Lompat ke isi utama
 Erma Eni(19) dan TPS 93 tempatnya memberikan suara.

Cerita Dwi Lestari dan Difabel Surakarta saat Mencoblos

Solider.id, Surakarta- Dwi Lestari adalah pegiat difabel desa yang juga bekerja menjadi pendamping sosial masyarakat dari Dinas Permades Sukoharjo. “Saya ada di TPS 06 Dukuh Brebes RT 02 RW 05 Kelurahan Kedungjambal Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo. Saya melihat banyak yang masih bingung dan kebanyakan hanya mencoblos paslon presiden,”terang Dwi Lestari pada Solider.

Gadis kelahiran Solo, 20 November 1998 itu mengungkapkan bahwa di desa tempatnya tinggal  sangat minim sosialisasi sehingga masyarakat difabel juga sangat minim untuk hadir. Menurutnya difabel sudah mendapatkan hak semuanya dengan masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan mendapatkan undangan mencoblos.  Namun mereka dilarang keluarganya khususnya ODGJ karena keluarga takut mengamuk. Dwi melanjutkan, “Aksesibilitas di TPS kami sudah bagus dan pihak TPS sudah memberikan pendampingan”.  

Dwi Lestari merasakan kesulitan saat hendak mengkoordinasi kawan-kawan difabel di desanya. “Karena saya kesulitan menyuruh teman-teman hadir dalam pemilu,  mereka malu. Padahal di desa saya tidak ada yang mencemooh atau apa pun” imbuh Dwi Lestari.

Dwi Lestari pernah mengikuti sosdiklih pemilih pemula untuk perempuan dan dia ingin menularkan pengetahuan tersebut. Ada dua ODGJ yakni Suwarni dan Suwardi, dari 16 ODGJ yang mendapatkan undangan tetapi yang hadir ke TPS hanya mereka berdua. “Di sini tidak ada anggota relasi (relawan demokrasi) yang melakukan sosdiklih. Hanya sekali ada Februari saja sama Eko staf dari Sehati. Karena yang paham informasi tentang Pemilu hanya orang-orang di balai desa saja. Partisipasi difabel dalam pemilu masih sangat kurang,”terangnya.

Dwi Lestari semula bekerja sebagai staf administrasi pada sebuah perusahaan, lalu dalam pendampingan desa dia kemudian dikukuhkan sebagai Pendamping Sosial Masyarakat dari Dinas Permades dan jadi mendampingi teman-teman difabel. Semenjak Dwi Lestari masuk dan mengikuti dengan aktif di Paguyuban Sehati, ia sering mengadvokasi segala kebijakan terutama kebjakan terkait difabilitas.

Dwi kemudian membentuk SHG desa agar ada kegiatan. Menurutnya semua mendukung dan telah mendapatkan anggaran. Tetapi pemerintah desa masih ingin ada sosialisasi tentang desa indklusi bagaimana. “Besaran anggaran untuk konsumsi sebesar 7,5 hingga 8 juta. Tetapi kegiatan dimasukkan dalam anggaran perubahan. Pemerintah desa sangat mendukung apalagi besok akan ada kegiatan kolaborasi dengan PKK dan masyarakat. Sementara untuk ODGJ ada therapy bekam khusus.  Minimnya partisipasi ODGJ dalam pilpres kali ini adalah pekerjaan rumah bagi kami, ”ujar Dwi Lestari.

 

Icuk Sugiarto dan Antrean yang Nggak Akses

Lain cerita yang terlontar dari Icuk Sugiarto, difabel little people yang tinggal di Rusun Purwodingratan Kelurahan Jebres Kota Surakarta kepada Solider bercerita. “Saya mengantre lama sekali, empat jam-an, padahal dulu sih tidak begini. Saya mengira akan cepat ya, makanya jam 9 saya baru sampai ke TPS. Terus ditanya mana kertas undangannya. Dia kemudian menyuruh antre dulu, nanti akan dipanggil. Terus saya menyanggah, apakah bisa dipercepat, tetapi petugas bilang kalau tetap harus antre,” ujar Icuk Sugiarto.

Menurutnya, padahal ada sekitar 200 orang. Icuk lalu berhitung dengan membatin padahal mencoblos butuh waktu 10 menit, bakalan tidak akan selesai di jam 13.00. Maka kemudian ia pulang dan tidur. Sebelumnya ia masih menyanggah kepada petuga KPPS karena ia boleh didahulukan. Lalu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mengingatkannya untuk bersabar bersama pemilih lainnya. “Saya bilang kalau waktu saya nggak nyandak (nyampai-red) maka saya golput. Kemudian tiba giliran saya, saya dicari oleh 10 orang kader juang. Saya yang tengah tidur di rumah, lalu bangun dan datang ke TPS lagi dan mencoblos di jam 13.30”

Icuk Sugiarto mencoblos di TPS 12 Purwodiningratan, Jebres. Menurutnya, di TPS 07 difabel diprioritaskan sehubungan kawan difabel yang sama-sama menghuni rusunawa.  

Pemilu Pertama Bagi Erma Eni

Erma Eni (19), difabel intelektual, warga Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta untuk pertama kali ini mendapatkan pengalaman mencoblos pada pemilu presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) 2019. Erma siswa SLB A Autis Bina Asih Surakarta. Tiga hari sebelum pencoblosan, Erma menerima undangan mencoblos, formulir C6. Erma terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Erma mendapat antrean tidak lebih dari 20 orang berurutan dengan ibunya. Tidak ada dispensasi antrean bagi Erma dan dia nyaman saja mengantre saat hendak mencoblos. Ia tak mengalami kesulitan saat mencoblos. Karena sang ibu menjadi pendamping saat di bilik suara dengan sebelumnya mengisi formulir pendamping atau C3. Teguh Rahayu ibunda Erma Eni mengatakan bahwa sebelumnya pernah mendapatkan sosialisasi untuk mengenal lima macam surat suara. Jadi pihaknya tidak mempermasalahkan tentang pengenalan surat suara.

Usai mencoblos, Erma dan ibunya kemudian tampak cerah-ceria. Ini ditunjukkan dengan mengangkat jari kelingkingnya yang masih menyisakan tinta ungu saat difoto. Teguh Rahayu lalu mengatakan kepada Solider bahwa dirinya hendak mengikuti proses demokrasi ini sampai kelar, setelah menuntaskan hak politiknya. “Saya ingin melihat proses penghitungan suara nanti,”terangnya.  

 

Wartawan: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.