Lompat ke isi utama
 Panggung even "Share The Road" dengan penyediaan ramp portabel.

Sudah Saatnya Pengguna Jalan Nikmati Aksesibilitas, “Share The Road”

Solider.id, Surakarta - Didit, pegiat Self Help Group (SHG) Solo Juara dan pengurus harian Tim Advokasi Difabel (TAD) merasa lega dan bangga saat dirinya diundang oleh Dinas Perhubungan Surakarta dalam acara “Share The Road” di Perempatan Ngarsopuro Solo Car Free Day (CFD), Minggu (10/3). Apalagi dalam kegiatan tersebut disediakan ramp/plengsengan portabel bagi pengguna kursi roda yang hendak menaiki panggung. Tak hanya itu, event sebagai sosialisasi bagi awam pengguna jalan ini juga diwarnai dengan simulasi penggunaan pedestrian oleh difabel netra serta deklarasi serukan akses bagi pengguna jalan.

Menurut Didit ini salah satu bentuk keberhasilan advokasi yang selama ini dilakukan oleh pegiat difabel kota Surakarta serta komunitas pengguna jalan lainnya seperti komunitas pejalan kaki dan pecinta sepeda. Kota Surakarta telah memiliki perda kesetaraan difabel yakni perda No. 2 tahun 2008, tiga tahun sebelum Indonesia meratifikasi UNCRPD. Kota Surakarta juga telah memiliki Perda Nomor 1 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Perhubungan.

Hari Prihatno, Kepada Dishub Surakarta menghimbau pengguna jalan untuk mau berbagi dengan difabel. Di beberapa pedestrian Kota Surakarta telah tersedia guiding block/jalur pemandu sebagai penanda bagi difabel netra namun banyak pengguna jalan yang masih menyalahgunakan. “Ini penting karena difabel kesulitan tatkala mencari akses bagi tongkat putihnya,” terang Hari Prihatno di depan wartawan. Jalur pemandu di Ngarsopuro terpotong oleh parkir sepeda motor dan pedangan kaki lima untuk membuka lapak.

Misbahul Arifin, seorang mahasiswa difabel netra bersama seorang kawan netra lainnya yang melakukan simulasi mengatakan bahwa simulasi yang dilakukan tidak pas dan mengena karena guiding block berada di tengah trotoar/pedestrian. “Dan bikinnya pakai semen ya? Mestinya pakai ornamen besi biar kuat juga. Atau seperti di Terminal Tirtonadi,”ujar Misbah.

Menurutnya guidingblock/jalur pemandu percontohan itu ada di dekat Stasiun Tugu, Malioboro. Di Solo trotoar masih dikuasai oleh pengguna sepeda motor jika jalanan sedang macet dan ada yang memfungsikan sebagai lahan parkir.

Misbah juga menambahkan even Dishub Kota Surakarta dengan cara memberikan sosialisasi kepada masyarakat sudah bagus. Namun aksesibilitas masih minim. “Guidingblock masih nol besar. Itu ada di tengah jalan, dan di pinggir, dan ada pohon yang daunnya menjuntai ke bawah. Harusnya gini, kalau pemkot mau membangun lagi ajaklah Tim Advokasi Difabel (TAD), supaya paham. Ramp/plengsengan masih tinggi juga tadi karena pengguna masih susah”.

Misbah menambahkan, waktu simulasi di Ngarsopuro, ada kursi besi yang melingkari pohon yang mestinya ditaruh di pinggir bukan tengah-tengah dan tidak ada penanda. “Saya masih bingung persepsiku tentang trotoar di Ngarsopuro ini bagaimana?”.  

 

Wartawan : Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.