Lompat ke isi utama
Susanto sedang beraktifitas menganyam kain perca

Dari Guru Ngaji Hingga Memproduksi Kerajinan

Solider.id, Gunungkidul- Tak sulit mencari tempat tinggalnya. Tak sulit juga menemukan sosoknya. Begitu kita bertanya siapa guru Taman pendidikan Qur’an (TPQ) daerah Nglorog, maka orang akan dengan mudah menyebut nama Susanto sebagai satu-satunya guru pengguna kursi roda dan kerajinan kain perca di daerah Nglorog.

Tak pernah mengenyam pendidikan formal hingga perguruan tinggi, tak menyurutkan harapan lajang 39 tahun ini untuk menjadi guru. Dalam seminggu, tiga kali ia meluncur dengan kursi rodanya untuk menjumpai 24 orang siswa yang menunggu di masjid.

Jarak mesjid dari rumahnya tak seberapa, sekira hanya 200 meter saja. Di mesjid itu pula pemuda ini mengabdikan ilmunya. Taman Pendidikan Qur’an telah mewujudkan cita-cita masa kecilnya. “Dulu saya ingin menjadi guru,” ujar Susanto dengan bangga (03/02).

Pria kelahiran Gunungkidul, 2 Januari 1980 lalu ini mengaku baru mulai mengaji saat usianya 7 tahun. Setrelah lulus Sekolah Dasar, ia menganggur dan memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sebab waktu itu, aksesibilitas jalan yang harus dilalui tidak semulus sekarang.

Berbekal kemampuannya yang telah khatam Qur’an di usia 13 tahun, ia tak ingin jadi pengangguran. Lahirlah keinginan untuk ikut mengajar Qur’an. Sejak itu keinginan masa kecilnya terwujudkan. Menjadi guru bagi santri-santri kecil yang ia banggakan.

Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Sadiman (63 tahun) dan Kartini (60 tahun), Sus panggilan akrabnya, sering terlibat dalam semua kegiatan kemasyarakatan. Aktif dala kegiatan rutin pengajian, menjadi anggota karang taruna Taruna Bhakti di desanya. Hingga turut serta dalam kerja bakti dengan melakukan pekerjaan sebatas yang bisa dikerjakannya.

“Dengan cara semacam ini, saya ingin orang-orang tahu difabel juga bisa ikut kegiatan di lingkungan,” papar Sus.

Dijumpai di rumah tinggalnya, Desa Nglorog Rt 01 Rw 08, Kedungpoh, Nglipar, Sus tengah menyelesaikan anyaman keset yang sekarang jadi mata pencaharian. Jari jemarinya terus menjelujur papan anyaman dengan perca yang telah disiapkannya.

Meski terbilang baru menekuni usaha membuat keset dari perca, pria yang hanya bisa mengenyam bangku pendidikan di tingkat dasar ini tak pernah mengeluh tentang sulitnya kehidupan. Bekal religi yang ditanamkan orangtuanya, membuat Sus teguh menyikapi kondisi hidupnya sebagai tantangan.

“Ini takdir dari Gusti Allah yang harus saya terima.” Sus sambil lalu mengisahkan. Ia mengaku tak patah semangat dengan kondisinya, hanya dengan pasrah, Sus lalu memupus perasaan tentang kondisinya yang tak sama dengan teman-temannya.

“Pernah ada rasa iri kalau melihat teman-teman lain bisa berlari. Ada keinginan untuk bisa seperti mereka.” Sambil tertawa Sus lalu bercerita tentang masa kecilnya.

“Ibu bercerita bahwa sejak bayi umur selapan (35 hari) saya sudah sering sakit-sakitan. Sering disuntik. Kata orang-orang tua, saya tidak akan bisa berjalan karena saya kena Polio. Kalau jalan, kaki kanan saya tidak bisa buat menapak. Jalan ya biasa, tapi kalau ada batu kecil atau kena ranting ya tetap jatuh.”  Sus kembali mengenang.

Waktu di Taman Kanak-kanak ia masih berangkat sekolah sendiri. Masih bisa bermain ke sawah dengan teman-temannya. Sampai pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, tepatnya saat dia duduk di bangku kelas 3, ia merasakan kedua kakinya semakin tidak kuat untuk menapak. Sejak saat itu, Sus merasa sulit untuk berjalan, bahkan untuk bisa bersekolah terpaksa harus digendong ayahnya.

Sus juga menceritakan usaha yang dilakukan orangtuanya sebagai upaya penyembuhan. Ia pernah opname di RSUD Wonosari tapi hanya diberi obat.

