Lompat ke isi utama
ilustrasi tulisan terkait intervensi dini anak Tuli

Pentingnya Peran Negara dan Orang Tua dalam Intervensi Dini Anak Tuli

Solider.id.Yogyakarta. Setiap orang dapat berkata-kata, dapat berbicara  karena mendengar. Ketika pendengaran terhambat, (berkurang atau tidak mendengar) maka akan berpengaruh pada verbalisasi atau pengucapan. Dengan kata lain, komunikasi yang baik dimulai dari pendengaran yang baik.

Lantas bagaimana dengan anak-anak tuli? Anak-anak (bayi) yang terlahir tuli, pasti akan bermasalah dengan pengucapan. Hal itu dikarenakan mereka tidak pernah mendengar suara sama sekali. Bayi tuli tidak pernah tahu warna suara, sehingga tidak terekam di memori otak mereka tentang suara atau kata-kata. 

Bertambah masalah bagi bayi tuli, karena orang tua terlambat menyadari jika bayi mereka tuli. Sebagian besar orang tua baru menyadari bahwa bayi mereka tuli setelah beberapa tahun kemudian. Ketika tanda-tanda fisik mulai tampak, misalnya anak tidak menoleh saat dipanggil, tidak terbangun oleh suara keras, atau tidak bisa berucap ibu, bapak, maem, minum, dan lain sebagainya.

Minim perhatian pemerintah

Keterlambatan orang tua menyadari kondisi bayi tidak mendengar, berakibat penanganan pun menjadi terlambat. Ketika para orang tua baru menyadari dan mengetahui bahwa anak mereka tuli pada saat usia dua tahun, sebagai contoh. Maka selama dua tahun itu anak hidup dalam kesunyian, tanpa suara, tanpa kata-kata. Saat anak dengan pendengaran baik berusia pendengaran dua tahun, anak tuli nol tahun.

Bisa kita bayangkan, berapa kata-kata, berapa suara yang hilang ketika kita dalam satu jam saja tidak mendengar? Kata-kata atau suara yang hilang itu tentu perlu diulang. Lantas apa yang terjadi pada anak-anak yang tidak mendengar jika orang tua terlambat menyadarinya? Kata-kata dan suara yang hilang itu perlu dilatih dan terus dilatih.

Tuli, adalah salah satu jenis difabilitas yang tidak terlihat. Karena secara fisik mereka terlihat baik-baik saja. Kondisi itu mengakibatkan sebagian besar anak-anak lambat terdeksi ketuliannya. Terlambat diketahui bahwa ternyata bermasalah dengan pendengarannya. Padahal dengan tidak mendengar, mereka memiliki dua kelemahan. Yakni, tidak mendengar dan tidak bisa berbicara. Tidak ada input, tentu tidak ada output.

Gangguan Pendengaran itu sesuatu yang unik, dan belum mendapatkan perhatian baik dari pemerintah maupun lembaga swasta. Anak dengan hambatan pendengaran butuh sekali alat bantu dengar, selanjutnya butuh intervensi lanjut untuk melatih bicara.

Karena alat bantu dengar tidak secara instan dapat membuat anak bisa mendengar dan bicara. Butuh proses agar anak dapat berkonsentrasi dan mendengar dengan baik. Tidak sebagai mana bibir sumbing dioperasi selesai, katarak dioperasi selesai, yang tidak punya tangan dikasih tangan selesai.

Programkan tes pendengaran

Mengingat ketulian yang tidak dapat dikenali secara fisik sedari lahir, perlu diikuti dengan kebijakan cerdas (smart) sebuah negara. Intervensi dini harus dilakukan oleh negara atau pemerintah. Pemerintah perlu menginisiasi penyelenggaraan tes pendengaran pada bayi-bayi yang baru lahir.

Bagaimana agar efektif? Tes pendengaran dapat menjadi satu paket persalinan. Dengan demikian rumah sakit, poliklinik bersalin, dengan sendirinya akan melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap setiap bayi yang ditanganinya. Ketika hasil tes oleh ahli mendiagnosa bayi mengalami gangguan pendengaran, maka tindakan tepat sebagaimana rekomendasi dapat segera dilakukan.

Belajar dari Australia

Terkait tes pendengaran yang dilakukan terhadap setiap bayi yang baru lahir, kita dapat belajar dari negara Australia. Negara ini memiliki perhatian terhadap semua bayi yang baru lahir. Pemeriksaan pendengaran bagi setiap bayi yang baru lahir adalah sesuatu yang wajib.

Australia memberlakukan peraturan, pada maksimum usia bayi tiga hari maka harus dilakukan tes pendengaran. Jika ditemukan bayi tidak mendengar, maka dalam waktu 30 hari wajib pakai alat bantu dengar. Entah itu alat bantu dengar ataupun implan, tapi harus langsung ditangani. Maka dari itu succes rate (tingkat suscesnya) tinggi, karena penanganan dilakukan sedari dini.

