Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar jogja aksesibel 2024

Tantangan Kota Yogyakarta Wujudkan Jogja Aksesibel 2024

Solider.id, Yogyakarta - Keterbukaan cara pandang pemerintah Kota Yogyakarta terhadap masyarakat difabel dengan seluruh hak yang melekat, melahirkan kesadaran untuk memenuhi hak seluruh difabel, mengingat hal ini adalah kewajiban pemerintah sebagai pelayan masyarakat. Kesadaran pemerintah   diwujudkan dengan salah satunya memenuhi aksesibilitas fisik pada berbagai fasilitas layanan publik.

Aksesibilitas fisik  ialah sarana prasarana yang sangat ramah bagi semua orang. Lingkungan yang didesain sedemikian rupa sehingga sangat nyaman dan tidak memiliki hambatan bagi siapapun.

Aksesibilitas fisik ini dapat dilihat, dipegang, dan dirasakan. Beberapa contoh aksesibilitas di antaranya: bidang miring (ramp) dan pegangan pemandu (handrail), serta jalur pemandu (guiding block). Ramp sebagai pengganti tangga yang dapat digunakan oleh pengguna kursi roda agar dapat mengakses tempat yang tinggi lebih mudah. Adapun handrail adalah pagar untuk pegangan yang berada di samping ramp, sekaligus juga sebagai pengaman agar kursi roda tidak tergelincir keluar dari ramp. handrail berfungsi juga sebagai jalur pemandu bagi difabel netra. Sedangkan guiding block berfungsi sebagai jalur pemandu agar difabel netra mudah mengakses jalan tanpa takut ada rintangan ketika mereka sedang berjalan sendiri tanpa ada pendamping.

Selama ini awam sering kali dengan persepsi mereka. Ketika mendengar aksesibilitas fisik, lantas mengaitkannya dengan difabel.  Sebagaimana ditulis pada paragraf sebelumnya, maka aksesibilitas fisik ini dapat dimanfaatkan oleh siapa saja. Baik bagi mereka yang dalam kategori lanjut usia, perempuan hamil, anak-anak, tentu saja difabel. Bahkan mereka yang tidak masuk dalam kategori pun, dapat memanfaatkannya.

Well, tentu saja kita tidak akan fokus pada persepsi, melainkan pada awarness pemerintah. Awarness yang dimiliki itu terlihat dengan penyediaan aksesibilitas fisik atau sarana prasarana pada berbagai bangunan. Sebagaimana bisa dijumpai pada berbagai ruas trotoar yang sudah dilengkapi dengan guiding block, di ujungnya tidak lagi bertangga melainkan landai. Demikian pula aksesibilitas pada sarana transportasi Trans Jogja, juga perkantoran. Demikian pula dapat dijumpai di Malioboro. Bukan hanya ramp, handrail, dan guiding block, bahkan toilet akses pun sudah  ada di sana. Demikian juga, yang baru-baru ini sedang dalam proses pengerjaan adalah trotoar di sepanjang Jalan Suroto, Yogyakarta, tak kalah apik di bangun di sana.

Namun demikian,  berbagai pembangunan aksesibilitas tersebut tidak serta merta dapat dinikmati oleh masyarakat. Beberapa kelompok rentan seperti difabel, lansia, dan ibu hamil  masih belum bisa sepenuhnya mandiri mengakses berbagai aksesibilitas fisik yang ada.

Akibatnya aksesibilitas yang dirancang sedemikian rupa, dibangun dengan sangat elegan justru disalah fungsikan. Beberapa guiding block baik yang berada di pedestrian Malioboro maupun Jalan Suroto bahkan raib. “Barangkali karena berbahan mahal dan mudah dijual, sehingga dicuri orang,“ celetuk salah seorang difabel dalam sebuah obrolan santai.

Kompleksitas permasalahan  trotoar

Tidak sulit menemukan fasilitas bagi pejalan kaki atau trotoar di Kota Yogyakarta. Tidak sulit pula menemukan trotoar yang dipasang jalan pemandu (guiding block) bagi difabel netra. Selain penambahan guiding block, trotoar juga dibuat landai agar pemakai kursi roda dapat memakai trotoar tanpa harus meminta bantuan orang lain.

