Lompat ke isi utama
kegiatan relawan demokrasi

Menjadi Relawan Demokrasi yang Penuh Inisiasi

Solider.id, Surakarta - “Menjadi relawan demokrasi itu berat, kamu bakalan nggak kuat. Saya saja, kamu nggak usah,” demikian yang dikatakan oleh Ahmad Halim Yulianto, difabel netra, salah seorang relawan demokrasi basis difabel dengan nada bercanda saat guyonan bersama kawan-kawan relawan demokrasi lainnya usai acara sosdiklih (sosialisasi pendidikan dan pemilih) bersama di suatu pagi pada kegiatan Solo Car Free Day. Laki-laki yang akrab dipanggil Yulianto itu sering membawa seorang anak laki-laki berumur 4 tahun (dari dua anak) untuk diajak sosdiklih. Yulianto berbagi peran dengan sang istri. Untuk bermobilisasi, Yulianto mengandalkan ojek online sebagai sarana transportasi. Tak jarang tempat yang dituju untuk melakukan sosdiklih berbeda antara petunjuk dari google dan arahan penyelenggara.

Pada sosdiklih di Solo Car Free Day pagi itu, Yulianto memegang pengeras suara dan menyuarakan kepada pengunjung Solo Car Free Day tentang pentingnya Pemilu dan ajakan untuk tidak golput. Puluhan relawan lainnya menyebar di beberapa titik, menghampiri para pejalan kaki, pedagang dan pengguna jalan lainnya untuk mensosialisasikan pentingnya pemilu dengan membawa contoh surat suara, sebagai sarana advokasi pemilu serta siap membuka android untuk mengecek Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Sementara itu Yatmin, difabel daksa pengguna truk menceritakan pengalamannya saat sosdiklih bersama teman Tuli di tempat yang sama, Solo Car Free Day, beberapa pekan sebelumnya. “Jika sosialisasi dengan teman Tuli harus dengan bahasa yang sederhana, dan dapat mudah dimengerti. Mereka satu per satu harus dijelaskan dulu makna pemilu. Seperti apa artinya pemilu? Mencoblos. Mencoblos itu tujuannya untuk apa?. Ya, seperti itu,”terang Yatmin.

Senada dengan Yatmin, Amartha Putri, Juru Bahasa Isyarat (JBI) yang biasa mendampingi Tuli pun mengatakan demikian, “kuncinya dengan bahasa sederhana dan bisa dimengerti oleh teman Tuli,” terang Amartha.

Bermaksud untuk mengakomodir kebutuhan Tuli, apalagi sebelumnya pernah ada masukan bahwa Tuli membutuhkan media visual untuk sosdiklih, maka kemudian lahirlah inisiatif-inisiatif yang dilakukan oleh relawan basis difabel yang kemudian mengajak untuk bekerja sama dengan relawan basis warganet yang berlatar belakang kemampuan untuk merekam gambar. Gayung pun berambut. Ajakan untuk membuat video sosdiklih yang akses Tuli pun disambut dengan semangat penuh antusias.

Video untuk Tuli dan Template Braille bagi Difabel Netra

Video sosdiklih untuk Tuli merupakan inisiasi dari para relawan demokrasi. Dalam pembuatannya melibatkan teman Tuli sendiri. Pengerjaan yang dimulai dari perencanaan tersebut selalu mengakomodir masukan dari komunitas Tuli yakni Gerkatin dan pada tahap pembuatan narasi, kemudian melibatkan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Proses perekaman dari awal sudah direncanakan dan disetting bahwa yang akan menjadi peraga video nanti adalah Tuli, maka pilihan Aprilian Bima sebagai pelakon adalah tepat. Hanya butuh empat kali pertemuan maka video itu selesai dikerjakan dan setelah mendapat persetujuan dari KPU Surakarta maka siap untuk disebarluaskan.

Bagi Yulianto yang sudah dua kali masa pemilu menjadi relawan demokrasi, tugas dan kewajiban utama yang dia usung adalah berusaha mengadvokasi kepada KPU, pihak yang memilihnya menjadi relawan demokrasi agar menyediakan template braille surat suara bagi difabel netra. Inisiatif untuk membuat template diakomodir oleh KPU lalu mulailah Yulianto membuat template braille sesuai dengan surat suara dan aturan KPU. Pembuatan template braille dilakukan oleh pegiat di komunitas netra. Dan dengan media itulah Yulianto menyuarakan tentang sosdiklih kepemiluan. Meski saat pemilu serentak 2019 nanti panitia KPPS menyediakan form C3 untuk pendamping bagi difabel netra, tetapi di setiap sosdiklih ia dan kawan relawan demokrasi lainnya menekankan tentang kemandirian saat mencoblos untuk surat suara paslon dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bagi calon pemilih. Menurut keterangan KPU, dari lima surat suara, yang akan difasilitasi template braille hanya dua surat suara yakni surat suara paslon dan DPD.

Menjadi Relawan Demokrasi dan Berbicara Difabilitas Sampai Pelosok Kampung

Solo pernah mencanangkan sebagai Kota Inklusi pada tahun 2014. Solo juga menjadi barometer untuk melihat bagaimana pemerintah kota setempat berusaha mengakomodir kebutuhan dan hak difabel. Hal ini dilakukan dengan penyediaan sarana dan pra sarana yang aksesibel, termasuk sarana angkutan transportasi, serta usaha-usaha advokasi yang dilakukan oleh salah satunya adalah Tim Advokasi Difabel (TAD) agar anggaran-anggaran dan kegiatan yang ada pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berperspektif difabiltas.

Namun, menyoal pengarusutamaan difabel pada kelompok-kelompok masyarakat yang paling kecil seperti Rukun Tetangga (RT) atau Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), saat ini bisa dipastikan harapan tersebut tercurah kepada relawan demokrasi yang tengah bekerja hingga bulan April mendatang. Dari beberapa pengalaman para relawan demokrasi yang terjun untuk melakukan sosdiklih pada lapisan masyarakat paling kecil, masih banyak dijumpai orang-orang yang asing dengan terminologi difabilitas, tentang pemilu akses serta istilah template braille bagi difabel netra.

Hal ini menjadi peluang bagi relawan untuk melakukan sosialisasi sekaligus mengadvokasi pada masyarakat pada tingkatan paling kecil, terutama masyarakat marjinal yang tinggal di perkampungan-perkampungan padat penduduk serta di rusunawa, pemilu adalah hak politik bagi setiap warga, termasuk warga difabel. Seperti yang dilakukan oleh Yulianto dan Yatmin saat menyampaikan sosdiklih kepada para penghuni Rusunawa Jurug dan Jebres belum lama ini.

 “Oh ya. Saya sekarang jadi tahu istilah difabel. Kalau dulu namanya orang cacat,”tutur Tri, nenek dua roang cucu, salah seorang penghuni Rusunawa Semanggi saat relawan demokrasi melakukan sosdiklih kepemiluan di sana.  

 

Wartawan: Puji Astuti

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.