moewardi,” terang Ambar.

Nabila bukan penerima Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Surakarta (BPKMS) sehingga orangtuanya membayar uang SPP sebesar 65 ribu per bulan. Sehari-hari, Nabila diantar oleh ayahnya yang bekerja sebagai sopir ke sekolah lalu ditinggal, kemudian sang ibu menjemputnya dengan naik sepeda Ke rumah sakit pun sang ibu juga mengantar dengan sepeda, dengan memberi tempat duduk di belakang stang sepeda. Nabila nantinya akan digendong oleh sang ibu saat memasuki ruang terapi di rumah sakit.

“Saya tidak bisa naik motor. Jadinya bisanya naik sepeda saja ke mana-mana, dan sepeda saya pun pemberian dari Bapak Rudy (Walikota Surakarta_red) yang diserahkan pada penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) waktu bulan puasa tahun lalu,” pungkas Ambar, yang pernah bersekolah hingga lulus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Surakarta. Ambar menaruh harapan yang besar bagi pendidikan Nabila di masa depan, dengan mengungkapkan bahwa ia akan berusaha supaya Nabila tetap bersekolah di jenjang yang lebih tinggi.

Akses terapi dan penanganan yang tetap mutlak diperlukan untuk memaksimalkan pertumbuhan anak difabel. Sosok Nabila tentu hanya salah satu contoh kasus kecil saja yang terjadi di sebuah tempat. Negara ini masih berkembang, pembangunan  dan kemakmuran warganya pun belum merata. Di berbagai tempat terpencil seperti di sebuah desa misalnya, tantu masih banyak  anak difabel lain yang belum mendapatkan penanganan terapi dan akses terhadap komunitas secara optimal. Oleh karenanya kerja-kerja advokasi mutlak masih diperlukan. Hal yang tak kalah penting, peran negara untuk menyelesaikan persoalan ini patut dikawal dan terus menerus dipastikan pelaksanaanya.

 

Wartawan  : Puji Astuti

Editor         : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.