Lompat ke isi utama
Para peserta undangan di acara deklarasi poros belajar inklusi disabilitas

Wisuda Peserta dan Deklarasi Poros Belajar Inklusi

Solider.id, Yogyakarta- Setelah melalui proses belajar, presentasi dan evaluasi terkait isu disabilitas selama 14 hari, akhirnya 24 kader Poros Belajar Inklusi Disabilitas, dinyatakan tuntas dan diwisuda. Penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta oleh para mentor, menjadi simbol agenda wisuda pagi itu.

Acara tersebut dilanjutkan dengan pembacaan seruan dan deklarasi dari rekpomendasi untuk diperhatikan pemerintah dan para pemangku kepentingan, guna tercapainya target pembangunan berkelanjutan inklusif Indonesia masa depan. Deklarasi dikukuhkan dengan penandatanganan kesepakatan bersama. Kegiatan dilaksanakan di Aula Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY), Jalan Kaliurang KM 13,5, Yogyakarta, Senin (11/3).

Pada acara itu. Hadi perwakilan dari Kepala Subdirektorat Kesejahteraan Masyarakat Kementerian Desa, Wakil Walikota Yogyakarta, Perwakilan Partai Politik dan Caleg, para donor, organisasi difabel mitra peduli pilar disabilitas, organisasi difabel dan non difabel lain di DIY, siswa dan orang tua sekolah Yakkum, wartawan, serta tamu lainnya.

Koordinator penyelenggaraan kegiatan Bahrul Fuad atau Cak Fu dalam sambutannya mengapresiasi terhadap seluruh peserta. Dia menggaris bawahi, “Dengan demikian seluruh peserta yang terdiri dari difabel dan orangtua anak difabel, akan kembali ke daerah asal masing-masing. Mengemban amanat sebagai agen perubahan, menyebarluaskan benih-benih inklusivitas, untuk mendorong terwujudnya pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.” Ungakapn dan harapan Cak Fu di hadapan seluruh peserta dan tamu yang hadir.

Adapun Direktur Pusat Rehabilitasi Yakkum, Arsinta menjelaskan bahwa Kader Poros Belajar Inklusi merupakan satu dari beberapa upaya yang digagas bersama Mitra Peduli Pilar Disabilitas. Yakni, beberapa lembaga atau organisasi dengan fokus pada pemenuhan hak-hak difabel, yaitu: Yakkum, Sigab, Sapda, dan Karinakas dari Yogyakarta, Sehati dan  SHG Sukoharjo, Yasmib Banjarmasin, PPDI Situbondo Jawa Timur, Bahtera Sumba dan PLSD Universitas Brawijaya.

"Sejumlah 24 kader yang dilatih ini akan menjadi agen perubahan dalam menciptakan ruang-ruang inklusif hingga tingkat desa. Sehingga pembangunan inklusif tidak hanya terpusat di Jawa saja," jelas Shinta dalam sambutannya.

Indonesia mampu

Kepada Solider, Arshinta juga menegaskan bahwa proses hari ini merupakan satu contoh atau cerminan, bahwa  Indonesia ketika ingin mewujudkan pembangunan inklusif yang berkelanjutan, mendatangkan keadilan, kesejahteraan bagi semua, modalitas sudah besar sekali.

“Ada jaringan masarakat sipil sampai akar rumput, yang punya pratik baik dan komitemn yang jelas. Yang alih-alih menyibukkan dengan politik praktis menyoblos A atau B, tapi sudah memikirkan hal-hal konkrit yang harus diperhatikan semua pihak, juga pemerintah. Harapan seruan-seruan itu betul-betul semua itu ditangkap dan duwujudkan. Itulah mengapa semua orang mitra pilar peduli disabilitas mencermati itu,” tegas Arshinta.

Arshinta juga berharap momentum politik tahun ini menjadi mometum yang dapat disikapi tepat semua pihak. “Indonesia punya potensi besar dan kuat, bukan karena ukuran dan jumlah penduduk. Tapi Indonesia betul-betul mampu, di tengah segala  kemajemukannya mewujudkan pembangunan yang adil sejahtera dan inklsusif pada segala aspek,” lanjut Arshinta.

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.