Lompat ke isi utama
Sapto Nugroho

Sapto Nugroho dan Sekolah Ideologi Kenormalan yang Diusungnya

(Sebuah Obituari)

Solider.id, Surakarta - Sapto Nugroho, sebuah nama yang dikenal sebagai aktivis difabel di Solo sejak tahun 1990-an.  Melalui gerakan difabilitas, ia mendirikan Yayasan Talenta pada tahun 1999-an. Ia membangun paradigma baru dan membongkar ideologi kecacatan lalu lahirlah “Ideologi Kenormalan”. Ia membongkar terminologi kata “cacat’ yang mendiskriminasi dan mengalienisasi difabel. Ia mengatakan bahwa selama ini yang dipahami awam adalah yang disebut normal itu orang yang memiliki organ lengkap dan berfungsi, dan jika seseorang memiliki organ lengkap tetapi satu atau dua organ tidak berfungsi maka menyebutnya sebagai orang tidak normal. Dikutip dari Kompas, 23/9/2009, dalam sebuah wawancara Sapto Nugroho mengatakan, “Meskipun ideologi ini tak ada di kurikulum sekolah-sekolah, dampaknya sangat kuat mempengaruhi cara berpikir semua orang.”

Sapto juga dikenal sebagai aktivis difabel yang turut mengadvokasi terbitnya Perda Surakarta Nomor 2 Tahun 2008 tentang Kesetaraan Difabel. Ia bergerak bersama-sama dengan pegiat difabel lainnya yang tergabung dalam Yayasan Interaksi serta melalui konsorsium. Perda Kesetaraan Difabel Nomor 2 Tahun 2008 tercatat sebagai Perda pertama yang menggunakan terminologi difabel, jauh sebelum Indonesia turut meratifikasi UNCRPD di tahun 2009.

Sapto Nugroho, terakhir bekerja di PPRBM Solo tahun 2018 sebagai staf media. Waktu mengantor terkahir kali adalah di bulan September sebelum serangan stroke ringan pertama menimpanya yang kemudian disusul stroke berikutnya yang berujung pada sakit gagal ginjal yang mengharuskan dirinya rutin melakukan hemodialisa. Di PPRBM Solo, Ia juga melakukan tugas monitoring dan evaluasi serta fasilitator yang handal untuk program BMZ. Beberapa kali penulis berinteraksi dan bekerja bareng Sapto Nugroho saat dirinya turun ke pelosok-pelosok desa. Ia berkunjung ke   kelompok-kelompok difabel desa dan memberikan penguatan kapasitas dengan pengetahuan tentang ideologi kenormalan. Penulis sendiri adalah lulusan angkatan kedua tahun 2014 Sekolah Ideologi Kenormalan yang didirikannya. 

Pengalaman pertama penulis karena saat itu berinteraksi dengan 15-an peserta yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Seorang peserta pegiat difabel datang dari Jakarta. Tidak hanya difabel saja, namun juga peserta nondifabel selama tiga hari membedah istilah dan pemikiran tentang ideologi kenormalan. “Kalian pada diskusi sik, aku nyambi sambil merem ya,” demikian gurauannya ketika itu untuk memecah keseriusan para peserta. Bertempat di asrama perawat Rumah Sakit Brayat Minulya, penulis dan para peserta lainnya menikmati sajian makanan sederhana nan lezat yang dimasak sendiri oleh Pamikatsih, istri Sapto Nugroho. Di hari ketiga, sekolah ideologi kenormalan yang kami akses dengan gratis, semua peserta mendapatkan pencerahan dengan materi yang disajikan oleh Pamikatsih yakni tentang Social Entrepreneurship.

Sapto Nugroho di Mata Kawan-kawannya

Sebuah pernyataan tentang labuh- labet atau pengabdian Sapto Nugroho datang dari pegiat difabel asal Kecamatan Mojogedang. Sartono namanya. Ia pertama kali bertemu dengan Sapto Nugroho lewat media sosial dan membaca beberapa tulisan di Surat Kabar kemudian berlanjut ke pertemuan langsung. Peristiwa perjumpaan itu tepatnya di bulan Desember 2013. Berlokasi di asrama perawat RS Brayat Minulya, Sartono mendaftar sebagai murid dari “Sekolah Ideologi Kenormalan” angkatan pertama. Pesertanya ada yang mahasiswa dari Yogya, masyarakat nondifabel, dan ada juga peserta dari Kabupaten Jepara,  Robby  difabel Forum Disabilitas Daksa Jepara. Ada juga peserta difabel dari Nganjuk Jawa Timur dan beberapa yang lain. Acara diselenggarakan selama tiga hari dan materinya dipadatkan. “Pada sesi pertama cukup bingung karena banyak benturan pemikiran.  Karena kami diuji tentang permasalahan sendiri seberapa jauh pemahaman tentang konsep diri, belenggu pemikiran dan banyak lagi persoalan. Dan juga pendapat yang mulai diurai satu per satu.”terang Sartono.

