Lompat ke isi utama
Sesi sharing kewirausahaan bersama difabel pelaku usaha

Personal Branding, Kunci Sukses Wirausaha Difabel

Solider.id, Bandung – Bagi sebagian besar masyarakat difabel yang masih merasakan kesulitan dalam mengakses beragam peluang kesempatan kerja yang ditawarkan, baik di perusahaan swasta maupun di instansi pemerintahan, berwirausaha merupakan pilihan lain yang sering mereka coba lakukan. Pada dasarnya, mereka memiliki inisiatif dan ide usahanya sendiri atau ada pula yang mengembangkannya dari hasil proses pelatihan yang pernah didapatkan sebelum memulai menjadi seorang pengusaha.

Secara umum langkah berprosesnya sebuah usaha memiliki kesamaan antara yang dilakukan masyarakat difabel dan nondifabel. Dari segi jenis usaha yang digeluti serta tingkat kesulitan yang dirasakan pun banyak kemiripan. Siapa pun sama-sama memiliki peluang untuk menjadi wirausahawan dengan tingkat resiko dan keuntungan yang setara. Selain menemukan ide usaha, permodalan serta target pemasaran merupakan satu paket kombinasi dari proses kewirausahaan. Akan tetapi, ada satu hal yang akan dapat sangat mempengaruhi bidang usaha yang tengah digeluti oleh masyarakat difabel secara universal. Yaitu: Personal Branding-nya.

Memaknai personal branding dalam wirausaha adalah sebuah proses memasarkan diri dan karier atau bidang usaha yang dijalankan melalui suatu citra yang dibentuk untuk khalayak umum. Inilah yang nantinya akan menimbulkan persepsi orang lain terhadap diri mereka yang berkaitan dengan kepribadian.

Difabel, dimata masyarakat luas yang belum begitu memahimi keberadaannya, sering kali masih dilebelisasikan sebagai individu yang perlu dikasihani. Perspektif seperti ini pun masih dirasakan oleh sebagian masyarakat difabel yang sudah merambah dunia usaha. Terutama, mereka yang baru merintis dan atau yang baru pertama mencoba usahanya baik dalam bidang jasa maupun barang atau berdagang.

Produk branding bisa diciptakan dengan beragam cara. Untuk personal branding tentunya akan berbeda. Mengembangkan ekonomi wirausaha masyarakat difabel melalui Personal Branding ternyata memberi dampak yang positif terhadap pertumbuhan hasil usahanya. Seperti yang dipaparkan (sebut saja) Iyan dalam sesi sharing saat acara monitoring kewirausahaan yang digagas salah satu perbankan milik swasta nasional.

Iyan seorang difabel Daksa ringan tanpa alat bantu misalkan, ia memiliki pengalaman tersendiri selama menggeluti usahanya dibidang kuliner. Sebagai penjual keliling yang menawarkan produknya, ia kerap menghadapi pelanggan yang menurutnya memberi kesan membeli seolah-olah rasa kasihan. Atau bahkan sering mendapatkan penolakan dengan perlakuan yang kurang sopan saat menawarkan.

Namun, jiwa wirausaha yang ada dalam dirinya mampu mengubah kondisdi difabel yang ada pada dirinya menjadi penemu personal branding dalam memasarkan produknya. Langkah yang dilakukannya hanya sederhana, dengan mengubah penampilan dirinya menjadi lebih rapi, menggunakan pakaian khusus seperti pakaian khas. Sehingga akhirnya masyarakat atau para pelangganya sendiri memberikan nama tersendiri yang justru menjadi sebutan baru untuk produknya.

Kisah Iyan dengan salah satu cara atau langkah kecil yang dilakukannya dalam merebut pangsa pasar ditengah persaingan usaha perdagangan yang dijalaninya, menjadi pembawa keuntungan tersendiri dalam bidang usahanya. Buah pikirnya untuk mempertahankan usahanya cukup berhasil. Ia kemudian dikenali sebagai pedagang dengan sisi keunikannya yang mampu memikat pelanggan, bukan lagi sebagai pedagang difabel yang dikasihani pembeli, atau yang dapat diperlakukan buruk.

Menumbuhkan personal branding dari individu difabel bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Dengan kedifabelan yang dimiliki dan dapat terlihat olaeh kasat mata, ruang gerak difabel terkadang masih dirasakan begitu sempit. Minimnya kesempatan kerja yang dapat diperoleh, dan pilihan untuk melakoni bidang wirausaha yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan, masih sama-sama memiliki jebakan lebelisasi sebagai sosok difabel.

Mengembangkan ekonomi wirausaha masyarakat difabel melalui Personal Branding menjadi pilihan yang dapat dilakukan dengan penuh perjuangan. Seperti, dalam melawan lebelisasi serta perpektif negatif masyarakat terhadap individu difabel. Tidak sedikit, masyarakat difabel yang kesulitan memperoleh kesempatan bekerja atau menempati lapangan pekerjaan yang tersedia. Mereka juga kerap tumbang dalam mengembangkan usahanya yang disebabkan oleh sulitnya memunculkan Personal Branding. Kondisi tersebut membuat masyarakat difabel terus berada di zona terendah dalam pertumbuhannya secara ekonomi dan kemapanan finansial.

 

Wartawan : Srikandi Syamsi

Editor         : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.