Lompat ke isi utama
suasana ujian nasional di MTs Yaketunis

Tidak Ada Soal Braille, 12 Siswa Difabel Netra MTs Yaketunis Kerjakan Soal Awas

Solider.id.Yogyakarta - Ada yang tidak biasa pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada Senin (22/4/2019) bagi siswa kelas IX MTs Yaketunis Yogyakarta. Jika pada tahun-tahun sebelumnya para siswa mengerjakan soal-soal braille saat UN, kali ini sejumlah 12 siswa mengerjakan soal awas.

Rencana awal 12 siswa  peserta akan melaksanakan UN dalam satu ruangan dengan satu orang pengawas. Karena ketiadaan soal braille, diantisipasi dengan modifikasi pelaksanaan UN. Yakni dipecah menjadi  tiga kelas, satu siswa dengan satu pendamping yang membantu membacakan soal dan melingkari jawaban.

Masing-masing siswa berbeda kode soal yang dikerjakan, sehingga tidak sama jenis soal antar satu anak dengan lainnya. Ruang ujian yang biasanya kondusif (tidak berisik, konsentrasi, bahkan cenderung sunyi) tidak terjadi pada pelaksanaan UN Siswa MTs Yaketunis. Tidak berbeda dengan sedang berada di keramaian, akibat para pendamping masing-masing membacakan soal ujian kepada tiap-tiap siswa yang didampinginya.

Sesuai prosedur

Hasil klarifikasi Solider dengan Kepala MTs Yakketunis Dania Mustikawati, ketidak biasaan tersebut di luar kuasa pihak sekolah. Artinya sekolah sudah melakukan prosedur dengan benar. Yakni mengajukan permohonan UN melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), disertai detail spesifikasi hambatan siswa serta kebutuhan soal UN bagi kedua belas siswa kelas IX.

“Murid kami seluruhnya 12 orang yang akan mengikuti UN. Secara detail sudah kami laporkan, yakni 11 orang dengan kebutuhan soal braille, sedang satu siswa soal diperbesar karena low vision. Itu sudah secara prosedural kami kirimkan ke Disdikpora DIY pada Minggu ketiga Februari 2019,” ungkap Dania, Senin (22/4).

Selanjutnya koordinasi kami lakukan dengan pihak Disdikpora DIY untuk memohon solusi, kata Dania. “Kami diberikan dua solusi, pertama, tetap melaksanakan UN sesuai jadwal dengan soal awas, kedua, UN ditunda pada 26 dan 27 April menunggu hingga soal braille siap,” tuturnya.

Dalam keterangannya Dania mengutarakan, berdasar rapat koordinasi dengan sekolah, psikis para siswa menjadi pertimbangan utama. Sehingga UN diputuskan tetap dilaksanakan sebagaimana jadwal,  Senin – Kamis (22-25 April 2019).

Soal awas dicetak oleh pihak sekolah, dengan teknik pelaksanaan satu siswa satu pendamping. Adapun untuk mengatasi persoalan pendamping, MTs bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Fisika yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL).

Tak kondusif

Kondisi tidak kondusif ditangkap oleh pengawas UN, Sunarsih. Seorang guru  yang biasa bertugas di MTS Negeri 1 Yogyakarta ini merasakan ketidak nyamanan. Namun demikian, Sunarsih mengatakan tidak melanjutkan menegur para pendamping yang membaca soal teralu keras.

“Setelah usai UN hari pertama ini nanti, kita akan adakan evaluasi bersama kepala sekolah dan para pendamping. Dengan harapan semua siswa merasa tidak terganggu dengan suara saut menyaut antar pendamping. Dengan demikian hasil UN akan dapat dimaksimalkan,” tandasnya.

Sistem tidak deteksi

Terkait ketiadaan soal braille sempat dilakukan klarifikasi Solider ke Disdikpora DIY. Menurut Kabid Analisis dan Sistem Penilaian Pusat Penilaian dan Pendidikan (Puspendik), Benny Widaryanto, Disdikpora DIY sudah mengirim surat permohonan ke kementerian pendidikan terkait kebutuhan soal braille bagi siswa difabel netra Yaketunnis.

“Disdikpora sudah mengirimkan permohonan ke pusat berdasar permohonan dari MTs Yaketunis. Arsip pengiriman tertanggal 27 Februari 2019. Yakni permohonan 11 siswa dengan kebutuhan soal braille, dan satu siswa soal diperbesar,” tegas Benny.

Lanjut Benny, spesifikasi kedifabilitasan kedua belas siswa MTs Yaketunis tidak terdeteksi oleh sistem. Sehingga yang yang terjadi tidak ada pengiriman soal braille.

Belajar dari kasus yang terjadi di MTs Yaketunis, pada akhirnya semua hanya bisa mengambil hikmah. Menyelesaikan kasus baru baik bagi sekolah maupun Disdikpora, dengan solusi yang terbaik.

Dan akhirnya kami dapat membuat solusi yang terbaik. Dengan harapan tahun depan tidak terjadi lagi, atau para siswa demikian juga sekolah siap melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

 

Wartawan: Harta Nining Wijaya

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.