Lompat ke isi utama
Maria Vita Octorina

Peran Seorang Ibu bagi Maria Vita Octorina

Solider.id, Semarang- “Dia Tuli total. Bila sekarang dia bisa bicara, inilah mukjizat Tuhan yang saya terima. Saya hanya orangtua yang berusaha dengan kemampuan saya,” tutur perempuan paruh baya yang sedang menemani obrolan. Dia adalah Sri Lestari, seorang ibu yang akan menceritakan perjuangan saat membesarkan anak sulungnya yang memiliki hambatan pendengaran.

Sisa hujan menyisakan suasana lengang. Salah satu rumah di jalan Candi Persil 413E, Kaliwiru, Semarang, terlihat tenang. Solider menjumpai Maria Vita Octorina, seorang perempuan berusia 32 tahun. Ia adalah salah satu tenaga pengajar terapi bicara di Sanggar Efata, Rumah Pintar untuk anak-anak dengan hambatan pendengaran.

Perempuan yang akrab disapa Vita itu kelahiran Tegal, 20 Oktober 1987. Ia adalah sulung dari empat bersaudara dari pasangan Sri Lestari (56 tahun) dan Bambang Esti Wiwoho (61 tahun). Ia lebih terkesan cuek dan pendiam, namun sesekali ia melempar senyum. Ia menyambut hangat dan mempersilakan, sebelum melanjutkan obrolan.

“Bagaimana kalau ditemani Mama? Karena sejak kecil saya tidak paham,” tutur Vita (08/04).

“Mohon maaf kali ini Vita agak kurang nyambung, karena alat bantu yang dia gunakan sedang rusak,” sambung Sri.

Sri menjelaskan alat bantu dengar Vita sudah dibeli sejak tujuh tahun silam. Maka saat Sri Lestari membantu menyampaikan, Vita hanya mengangguk mengiyakan.

Lalu mengalirlah sepotong demi sepotong kisah perjalanan, saat mereka bersama melalui masa sulit yang penuh perjuangan.

“Semula papanya hanya memperhatikan saat dia bermain. Saat teman-temannya saling bicara Vita hanya bisa melihat gerak bibir mereka. Dari situ kami coba membawa Vita ke THT. Dari THT karena tidak ada kelainan, kami disarankan untuk menunggu dua tahun ke depan,” kisah Sri. Di sisinya, Vita sedang menyimak dengan tenang.

“Rasanya menunggu dua tahun terlalu lama. Hingga kemudian Vita dirujuk untuk bisa tes Berra di Jakarta. Dengan alat yang masih terbatas dan seadanya, tahulah kami bahwa ternyata Vita mengalami hambatan pendengaran.” Sri melanjutkan sambil mengingat kejadian beberapa masa silam.

Tak ingin berlama-lama larut dalam kecewa yang sempat ia rasakan, Sri mendaftarkan Vita di SLB Widya Bhakti. Selain itu Sri juga mengikutkan Vita dalam speech therapy. Namun biaya pengobatan yang tidak sebanding dengan gaji yang didapatkannya, Sri lebih banyak pasrah dan berdoa, berharap anaknya bisa berkomunikasi.

Sri ikut terlibat dalam terapi bicara Vita, sampai akhirnya turut memahami pola komunikasi anaknya. Di rumah dia mengajar ulang materi yang mereka dapatkan selama ikut terapi bicara hingga Vita menunjukkan perkembangan.

Bagi Sri, ada tiga hal yang harus dikuasai orangtua sepertinya untuk membantu terapi. Pertama, munjukkan wujud bendanya. Kedua, lalu mengajarkan bagaimana cara menulisnya. Ketiga, menyampaikan bagaimana cara melafalkan atau mengucapkan.

“Jadi misal kita tunjukkan buku, maka kita juga harus menuliskan kata buku, lalu kita ajarkan bagaimana cara mengucap kata buku. Ini lho wujud barangnyanya, ini lho tulisannya dan begini lho cara ngucapnya,” tutur Sri mencontohkan.

Kini Vita bisa berbicara lebih dari apa yang Sri harapkan. Tak mudah menjalani perjuangan yang dilakukan, Sri Lestari juga sempat merasakan penolakan. “Tapi saya tidak malu punya anak seperti dia. Setiap ada kegiatan saya justru selalu mengajaknya keluar agar ia juga tahu dan mengenal lingkungan,” ujarnya. “Merasa down itu pasti ya?” lanjutnya.

Terlebih saat Sri menemani Vita masuk SLB. Teman-temannya semua tidak bisa bicara. Dia merasa seolah tidak bisa menerima. Sambil menunggu Vita bersekolah, dia bisa melihat langsung dan tahu bagaimana Vita berkegiatan bersama teman-teman.

Setelah pulang sekolah Sri langsung membawa Vita untuk ikut terapi bicara. Rasa capek jadi hilang karena semangatnya dan perjuangan jadi lebih terasa saat melihat perkembangan anaknya.

