Lompat ke isi utama
dokumentasi sesi sharing bersama BISINDO

Sharing Session Peran Bisindo dalam Tumbuh Kembang Anak Tuli

Sharing Session Keluarga BISINDOSolider.id, Yogyakarta - Komunitas Keluarga BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) kembali adakan sharing session bersama dengan orang tua yang memiliki anak Tuli. Kali ini Keluarga Bisindo mengadakan sharing session dengan tema Peran Bisindo dalam Tumbuh Kembang Anak Tuli yang diselenggaraka di Kantor Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada hari Rabu, 10 April 2019.

 

Dengan menyajikan lima orang pemateri, kegiatan ini diikuti oleh 50 orang tua yang memiliki anak Tuli. Mereka yang mengajak serta anaknya, diberi ruang khusus untuk saling belajar dan bermain bersama dengan Tuli dewasa. Lima pemateri yang hadir adalah Laura Lesmana sebagai Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, Herbert Klein sebagai penasihat kesehatan mental Tuli dari Inggris, Wahyu Triwibowo dari BPO DIY, Phieter Angdika sebagai Ketua Gerkatin (Gerakan untuk Kesejateraan Tuna Rungu Indonesia) Kepemudaan, dan Udana Maajid sebagai peserta kemah World Federation of the Deaf Youth Section di Argentina 2018.

Kelima pemateri sepakat bahwa bahasa isyarat adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Hal ini  dapat membentuk mereka menjadi karakter seperti sekarang. Pengalaman Herbert Klein menangani anak Tuli yang memiliki masalah dengan orang tuanya, ternyata karena kurangnya komunikasi yang efektif antara orang tua dan sang anak. “Kami di Inggris bekerja secara tim. Selain ada psikiater, ada juga juru bahasa isyarat. Contohnya ada orang tua yang sudah memakaikan cochlear implant kepada anaknya yang Tuli berusia 4 tahun. Ternyata masih menemukan hambatan dalam berkomunikasi, anak itu masih sering marah-marah dan hiperaktif. Namun hambatan itu berkurang saat kami sarankan untuk mulai menggunakan bahasa isyarat. Anak itu terlihat senang”, ungkap Herbert.

Senada dengan penyampaian Herbert, Udana Maajid yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar Karnamanohara Yogyakarta juga berpendapat bahwa bahasa isyarat membuatnya mampu belajar hal-hal positif dan bisa percaya diri. “Saat di Argentina, saya juga mendapat banyak keuntungan misalnya belajar cara menyelamatkan diri dari kebakaran, mengetahui kebiasaan Tuli dari negara lain, dan berkesempatan mempresentasikan budaya dan bahasa isyarat Indonesia kepada peserta dari negara lain”, ujar Udana.

Dewi, salah satu peserta yang dating dari Pati menyampaikan, “Saya melihat masalah tidak murni karena anak kita Tuli, namun bisa juga masalah itu ada karena lingkungannya, atau sebenarnya orang tuanya yang perlu ‘diperbaiki’. Melihat pemateri tadi, saya menilai anak kita yang Tuli bukan kemudian tidak mengetahui sopan santun atau perkembangannya terlambat. Saya ingin menunjukkan kepada teman-teman di Pati bahwa ada orang tua yang berhasil dengan menerapkan Bisindo kepada anaknya”, pungkas Dewi.  

 

Wartawan: Ramadhany Rahmi

Editor    : Ajiwan Arief 

The subscriber's email address.