Lompat ke isi utama
salah satu pelican crossing

Pentingnya Keberadaan Pelican Crossing bagi Difabel di Boulevard Jalan Suroto

Solider.id.Yogyakarta. Pejalan kaki tanpa kecuali difabel merupakan bagian dari arus lalulintas. Selama ini mereka diposisikan sebagai pihak yang lemah di antara arus lalu lintas lainnya. Terutama dari aspek keselamatan (safety) dan keadilan (equit). Oleh karena itu keberadaannya harus disadari dan dilindungi oleh semua pihak.

Pelican Crossing (pedestrian light control) atau lampu lalu lintas, keberadaannya sangat jarang dijumpai pada titik-titik pejalan kaki menyeberang jalan. Di Kota Yogyakarta sebagai contoh, hanya terdapat tiga  pelican crossing, satu buah di Jalan Mangkubumi dan dua lainnya di Jalan Malioboro.

Dari tiga pelican crossing hanya satu yang berfungsi, yakni yang berada di Jalan Mangkubumi. Pun keberadaannya masih sering kali diabaikan oleh para pengendara motor. Baca: https://www.solider.id/baca/5068-pelican-crossing-keamanan-difabel-penyeberang-jalan. Sehingga penyeberang jalan harus tetap waspada saat menyeberang di area pelican crossing. Sementara dua lainnya yang berada di Jalan Malioboro mangkrak, dan tidak berfungsi.

Keberadaan pelican crossing semestinya berfungsi untuk memberikan hak yang sama bagi semua pengguna jalan. Bukan hanya bagi pengendara kendaraan bermotor, melainkan juga pejalan kaki yang ingin menyeberang termasuk masyarakat. Untuk itu keberadaannya benar-benar menuntut kepedulian para pengguna jalan, terutama para pengendara kendaraan bermotor.

Pelican crossing, selama ini lebih dikenal dengan tombol penyeberangan. Sebab cara menggunakannya, orang yang hendak menyeberang jalan harus menekan tombol dulu, kemudian menunggu lampu pejalan kaki berwarna hijau dan kendaraan berhenti, baru menyeberang.

Alternatif edukasi

Hari ini, Selasa (26/3/2019) keberadaan pelican crossing sangat mendesak dibutuhkan oleh para penyeberang jalan, lebih spesifik dalam tulisan ini adalah bagi difabel. Dian, ibu dari bocah cerebral palsy bernama Myasha demikian juga Nofie ibu dari Keynan yang juga cerebral palsy, mengutarakan kebutuhan akan pelican crossing di area Pedestrian Boulevard Jalan Suroto.

Menurut keduanya, kondisi jalan yang bebas hambatan, ditambah perilaku pengguna kendaraan bermotor yang abai terhadap keselamatan pejalan kaki menjadi alasan. “Saya hampir saja ditabrak motor saat mendorong kursi roda Asha, menuju titik kumpul saat mengikuti audit aksesibilitas di sepanjang pedestrian Jalan Suroto. Seharusnya pengendara berhati-hati saat berkendara di area pedestrian, bukan memacu kencang kendaraannya,” keluh Dian.

https://scontent.fcgk18-1.fna.fbcdn.net/v/t1.15752-9/54727969_435010817072749_2376691965094789120_n.jpg?_nc_cat=103&_nc_ht=scontent.fcgk18-1.fna&oh=3cbab9aff755de8825e9f537f72da6eb&oe=5D0933A1Bagi Dian, Pedestrian Malioboro dan Boulevard Jalan Suroto menjadi alternatif untuk mengajak Asha berjalan-jalan. Berjalan di pedestrian sambil mendorong kursi roda Asha ada beberapa sisi positif yakni edukasi hak asasi, ungkap dia. “Di satu sisi anak saya Asha dapat mengenal lingkungan luar rumah. Demikian pula masyarakat dapat menyadari keberadaan anak-anak difabel dengan hak yang sama persis sebagaimana orang pada umumnya. Dengan demikian edukasi secara langsung dapat terjadi karenanya,” tutur Dian.

Lebih jauh Dian berharap dengan adanya pelican crossing nantinya, semua pengguna jalan dapat berperilaku saling menghargai. Sehingga keamanan dan keselamatan perjalan kaki tanpa kecuali difabel lebih terjamin.

“Dengan pelican crossing, diharap semua pengguna jalan berperilaku adil. Menghargai keselamatan pejalan kaki, tanpa kecuali difabel. Dengan demikian pejalan kaki dan difabel pengguna alat bantu bakal lebih bebas dan lebih aman menyeberang jalan, karena kendaraan berhenti. Terlebih pada pelican crossing, selain ada rambu berupa lampu juga dilengkapi dengan speaker, harapan Dian.

Agenda penting

Menanggapi harapan atau tuntutan pemasangan pelican crossing, Kepala Bidang Binamarga Dinas PUPKP (Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman) Kota Yogyakarta Umi Ahsanti menanggapi. “Keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan, baik pengendara maupun pejalan kaki menjadi prioritas,” ungkapnya.

Namun ada pekerjaan rumah bersama, yakni perilaku masyarakat luas yang seringkali tidak peduli. Terkait dengan perilaku masyarakat, pihaknya telah berusaha membuat video sosialisasi terkait trotoar yang merupakan hak para pejalan kaki. Trotoar sebagai tempat aman dan nyaman bagi pejalan kaki di jalan raya.

Adapun terkait pelican crossing akan menjadi agenda penting berikutnya Dinas PUPKP Kota Yogyakarta bidang Bina Marga, terkait pemasangan dan keberfungsiannya.

Untuk itu Umi juga berharap kepada semua pihak, seluruh elemen masyarakat Kota Yogyakarta untuk mampu bersikap adil, menghargai setiap fasilitas publik demi tercipta rasa aman dan nyaman.  

 

Wartawan : Harta Nining Wijaya

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.