Sebagaimana data Depkimpraswil (Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah) 2015 Kota Yogyakarta, panjang trotoar Kota Yogyakarta yang ber-guiding block ialah 15.343,96 m2. Sepanjang 10.369,60 m2 trotoar berada di Jalan Kusumanegara, Hayam Wuruk, Jenderal Sudirman, Diponegoro, Taman Siswa, Sugeng Jeroni, Senopati, Malioboro, Ahmad Yani, Yos Sudarso, Suroto, FM Noto, Ngadikan, Atmo Sukarto, Ngasem, Jogokaryan, Prof Supomo, D.I. Panjaitan. Adapun 4.974,36 m2 berada di Jalan Cikditiro, Kahar Muzakir, Sam Ratulangi, Suroto, A Yani, Ahmad Dahlan, Malioboro, Kusumanegara, Pakuningratan, Lowanu, Veteran, Sugeng Jeroni dan Tentara Pelajar.

Namun demikian, keberadaan seluruh trotoar yang dilengkapi dengan aksesibilitas agar ramah bagi semua, tidak juga membuat para pejalan kaki mendapatkan kenyamanan dan rasa aman. Mengapa demikian? Karena hampir semua trotoar disalahfungsikan. 

Hasil pengamatan yang dilakukan Solider, menemukan trotoar yang tidak bermasalah lebih sulit daripada menemukan trotoar bermasalah. Bukan rahasia umum lagi bahwa trotoar di Yogyakarta kehilangan makna. Bukan lagi memberikan rasa aman bagi pejalan kaki termasuk difabel, tetapi dikuasai oleh kepentingan ekonomi. Sebagai arena berdagang, dikooptasi sebagai sarana parkir, tamanisasi, pemasangan tiang-tiang listrik, telepon,  bahkan sebagai tempat meletakkan halte portable (tidak permanen) Trans Jogja. 

Problem lain terjadi pada berbagai aksesibilitas yang ada di trotoar. Sebagai salah satu contoh yakni adanya pencurian ratusan (sekira 600) taktil guiding block yang ada di Jalan Suroto Kotabaru. Ketidak pedulain masyarakat, budaya (mental) abai, lemahnya pengawasan dan penegakan hukum menjadi berbagai tantangan yang dihadapi pemerintah Kota Yogyakarta.

Berbagai catatan yang terjadi atas aksesibilitas di Kota Yogyakarta menjadi tantangan pemerintah, demikian pula seluruh warga yang tinggal di Kota Yogyakarta. Mengingat berbagai permasalahan atau tantangan yang timbul seluruhnya berkaitan dengan budaya tidak peduli, tidak menghargai. Ada pula yang betul-betul tidak tahu nama dan fungsi dari aksesibilitas yang ada.

Membangun peradaban

Kesadaran memenuhi hak seluruh warga, termasuk difabel dengan membangun sarana dan prasarana yang aksesibel saja tidak cukup. Perlu strategi untuk menjaga seluruh aksesibilitas yang ada berfungsi sebagaimana mestinya. Sebuah gerakan membangun peradaban menjadi strategi jitu, sekaligus tantangan pemerintah Kota Yogyakarta.

Membangun peradaban perlu waktu yang panjang, proses tak kenal lelah. Proses sosialisasi sehingga dipahami, proses edukasi sehingga dimengerti, demikian juga proses pengawasan dan pengawalan. Adapun sebagai elemen masyarakat, membangun peradaban dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran menghargai diri sendiri. Sehingga tidak rela, ketika melakukan tindakan melanggar hak asasi orang lain.

Paparan di atas menjadi tantangan besar pemerintah, sekaligus warga Kota Yogyakarta mewujudkan Jogja Aksesibel 2024. Membutuhkan keterlibatan banyak pihak, kesadaran bersama, agar dalam masa lima tahun lagi Yogyakarta betul-betul menjadi kota yang ramah, aksesibel, layak ditinggali oleh setiap orang tanpa kecuali.  

 

Wartawan: Harta Ninng Wijaya

Editor       : Ajiwan Arief Hendradi

The subscriber's email address.