Menurut Resanti, seorang ahli dan pemerhati anak dengan gangguan pendengaran dari Yogyakarta, dia menuturkan terkait penggunaan alat bantu dengar. Menurutnya, alat bantu dengar akan sangat membantu jika dipasangkan sedari bayi. Pada awalnya menurut Santi, anak merasa risih. Itu karena belum terbiasa saja. Setelah terbiasa kata dia, dengan sendirinya anak akan merasa nyaman. Sedangkan orang tua sebagaimana anak pada umumnya belajar bicara.

“Jika mau berhasil, sebaiknya alat dipakaikan sedari bayi. Kalau dari kecil sudah terbiasa, dengan sendirinya orangtua seperti mengajari bicara sebagaimana anak bayi pada umumnya,” ujarnya.

Masih di Australia, semua anak dengan gangguan pendengaran akan mendapatkan financial support (bantuan keuangan) dari pemerintah hingga berusia 26 tahun. Support pemerintah Australia juga mengcover biaya yang timbul pada anak dengan gangguan pendengaran.

Mengaitkannya dengan Indonesia, Santi berpendapat jika pemerintah mau, Indonesia pasti bisa. Melakukan intervensi dini terhadap bayi dengan gangguan pendengaran, menjadi sebuah investasi bagi negara, kata dia. Santi pun mengaitkan dengan sistem jaminan kesehatan di Indonesia yakni Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.  BPJS Kesehatan saat ini hanya mengalokasikan anggaran senilai satu juta untuk satu alat. Dan berjangka selama lima tahunan.

“Di Indonesia tidak ada, tetapi kalau mau Indonesia bisa. Saat ini BPJS hanya mengcover satu juta rupiah tiap lima tahun. Alat apa? Anggaran itu hanya dapat alat dari Cina. Kalau dari Cina tidak ada alat yang bisa mengcover kebutuhan, hanya abal-abal saja,” tandas Santi.

Lanjut Santi, “Australia bisa begitu karena tidak ada subsidi untuk rakyat. Indonesia masih ada subsidi dan salah sasaran. Orang sudah bisa beli mobil masih mau subsidi bensin. Jika harga bensin naik, teriak-teriak protes. Sebaiknya subsidi dialokasikan ke pendidikan dan kesehatan,” ungkapnya.

Edukasi orang tua

Pada kesempatan itu Santi juga menghimbau orang tua agar tidak hanya beli alat bantu dengar saja, tetapi tidak melatih anak berbicara. Setelah anak pakai alat bantu dengar, anak diberikan handphone (HP), dan orang tua sibuk sendiri. Menurut Santi tidak bisa begitu.

“Yang saya lihat saat ini orang tua sudah dikasih alat bantu dengar tidak mengajak anak berkomunikasi, malah anak dikasih handphone. Jadi apa gunanya alat bantu dengar, jika orangtua tidak memahami mengenai alat bantu dengar itu sendiri,” ujar pakar pendengaran itu.

Edukasi yang harus disampaikan dan dimengerti orang tua ialah terkait kepedulian terhadap anaknya. Berikutnya edukasi bahwa HP itu merusak. Terlibih ketika orang tua sibuk main HP anaknya jadi apa? Orang tua itu role model, jadi harus menjadi contoh baik untuk anak-anaknya.

Santi juga menyampaikan contoh baik, seorang ibu dengan anak tuli bernama Safa yang saat ini sudah menyelesaikan sarjana kedokteran. Bahkan sedang menempuh studi lanjut pada konsentrasi manajemen rumah sakit.

“Ibu Roy adalah ibu dari Safa. Kalau anak minta susu dipaksa ngomong susu sampai jelas. Kalau sudah betul baru dikasih. Kalau Safa pengin main tetapi tidak mau menggunakan alat bantu dengar, tidak boleh main. Kalau mau pakai baru diizinkan keluar. Ini mendidik anak disiplin, sehingga hasilnya juga sangat menggembirakan,” tuturanya.

Sisihkan waktu

Bertutur pada Solider pada akhir bulan Maret, Ibu Roy mengatakan bahwa dirinya setiap saat menyisihkan waktu berbicara tatap muka dengan Safa putrinya, dalam suasana tenang.

Ibu Roy juga berbagi cerita bahwa Safa, selalu sekolah di sekolah umum. Sempat bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), tapi hanya bertahan selama satu minggu dan akhirnya memutuskan keluar dan sekolah di sekolah umum.

Alasannya, sebelum sekolah Safa sudah bisa belajar mengucapkan kata-kata. Tetapi tiga hari di SLB kemampuan berkata-kata itu hilang, karena teman-teman dan lingkungan tidak berbicara. Betul-betul sekolah itu adalah sebuah pilihan yang tidak main-main. Demikian penuturan Ibu Roy kepada Solider, Jumat (22/3/2019).  

 

Warfawan: harta nining wijaya

Editor         : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.