Lompat ke isi utama
ilustrasi difabel dalam media

Membangun Stereotipe Difabel Dalam Bingkai Media

Solider.id, Bandung – Bagi masyarakat umum yang sangat jarang bersinggungan dengan individu difabel secara langsung, atau bahkan belum pernah mengetahuinya secara penamaannya, tentu saja media menjadi salah satu sumber informasi yang dapat diandalkan. Namun, sejauh manakah media dapat turut berperan dalam membangun stereotipe yang positif terhadap  sosok difabel yang ditampilkan atau diberitakan.

Media menjadi salah satu sarana ruang informasi serta hiburan yang dapat dengan mudah dan cepat untuk diakses masyarakat luas. Melalui keberadaan media pula, ekspektasi masyarakat akan timbul. Atau dengan kata lain, akan ada harapan besar yang dibebankan pada sesuatu, baik berupa informasi maupun hiburan didalamnya, yang dianggap akan mampu membawa dampak yang baik atau lebih baik lagi.

Ekspektasi masyarakat tentang sebuah informasi tayangan maupun berita yang disampaikan oleh sebuah media, akan mampu mempengaruhi tindak sosial di dalam lingkungan masyarakat tersebut secara nyata. Misalkan, saat di lingkungannya melihat sosok atau penokohan yang hampir menyerupai atau memiliki kemiripan dengan apa yang dilihat, dibaca di media, akan muncul pengilustrasian buah pikirnya yang akan mengingatkan kepada tayangan atau bacaan yang pernah ditemukannya.

Dari beragam konten media yang ditawarkan, baik media cetak, elektronik maupun media online akan memiliki perbedaan dalam penyampaian juga menyajiannya. Pada umumnya, konten media lebih merujuk kepada pencapaian rating, yaitu: untuk mengetahui seberapa besarkah penonton suatu acara atau pembacanya di sebuah media. Akan tetapi, media memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah penyampaian pesan kepada pembaca atau penontonnya.

Lalu, bagaimana peran media terhadap sosok-sosok difabel yang dimunculkannya?

Mungkin hingga kini, keberadaan difabel masih minim dari publikasi maupun sorotan media. Ruang gerak dan kesempatan yang mereka peroleh masih sangat kurang. Isu-isu yang berkaitan dengan kehidupan dan persoalan hidupnya, atau capaian prestasinya masih dianggap hal yang kurang menarik. Sehingga saat mereka dimunculkan oleh sebuah media tertentu kadang justru menimbulkan representasi sosial yang keliru.

Mereka, para difabel terkadang masih menjadi objek tayangan hiburan atau objek sebuah naskah yang telah diatur sedemikian rupa untuk mengetuk hati yang melihatnya. Stereotipe di media, mampu membawa dampak pada penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok dimana orang tersebut dapat dikategorikan. Hal ini dapat nyata terlihat pada sosok difabel. Namun, stereotipe ini pun dapat berupa penilaian atau prasangka yang positif dan juga negatif. Terkadang hal ini dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif.

Bagi sebagian besar masyarakat, yang mungkin untuk berkenalan secara langsung dengan difabel di tempat umum masih sangat terbatas. Mereka pun lebih banyak melihat atau mengetahuinya dari media. Respresentasi keliru yang masih sering muncul di benak mereka antara lain; ilustrasi sosok difabel yang menyedihkan dan perlu dikasihani, menjadikannya objek rasa penasaran mereka, difabel terkesan jahat, licik, bahkan difabel ditanggapinya sebagai objek inspirasi, sosok tertawaan, atau kondisinya yang menjadi beban masyarakat.

Perspektif dari masyarakat yang seperti tadi, dapat ditimbulkan oleh peran media terhadap perlakuannya kepada indivudu-individu difabel yang dimunculkan dalam sebuah penayangan. Baik dalam konten pemberitaan dan informasi maupun konten jenis hiburan yang tampil. Yang pada akhirnya, masyarakat akan membentuk opini tersendiri dalam menilai para difabel yang mereka temui langsung di lingkungannya sebagai objek kasihan, tertawaan, penasaran, atau inspirasi mereka.

Begitu besarnya peran media terhadap stereotipe difabel dimata masyarakat luas. Utamanya bagi mereka yang belum pernah mengetahui atau mengenali secara langsung dengan difabel yang beragam. Media dapat membangun stereotipe yang positif maupun negatif meski tanpa unsur kesengajaan.

Stereotipe yang positif, tentunya yang menjadi harapan dari semua media yang menyuguhkan konten-konten berkaitan dengan isu difabilitas. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana membangun stereotipe yang positif dimata masyarakat luas khususnya untuk konten difabilitas tersebut.

Difabel akan dianggap setara, sama seperti pada umumnya, dan bukan sosok-sosok yang perlu diistimewakan lagi keberadaannya dengan memberikan ruang gerak yang lebih luas di media. Kesempatan yang diberikan, kemunculan yang sering ditayangkan, keberadaannya yang selalu dikabarkan, secara lambat laut dapat membentuk opini masyarakat umum menjadi lumlah atau hal yang biasa saja.

Mereka akan memiliki respon dan penilaian yang bukan ekslusif lagi terhadap konten tayangan yang melibatkan difabel. Masyarakat akan memandangnya sebagai sebuah informasi atau tayangan yang memang menjadi pilihan untuk mereka ketahui. Dengan semakin banyaknya ekplorasi yang berkaitan dengan difabel di media, saat mereka bertemu langsung di lingkungan nyata pun akan menjadi hal yang biasa dan bukan sesuatu yang luar biasa apalagi yang tidak biasa mereka temukan dan lihat.

Mengubah perspektif masyarakat terhadap individu difabel sebagai objek kasihan, tertawaan, penasaran, atau inspirasi bagi mereka akan berhasil dengan pengaruh media yang menyuguhkan, menayangkan, memberitakan difabel sebagaimana porsinya penayangan yang lain. Kesempatan, lagi dan lagi yang masih dibutuhkan oleh masyarakat difabel termasuk peran dari media.

Sebuah media yang menayangkan informasi atau tayangan hiburan yang melibatkan difabel didalamnya tentu akan dinilai sebagai sesuatu yang eklusif dan berbeda. Secara tidak langsung stigma difabel pun akan seperti itu pula. Lain halnya, saat banyak media melakukan hal yang serupa, penilaian di masyarakat pun akan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Akan tetapi, pada kenyataannya media yang berpihak kepada isu-isu difabilitas dan  keberadaan difabel secara utuh sebagai subjek di lingkungan masyarakat yang heterogen masih sangat langka.

 

Penulis: Srikandi Syamsi

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.