Lompat ke isi utama
Turunan anak tangga menuju bibir bendungan Mrica

Waduk Mrica Tidak Akses bagi Pengguna Kursi Roda

Solider.id, Banjarnegara – Libur panjang akibat pelaksanaan pemilihan umum 2019 yang berdekatan dengan libur Jumat Agung membuat objek wisata di Banjarnegara ramai dikunjungi oleh warga. Salah satu objek wisata yang kerap menjadi tujuan wisata warga Banjarnegara adalah Bendungan Panglima Jenderal Soedirman atau yang kerap disebut Waduk Mrica.

Bendungan peninggalan presiden Soeharto ini terletak tidak terlalu jauh dari pusat kota Banjarnegara. Dengan jarak hanya sekitar 15 kilometer dari pusat kota, Waduk Mrica yang diklaim merupakan bendungan terpanjang di Asia Tenggara ini termasuk salah satu objek wisata incaran bagi mereka yang tidak ingin terlalu jauh meninggalkan pusat kota Banjarnegara.

Waduk Mrica menyajikan bentang waduk atau bendungan dengan fasilitas perahu kecil yang bisa disewa untuk berkeliling area bendungan. Dari pintu gerbang, para pengunjung yang datang harus menaiki beberapa anak tangga untuk bisa masuk ke dalam kawasan utama bendungan. Dari situ, para pengunjung bisa menikmati indahnya hamparan waduk dengan total luas 1.250 Hektar.  Para pengunjung juga harus menuruni anak tangga untuk bisa sampai ke bibir bendungan untuk bisa menaiki perahu yang bisa disewa.

Meski menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi masyarakat, tidak semua orang bisa datang dan masuk dengan leluasa. Irul Mulyadi (23) termasuk orang yang tidak seleluasa tersebut. Ia adalah seorang difabel pengguna kursi roda yang tinggal di seputaran Waduk Mrica. Meski tinggal dan besar di pemukiman sekitar bendungan, kesempatan Irul untuk masuk dan melihat keindahan bendungan hanya bisa dihitung jari saja.

“Tidak lebih dari tiga kali bisa masuk. Itu pun dulu waktu kecil, bisa digendong masuk. Kalau sekarang susah, karena pakai kursi roda dan tempatnya tidak bisa dilewati,” ujarnya.

Irul merasa bahwa areal bendungan yang terbuka untuk pengunjung memang tidak terlalu mengedepankan akses bagi difabel pengguna kursi roda seperti dirinya. Area anak tangga yang berada di depan loket pembelian tiket juga terlalu tinggi.

“Dulu sempat saudara pas lebaran mau wisata di situ. Saya mau dibantu diangkat pas waktu itu, tapi lumayan tinggi dan banyak lumutnya jadi takut kepleset yang mau ngangkat,” kenang Irul.

Masih menurut Irul, para petugas yang ada di tempat wisata kadang juga tidak terlalu ramah dan paham tentang wisatawan difabel. Banyak dari mereka yang tidak mengerti bahwa tempat wisata ini memang seharusnya dibuat akses untuk semua kalangan, termasuk difabel. 

V. Eichhorn dan D. Buhalis dalam bab Accessibility: A Key Objective for The Tourism Industry yang mereka tulis pada buku Accessible Tourism: Concepts and Issues, mengedepankan prinsip Tourism for All untuk memberikan akomodasi bagi semua kalangan, termasuk difabel, untuk bisa masuk dan mengakses tempat wisata.  Dalam tulisannya, Eichhorn dan Buhalis menekankan bahwa aksesibilitas pada tempat wisata merupakan kerangka yang harus ada ketika penyedia tempat wisata berfokus pada produk dan layanan wisata. Aksesibilitas menjadi satu dari apa yang disebut sebagai ‘A’ enam: amenities (fasilitas), attraction (daya tarik), ancillary services (layanan tambahan), activities (aktifitas), available tourism packages (paket wisata yang tersedia), dan accessibility (aksesibilitas). Aksesibilitas di sini tidak hanya terkait dengan akses fisik menuju dan pada tempat wisata, namun juga akses nonfisik terkait pelayanan dan komunikasi.

Eichhorn dan Buhalis juga membedah hambatan yang ada pada tempat wisata bagi difabel  dalam tiga kategori: hambatan fisik (physical barriers), hambatan yang berupa perilaku (attitudinal barriers) dan kurangnya informasi. Hambatan fisik menjadi masalah yang paling sering ditemui oleh wisatawan difabel dalam menjangkau tempat wisata. Hambatan fisik bisa seperti anak tangga yang tidak akses bagi pengguna kursi roda, ketiadaan lift, tidak adanya jalur ramp bagi difabel netra atau bahkan sarana transportasi menuju tempat wisata yang tidak aksesibel.

Lalu ada hambatan yang berupa perilaku. Hambatan ini bahkan bisa dimulai dari persepsi penyedia layanan transportasi khusus wisata yang menganggap difabel merupakan kalangan yang tidak mampu mengakses tempat wisata. Persepsi ini juga banyak muncul pada petugas yang ada di tempat wisata. Akibatnya  hal ini membuat mereka merasa tidak perlu untuk menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi difabel.

Yang ketiga adalah kurangnya informasi. Hambatan fisik dan hambatan yang berupa perilaku kemudian diperlengkap dengan ketidakmampuan dari patugas yang ada di area wisata maupun penyedia transportasi khusus wisata yang kerap tidak mampu memberikan informasi yang benar terhadap wisatawan difabel. Hal ini kemudian memberikan pertanyaan baru apakah petugas di area tempat wisata dan penyedia jasa transportasi khusus wisata berperan sebagai fasilitator pada kegiatan wisata atau justru malah menjadi hambatan itu sendiri.

Pengalaman Irul yang tinggal di dekat Waduk Mrica namun tidak banyak bisa mengakses tempat wisata tersebut memberikan pemahaman bahwa tempat wisata seperti Waduk Mrica memang masih menghambat wisatawan difabel baik secara fisik, secara perilaku serta secara informasi yang kurang banyak tersedia.

 

Wartawan: Yuhda

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.