Lompat ke isi utama
Baliho Dian Hastiwi Caleg Kulon Progo Nomor Urut 6

Dian Hastiwi: Pengalaman yang Penting, Bukan Menang atau Kalah

Solider.id, Kulonproge – Sampai hampir sepekan setelah hari pemilihan umum 2019, Dian Hastiwi, salah seorang calon legislatif dari Kulonprogo masih menunggu hasil penghitungan suara oleh KPU. Ia mencoba mengelola harapannya sampai pengumuman resmi rekapitulasi dari KPU.

“Sekarang masih menunggu hasil dari KPU. Tidak bisa mendahului KPU. Tunggu saja,” ujar Dian.

Pada pemilihan umum tahun ini, Dian menjadi satu dari sedikit calon legislatif dari kalangan difabel yang maju mencalonkan diri. Dian menjadi calon legislatif DPRD Provinsi DIY melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) daerah pemilihan empat Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor urut 6.

Ini adalah pengalaman pertama bagi Dian untuk maju sebagai calon legislatif. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan maju seperti ini sebelumnya. Apalagi, realitas sebagai difabel yang selama ini terbatas secara akses semakin memperkecil keinginan tersebut. Karena pengalaman pertama, ia tidak terlalu berharap pada hasil yang akan ia dapat nanti. Menurutnya ada hal yang lebih penting dari sekedar menang atau kalah di pemilihan calon legislatif.  

“Menang atau kalah di pemilu legislatif ini bukan merupakan hal yang utama. Bagi saya, yang terpenting adalah semakin terbukanya kesempatan bagi difabel untuk maju sebagai calon legislatif untuk memperjuangan hak-hak kami sebagai warga masyarakat Indonesia. Saya senang karena kami sudah dianggap mampu untuk menjadi calon legislatif,” ungkap Dian.

Meski begitu, ia berharap difabel bisa punya kesempatan yang lebih besar lagi dalam menggunakan haknya untuk maju dalam pemilihan umum.

Dian mengaku tidak seaktif rekan-rekan calon legislatif lain saat berkampanye memperkenalkan diri dan program yang akan dilakukan. Kampanye dan sosialisasi tentang dirinya hanya ia fokuskan pada komunitas difabel saja.

“Saya tak banyak berkampanye, paling hanya keliling ke komunitas difabel saja yang ada di Yogyakarta karena mereka yang akan saya wakili. Saya keliling ke DPO se Jogja,” terang Dian.

Strategi seperti ini ia pilih karena terkendala dana. Untuk melakukan kampanye ke seluruh masyarakat menurutnya membutuhkan banyak biaya. Sebagai calon legislatif dari perwakilan difabel yang langsung mendapatkan tawaran dari partai, ia hanya berkampanye menggunakan dukungan yang datang dari partai saja.

“Kampanye hanya menggunakan beberapa banner yang dikasih partai. Terus partai juga kasih kaos dan beberapa kalender untuk dibagi,” terang ibu satu anak ini.

Baginya, strategi minimal seperti itu tidak menjadi masalah karena niat awal ia mau menerima tawaran dari partai untuk maju sebagai calon legislatif didorong oleh keinginan untuk belajar. Ia mengaku hanya ingin menimba pengalaman saja. Baginya tidak masalah jika ia kalah dalam kontestasi politik ini.

“Dari awal kan hanya untuk pengalaman saja. Tidak terlalu berambisi,” ujarnya.  

Dian merasa ada satu pelajaran penting dari pengalamannya mengikuti kontestasi politik kali ini. Pelajaran itu adalah kerja keras yang harus dilalui oleh siapa saja, baik itu difabel atau nondifabel untuk mengusahakan perubahan.

“Bagi saya, mau difabel atau nondifabel, jika orang ingin sukses maka dia harus kerja keras. Itu yang saya pelajari di pengalaman maju calon legislatif ini,” ungkap Dian.

Ia melanjutkan bahwa kerja keras yang ia alami sudah dimulai saat ia mulai mendaftar dengan berbagai macam proses yang harus ia lalui dari awal. Proses tersebut membutuhkan tenaga dan pikiran yang lebih. Bahkan, ia mengaku sampai kehabisan tenaga dan sempat sakit. Tapi, pengalaman tersebut sungguh penting baginya.

 

Wartawan: Yuhda

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.