“Tidak bisa sembuh. Kalau mau sembuh harus operasi di Solo. Dari saran dokter itu lalu oleh keluarga saya dibawa ke RC Solo tahun 1998 untuk menjalani operasi. Saat itu langsung dua kaki saya dioperasi,” kisah Sus mengulang perkataan dokter waktu itu.

Kembali dari RC Solo setelah dua minggu menjalani perawatan, Sus menceritakan bahwa ia sempat kesulitan berjalan saat harus belajar menggunakan kruk dan memakai Brace. Meski begitu, ia terus beraktivitas dengan kruk dan Brace-nya. Ia tak bisa meninggalkan anak-anak muridnya. Kembali mengajar Qur’an ia lakukan, hingga tahun 2011 ia mendapat tawaran untuk menambah bekal ketrampilan di Balai Rehabilitasi Pundong, Bantul.

Sus memilih tetap melanjutkan hari-hari sebagai guru mengaji. Di Pundong Sus memilih ketrampilan dengan belajar ilmu elektronik. “Tapi ilmunya sudah hilang karena lama tidak digunakan.” Tertawa renyah, Sus berkilah saat ditanya bidang ilmu yang ia jadikan pilihan. Dalam sehari ia bisa menganyam satu buah keset. Tergantung pada kesibukan. “Kalau sedang banyak aktivitas di masjid ya bisa lebih lama selesainya,” tambahnya.

Bila musim panen tiba, Sus tak segan turun tangan. Membantu orangtuanya membersihkan padi dari sekam, memetik dan memisahkan kacang dari daunnya yang berkaitan, mengangkut jagung atau mengerjakan sejumlah kegiatan rumah yang bisa dilakukannya.

Sambil menganyam keset yang belum selesai sebagian, di samping Susanto sekeranjang kain sisa telah dirapikan. Menjulur panjang bersambungan, kain-kain perca tersebut sudah menjadi tali yang siap dianyam.

“Saya membelinya dengan harga perkilo 3.500 rupiah. Dari tiga kilo kain, saya bisa menghasilkan hampir lima buah keset anyaman,” pungkas Sus.

Sus memang baru tiga bulan belajar membuat keset dari kain daur ulang. Menganyam perca menjadi salah satu ketrampilan yang dipelajari dari salah satu organisasi difabel Mitra Ananda yang selama ini diikuti.

“Alhamdulillah sudah bisa untuk menambah penghasilan. Dari satu keset saya bisa menjual dengan harga 10 ribu rupiah,” terang Sus yang juga menekuni kerajinan dari manik-manik seperti aneka bros dan gantungan kunci.

Sus memasarkan hasil karyanya lewat media online. ia tak perlu merasa kesulitan dan yakin dengan modal kejujuran dan hasil anyaman rapi orang akan tertarik membeli karya yang dihasilkannyta.

Sus pun memiliki kiat mempromosikan hasil karyanya, jila pada awalnya ia akan bercerita tentang kelebihan keset hasil buatannya kepada calon pembeli, maka selanjutnya Sus akan coba merayu pembeli dengan menunjukkan kualitas kesetnya.

“Kesetnya bagus, dengan harga 10 ribu rupiah saya jamin awet. Karena bagian tepi saya kunci. Kuat dan rapi jadi tidak mungkin lepas anyamannya. Model anyaman bisa berpola, meski tiap hari dipakai tetap halus dan nyaman di kaki karena terbuat dari kain yang lembut.” Sus mencontohkan bagaimana ia mempromosikan karyanya yang mulai diminati tetangganya.

Tak muluk dengan usaha yang baru ia jalani, Sus yakin bisa lebih mandiri dan sukses dari usaha ini. “Mungkin saat ini saya masih tahap baru membuat satu dua tiga keset. Ke depan, saya ingin orang-orang belajar membuat keset dan menyetor keset mereka pada saya,” ujarnya, tentang mimpi yang dibentangkan. Sus ingin orangtuanya merasakan kebahagiaan.

Bergabung dengan Kelompok Pemberdayaan Difabel di desanya Mitra Mandiri telah membuat Sus makin mengerti. Belajar dari pengalaman selama berorganisasi mengajarkan bahwa ia tidak sendiri.

“Dari sini sesekali saya lalu bercerita sama Ibu, ada teman-teman lain yang kondisinya lebih sulit dari saya. Dengan cara itu akhirnya Bapak dan Ibu bisa legowo (bahasa Jawa, menerima dengan lapang hati) pada kondisi saya,” imbuh Sus. []

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.