Lompat ke isi utama
 Abdurrahman menuju bilik suara. Foto: Yuhda Wahyu Pradana

Bilik Suara Kurang Tinggi bagi Pemilih Pengguna Kursi Roda

Solider.id, Bantul – Dengan berkursi roda Abdurrahman masuk ke area simulasi tempat pemungutan suara dengan didorong oleh seorang petugas simulasi berpakaian linmas. Ia menunggu sebentar bersama beberapa daftar pemilih tetap yang menjadi peserta simulasi pemungutan dan penghitungan suara. Beberapa menit kemudian, namanya dipanggil dan ia menuju meja panitia untuk mengambil beberapa kertas suara dan menuju bilik suara dengan didorong oleh petugas yang sama.

Abdurrahman menjadi satu dari dua difabel yang menjadi peserta simulasi pemungutan dan penghitungan suara yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia di pelataran parkir objek wisata Goa Selarong, Bantul, DIY, Sabtu (9/3/2019).

Tidak ada desain khusus pada area bilik untuk Abdurrahman. Ia mengaku tidak terlalu kesulitan dalam melakukan pencoblosan. Meskipun begitu, ia merasa tempat pencoblosan masih terlalu tinggi dengan kondisinya yang berkursi roda.

“Mungkin bilik suara kurang luas dan kurang tinggi. Kalau surat suaranya kelihatan semua saat mau dicoblos, tapi ya agak susah tadi karena surat suaranya besar-besar," ungkap Abdurrahman.

Simulasi pemungutan dan penghitungan suara ini mengambil tempat di TPS 13 Dusun Kembang Putihan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Bantul, DIY dengan peserta simulasi adalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) asli yang terdaftar di TPS ini. 

"Peserta simulasi ini adalah pemilih sesungguhnya pada saat Pemilu bulan April nanti. Jadi  memang sengaja dibuat riil. Namun, ada modifikasi sedikit karena nama TPS dirubah jadi TPS 99 agar tidak mengarah ke salah satu calon dalam Pemilu 2019," terang Nur Syarifah, Kepala Biro Teknis dan Hubungan Partisipasi Masyarakat KPU RI dalam sambutannya.

Ada dua difabel yang terdaftar dari TPS ini dan keduanya adalah difabel daksa. Panitia pun tidak menyiapkan desain khusus bilik suara difabel dalam simulasi kali ini.

“Jadi hanya ada dua difabel. Salah seorang diantaranya memakai kursi roda. Tidak ada desain khusus. Namun ada petugas keamanan yang nanti akan membantu difabel berkursi roda di TPS. Tidak ada pula desain khusus untuk difabel lain seperti netra karena DPT yang terdaftar di TPS ini hanya yang daksa saja,” terang Sri Mulyani, Kasubbag Program dan Data, KPU Bantul.

Ketika ditanya tentang aksesibilitas untuk difabel lain dalam pemilu mendatang, Sri menjawab singkat bahwa pihak KPU Bantul akan menyiapkan desain dan template khusus untuk difabel.

“Nanti akan disiapkan, untuk surat suara bagi difabel netra berupa braille itu sedang kami usahakan,” ucap Sri.

Agenda kali ini menjadi simulasi terakhir yang digelar oleh KPU RI menjelang pemilihan umum yang akan dilaksanakan April nanti.  

 

Wartawan  : Yuhda

Editor        : Ajiwan Arief

        

The subscriber's email address.