Lompat ke isi utama
Anak-anak difabel forum buah hati Sragen membunyikan lonceng kecil yang diikat dengan tali mainan serta berbagai bebunyian sebagai aksi kampanye "We Ring The Bell" untuk akses sekolah untuk semua.

200 Orang Serukan “We Ring The Bell” di Pendapa Rumdin Wabup Sragen

Solider.id, Sragen - 200 orang terdiri dari anak difabel, orangtuanya serta pemangku kebijakan membunyikan lonceng kecil mainan, dan beberapa bebunyian lainnya menandai seruan gerakan “We Ring The Bell” di Pendapa Rumah Dinas Bupati Sragen, Rabu (13/3). Tak hanya itu, ke-200 orang juga menandatangani pernyataan sikap sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap pendidikan yang inklusif, akses untk semua, tanpa terkecuali termasuk anak difabel. Menurut sebuah penelitian, 9 dari 10 anak difabel tidak diterima di sekolah. Dedy Endri Y, Wakil Bupati Sragen mengawali penandatanganan atas pernyataan sikap tersebut. Acara yang dihelat oleh NLR Indonesia, Liliane Fond, LINC dan PPRBM Solo tersebut diwarnai dengan lokakarya yang menghadirkan Widya Presetyowati perwakilan NLR Indonesia dan dari Kemendikbud RI.

Widya Prasetyowati dalam sambutannya mengatakan tentang pentingnya mengingatkan kepada semua orang tentang hak anak termasuk di dalamnya adalah hak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk dapat diterima di sekolah mana pun dan dalam jenjang apapun. “We Ring The Bell” sendiri juga dilaksanakan pada tahun yang lalu dan kali ini kota yang dipilih adalah Kabupaten Sragen. Hasil dari kegiatan kampanye ini, semua foto dan gambar yang ada kaitannya dengan “We Ring The Bell” akan dikirim dan disebarkan ke seluruh dunia lewat pemberitaan di media baik cetak maupun daring serta media sosial. “Kita semua harus memahami dengan tidak menolak apa pun setiap anak, termasuk anak difabel, karena kondisinya anak tersebut harus sekolah, termasuk sekolah yang paling dekat dengan rumahnya. Program ini prioritaskan untuk anak difabel Indonesia,” terang Widya.

Pentingnya Akses Kesehatan dan Ekonomi bagi Anak Difabel

Puji Lestari, orangtua dari Naura Raisa (5,5) tahun adalah anggota baru dari Forum Buah Hati Sragen yang sebulan lalu turut berkegiatan bersama bapak dan ibu lainnya. Puji Lestari adalah potret nyata, sebuah fenomena kurangnya perhatian pemerintah pada orangtua dengan anak difabel. Puji Lestari sejak anaknya berusia sebulan tiada henti melakukan pengobatan dan terapi bagi anak kelimanya tersebut yang mengalami kelainan jantung dengan menggunakan akses BPJS mandiri. Ia mengaku sudah kehilangan harta benda yang bisa dijual demi pengobatan anaknya.

Ketika harapan sudah hampir pupus, Puji Lestari berinisiatif menyurati Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah untuk meminta kursi roda bagi Naura. Sebulan setelah berikirim surat lewat email, ada respon dari Ganjar Pranowo yang kemudian mengirimkan petugas dari dinas sosial Provinsi Jawa Tengah. Petugas yang datang bersama pihak NGO (UCPRUK) kemudian mengukur tubuh Naura dan ia segera mendapat bantuan kursi roda.  

Saat ini, Puji Lestari masih melakukan terapi di RS. Moewardi untuk Naura, serta mengakses terapi gratis dari sanggar forum buah hati sebanyak dua kali dalam sebulan serta pelatihan-pelatihan produktif untuk para orangtua. “Selain bisa mendapatkan terapi, kami juga saling bertukar pengalaman dengan orangtua dari anak difabel lainnya,”terang Puji Lestari. Puji Lestari saat ini tidak mendapatkan akses Program Keluarga Harapan (PKH) maupun rastra (beras rakyat).

Hal senada juga diutarakan oleh Aminah, ibu dari seorang anak Cerebral Palsy yang berumur 11 tahun. Aminah berharap pemerintah daerah lebih memiliki perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus karena dia juga tidak mendapatkan sama sekali akses jaminan kesehatan.

Christian Pramudya, manajer program PPRBM Solo kepada Solider mengatakan bahwa perlu adanya pemahaman makna pendidikan inklusif yakni pendidikan untuk semua tanpa label atau SK sekolah inklusi bagi pihak sekolah dan pemangku kebijakan lainnya dan mengatasi kendala dengan mendata anak yang belum bersekolah,”pungkas Christian.  

 

Wartawan: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.