“Yang paling nggregel (Red: menyentuh, Bahasa Jawa) saat saya bertemu dengan anak-anak Efata yang kondisinya sama seperti dia. Saya suka mengingatkan Vita, dulu kamu sama seperti mereka. Mama juga melakukan hal sama dengan mama-mama seperti mereka.” Di samping Sri Lestari, Vita hanya tersenyum mengiyakan.

Dua tahun mengenyam pendidikan di SLB Widya Bhakti, Sri Lestari disarankan untuk mendaftarkan Vita di sekolah dasar reguler. Menurutnya, jika terlalu lama di SLB maka anak tidak akan berkembang.

“Sama kepala sekolah saya disarankan untuk mendaftarkan Vita di SD Don Bosco. Rasa khawatir itu ada, apa anak saya mampu? Tapi saat saya sampaikan pada guru di sekolah, ternyata guru kelas dan lingkungan mendukung kondisi Vita,” terang Sri.

Sri melanjutkan, gurunya membantu memberikan pemahaman pada siswa lain, bahwa mereka punya teman dengan kondisi khusus yang harus diperlakukan sama. “Dan anak-anak merangkul Vita. Saat istirahat diajak bermain. Saatnya belajar membaca Vita juga harus membaca. Saatnya tugas menyanyi Vita juga harus maju menyanyi. Tidak ada yang istimewa. Hanya untuk menunjukkan kemampuannya.” Menyimak Sri Lestari, Vita mengenang masa-masa sekolah dengan kesan kebahagiaan.

“Dulu waktu SD disuruh baca dongeng. Pelan-pelan. Saya baca terus dan terus. Terbawa dan larut pada bacaan tidak terasa jadi lancar. Saya sampai tidak terasa kalau saya sudah selesai membaca dongeng,” kisah Sri.

Vita melanjutkan sekolah di SMP Fransiskus dan SMK Antonius dengan teman dan guru yang mendukung kondisinya. Hal itu membuat Vita semakin semangat untuk melanjutkan kuliah. Vita melaju ke bangku kuliah dengan mengambil Fakultas Seni Budaya jurusan Kearsipan Universitas Diponegoro.

Baru beberapa bulan kuliah di Kearsipan Undip Vita ikut lolos dalam seleksi beasiswa dari Belanda. Jadilah Vita kuliah dengan biaya negara dan berhasil lulus Diploma tiga tahun 2011 dengan predikat Cum Laude lewat indek prestasi 3,20 yang diraihnya.

Mengisahkan pengalaman awal bagaimana ia harus menghadapi anak didiknya, Vita tertawa kecil dengan sedikit tertahan. Malu-malu Vita menyatakan bahwa mengajar terapi bicara menjadi cara mewujudkan kecintaannya pada dunia anak-anak. “Meski anak laki-laki suka lari sana lari sini, saya akan mendatangi mereka untuk saya ajak duduk kembali. Duduk sebentar nanti sudah lari-lari lagi.” Bercerita tentang anak-anak didiknya, dengan gaya bicaranya yang pelan dan halus, intonasi Vita terdengar bagus.

Vita mengajarkan bicara, berhitung dan menulis angka, ia selalu merasa bahagia saat mengajak mereka untuk mengenal huruf melalui menulis, membaca dan benda berupa mainan edukasi. Meski baru setahun mengajar terapi bicara, namun Vita tak pernah merasa malu belajar hal baru. “Gugup juga. Apalagi kalau orangtua anak-anak banyak yang tidak sabaran. Mereka maunya anak-anak duduk diam,” tuturnya.

Selain itu Vita juga menguasai ketrampilan menari beberapa tarian daerah dan sering pentas sejak masih sekolah dasar.  Kini ia lebih menekuni dunia barunya sebagai istri dari Rangga Christian Mogalana. Menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, ia lebih suka mengeksplorasi ketrampilan memasaknya.

Tak jarang dengan keahlian rias dan tata rambutnya, di sela waktu mengajar terapi bicara Vita memilih mendampingi anak-anak muridnya saat akan tampil pentas menari atau fashion show dengan menjadi perias bagi mereka.

Sesekali untuk mengisi waktu luang, dengan kreatifitasnya Vita juga membuat aneka pernik perhiasan (kalung, anting, bros dan gelang) yang dipasarkan di bawah naungan Echa Handmade Accecories, wadah bagi para orangtua murid tempatnya mengajar.

Vita menerapkan bekal pengetahuan yang didapatnya dari sang Mama. “Saya ingin anak-anak bisa komunikasi seperti saya. Itu saja.” Singkat, Vita menjelaskan.

Dalam kegiatan bersama para orangtua anak didik Vita yang lebih bersifat keluargaan, Sri Lestari tak segan menyuntik semangat dengan apa yang pernah ia dapatkan. Ia akan berbagi pengalaman demi mendukung mereka agar tak patah arang melakukan usaha dan perjuangan.

 

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.