Lompat ke isi utama
tampilan aksesibilitas GWK Bali

Merasakan Aksesibilitas Garuda Wisnu Kencana Bali

Solider.id, Bali - Garuda Wisnu Kencana (GWK) merupakan patung terbesar dan tertinggi ketiga di dunia hingga saat ini. Patung GWK setinggi 121 meter berada dikawasan GWK Culture Park, Bukit Ungasan Bali diresmikan pada tanggal 22 September 2018 lalu menjadi tempat wisata yang banyak dilirik oleh wisatawan asing, khususnya pengunjung difabel. Patung GWK yang berdiri diatas lahan seluas total 60 hektar menjadi destinasi wisata juga sebagai wadah ekspresi budaya.

GWK Culture Park buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WITA. Harga tiket masuk sangat variatif, Rp 80.000 untuk turis domestik, Rp 60.000 untuk pelajar dan anak-anak, sedangkan untuk tarif mancanegara Rp 125.000 untuk dewasa dan Rp 100.000 untuk anak-anak. Di tempat wisata ini tidak hanya patung GWK yang menjadi spot berfoto, namun ada 21 spot area yang bisa dinikmati, ada Beranda Restauran, Amphitheater, Street Theater, Kura-Kura Plaza, Plaza Wisnu, Festival Park, Peace Of Memorial Statue, Indraloka Garden, Gwk Statue, Kencana Souvenir, dan lain sebagainya seperti yang dilansir pada http://gwkbali.com diakses pada 19 Maret 2019.

Lengkapnya fasilitas yang tersedia di GWK Culture Park untuk para wisatawan domestik maupun mancanegara, bisa dinikmati bahkan untuk wisatawan difabel seperti yang tertera di brosur “wheelcair access”. Brosur tersebut tersedia di loket pembelian tiket. Terlihat ramp (bidang miring) untuk pengguna kursi roda mulai dari lokasi parkir menuju pintu pembelian tiket. Pengunjung difabel dengan kursi roda bahkan bisa menikmati  semua fasilitas yang ada di GWK. Meski tidak semua bagian dapat dilalui oleh kursi roda,  tidak perlu khawatir, pengunjung dapat   menghubungi pusat informasi dan sudah tersedia lift khusus difabel. Kepada Solider.id, petugas menyatakan siap menjelaskan alur yang dapat dilalui kursi roda. Bahkan jika pengunjung memerlukan kursi roda dapat meminjam ke pusat informasi tanpa tambahan biaya. Namun setelah berkeliling melihat semua area GWK, sayangnya belum ada toilet khusus difabel.

Karena lokasi GWK yang berada di dataran tinggi yang berbatu dan juga panas,  dari lokasi parkir yang berjarak 200 meter menuju tempat reservasi, ada shutle bus gratis yang disediakan untuk pengunjung, namun harus sabar mengantri hingga 15 menit atau bahkan lebih saat akhir pekan dan hari libur.

Aksesibilitas tidak hanya sebatas bidang miring dan toilet difabel saja, namun bagaimana kesiapan pengelola tempat wisata jika ada pengunjung difabel Tuli atau netra. Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan untuk difabel guna mewujudkan kesamaan kesempatan. Bentuk aksesibilitas untuk pengunjung Tuli terlihat dengan adanya banyak petunjuk arah dan denah lokasi. Pengunjung Tuli yang tertarik melihat pertunjukan seni juga dapat mengetahui informasi mengenai pertunjukan dengan mengambil brosur di pintu masuk amphitheater.

Namun tidak semua lokasi memberikan papan informasi mengenai sejarah atau informasi terkait bagi pengunjung khususnya Tuli.  Selain itu, guiding block atau ubin pemandu sebagai bentuk aksesibilitas bagi pengunjug netra pun tidak disediakan. Miniatur GWK yang memungkinkan pengunjung netra meraba seperti apa bentuk patung GWK pun sayangnya tidak ada, sehingga pengunjung netra hanya dapat mengetahui gambaran GWK jika dijelaskan secara lisan. Nilai-nilai aksesibilitas bagi difabel, seperti memberikan rasa aman, nyaman, memberi kemudahan, dan dapat dilakukan secara mandiri, rasanya belum sepenuhnya diperhatikan oleh pengelola GWK. Namun renovasi atau pembaruan di lokasi wisata ini nampaknya masih dikerjakan guna meningkatkan daya tarik agar semakin banyak wisatawan yang berkunjung.

Bersama dengan Muhammad Ismail, seorang pengunjung Tuli asal Solo, Solider.id mencatat beberapa masukan darinya. “Saya sudah pernah 3 kali berkunjung ke GWK dan ternyata banyak perubahan. Pengunjung makin ramai dan awalnya saya tidak tahu akan berjalan ke arah mana tapi untungnya sudah banyak petugas yang mengarahkan”, kata Ismail saat kami berkungjung pada 15 Desember 2018.

Sebagai pengunjung Tuli, Ismail menilai informasi di bagian loket cukup mudah di akses, karena sudah tersedia papan informasi dan petugas memberikan brosur. Antrian untuk pengunjung yang berjalan kaki ternyata berbeda dengan pengunjung yang menggunakan bis. Ismail menyayang ketiadaan papan penunjuk arah untuk mengetahui hal itu.

“Waktu menonton pementasan di amphitheater, saya tidak paham narator [Ismail2] dan pemain bicara apa, saya hanya sedikit tahu informasinya dari brosur yang ada di pintu masuk amphitheater. Akan sangat baik jika tersedia semacam TV LCD yang menyediakan teks Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris yang menginformasikan mengenai pementasan”, harap Ismail.  

 

Wartawan    : Mada Ramadhani

Editor          : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.