Menurut Sartono yang juga pegiat di Forum Difabel Mojogedang Bersatu (FDMB), Sapto Nugroho adalah pribadi spesial unik dan dikaruniai pemikiran out of the box, bahwa disabilitas atau istilah apa pun yang dilabelkan sesungguhnya tidak berarti karena selama ada jiwa dan asa maka manusia seutuhnya terlepas bagaimanapun kondisinya adalah sama, setara. Jasad atau wadahnya saja yang berbeda, tetapi asa atau semangat dan cita-cita adalah sama, serta memiliki rasa sebagai bentuk kepedulian

Hal senada dikatakan oleh Sunarman, Direktur PPRB Solo bahwa sosok Sapto Nugroho orang yang sangat kritis, logis, juga keras dalam arti konsisten dengan prinsip. Sapto orang yang punya prinsip terkait dengan ideologi kenormalan yang menjadi bagian penting bahkan terpenting bagi pemikirannya selama ini. Sapto juga dikenalnya sebagai orang yang konsisten, yang menerapkan prinsip ideologi kenormalan di dalam dirinya sendiri. Bukan hanya slogan. “Artinya Mas Sapto memang terus mengembangkan dialog-dialog kritis, analisa-analisa kritis, isu-isu strategis yang bukan hanya melibatkan difabel tapi yang lebih banyak melibatkan nondifabel yang merupakan berbasis pada ideologi kenormalan yaitu menembus batas keragu-raguan karena salah satu hambatan yang memelihara terminologi kenormalan dan ketidaknormalan adalah saling curiga saling ragu-ragu atau saling memiliki pemikiran masing-masing yang justru membatasi interaksi yang wajar.”

Menurut Sapto Nugroho, kondisi difabel itu bukan sesuatu yang dianggap tidak normal. Tapi bahwa semua orang itu wajar bahwa setiap orang itu unik. “Kemudian Mas Sapto mendirikan Yayasan Talenta, punya program pendidikan kritis, dan juga setelah itu mendirikan sekolah ideologi kenormalan yang berbasis gerakan. Maka lahirlah difabel-difabel baru yang memiliki kritis dan cara pemikiran ideologis, metodologis. Saya adalah salah satu yang banyak belajar dari cara pemikirannya,”pungkas Sunarman.

Sapto Nugroho, sang motivator ulung, dikenal sebagai pejuang tangguh yang bahkan di saat sakit pun, menurut sang istri tidak pernah mengeluh sama sekali, telah pergi meninggalkan teman-teman seperjuangannya di gerakan difabel, pada Kamis pagi, 4 April, pukul 03.52 WIB. Ia tak hanya meninggalkan Pamikatsih, sang istri dan dua anak laki-laki yang beranjak remaja, tetapi juga sebuah mutiara hikmah pengetahuan yang tak akan lekang sepanjang masa, Ideologi Kenormalan. Ribuan orang berjejal mengantar kepergiannya yang terakhir kali. Pengantar dan doa yang disampaikan oleh FX. Hadi Rudyatmo, Wali Kota Surakarta dan disaksikan ratusan aktivis sosial Solo, Yogya dan sekitarnya menjadi bukti bahwa Sapto Nugroho adalah seorang aktivis difabel yang membumi.

Untuk menghormati dan mengenang jasa-jasanya, segenap kawan aktivis dari Solo dan Yogya hendak memperingati dengan melakukan workshop. Acara yang bertajuk “Workshop Penutup Seorang Guru Ideologi Kenormalan” akan dihelat pada Jumat, 12 April 2019 pukul 14.30 di Rumah Blogger Indonesia (RBI) Jl. Apel III No. 17, Jajar Laweyan.

 

 

Penulis : Puji Astuti

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.