Lompat ke isi utama
ilustrasi gambar SDGs

Membayangkan Dunia pada 2030 Sepenuhnya Inklusif Difabilitas

Solider.id, Yogyakarta - Betapa indahnya dunia saat setiap jiwa dapat keluar rumah tanpa hambatan fisik maupun nonfisik. Ketika setiap anak dapat menikmati pendidikan sebagaimana yang dibutuhkan. Ketika bisa mendapatkan pekerjaan sebagaimana potensi yang dimiliki. Ketika dapat menikmati mengunjungi setiap tempat secara mandiri. Ketika transportrasi publik ramah dan berbagai fasilitas publik lain mudah diakses. Hidup pasti akan menjadi gembira, bahagia, penuh semangat, dan berharga.

Saat ini berbagai keindahan, berbagai kemudahan, berbagai aksesibilitas yang memandirikan, belum dapat dinikmati oleh warga masyarakat yang terlahir atau menjadi difabel. Sebuah contoh pada dunia pendidikan. Beberapa difabel masih kesulitan mengakses. Penolakan demi penolakan masih saja terjadi. Jikalau pun difabel dapat mengakses pendidikan, layanan sesuai kebutuhan baik fisik maupun nonfisik belum tersedia.

Buku-buku ajar masih bersifat umum sehingga tidak akses bagi difabel netra. Bangunan gedung belum ramah bagi difabel dengan kursi roda. Kedua hal merupakan contoh layanan fisik di dunia pendidikan yang diskriminatif atau tidak aksesibel. Demikian pula sistem pengajaran belum mengadaptasi berbagai kebutuhan difabel. Bagaimana sulitnya difabel tuli memahami penjelasan guru yang lebih banyak menjelaskan ketimbang visualisasi, adalah salah satu contoh.

Upaya pemerintah menyediakan guru pendamping khusus (GPK) masih belum memenuhi kebutuhan. GPK hanya dihadirkan dua kali dalam satu minggu, sementara proses belajar mengajar berlangsung lima atau enam hari. Belum lagi ketika satu orang GPK harus menghendel beberapa difabel pada beberapa kelas atau jurusan.

Berbagai permasalahan atau bentuk diskriminasi (istilah ekstrim) terjadi tidak hanya di dunia pendidikan, melainkan pada berbagai sektor kehidupan. Untuk itulah gerakan mendorong perubahan terus dilakukan oleh berbagai organisasi disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), melalui koordinasi Perhimpunan OHANA Indonesia.

Setelah melakukan monitoring dan audit aksesibilitas terhadap pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun lalu, pada 2019 ini kegiatan yang sama dilakukan terhadap pemerintah Kabupaten Sleman.  Tepatnya pada Selasa (5/3), monitoring dan audit aksesibilitas dilakukan pada Badan Perencanaan Penganggaran Daerah (Bappeda), Dinas Sosial (Dinsos), dan Dinas Pekerjaan Umum (PU).

Prinsip SDGs

Sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Eksekuif Ohana, yang juga Komite CRPD PBB, Risnawati Utami, sejak September 2015, Majelis Umum PBB (General Assembly) telah mengadopsi Agenda 2030. Yakni pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yang mencakup 17 tujuan. Sebuah agenda baru yang menekankan pendekatan holistik guna mencapai pembangunan berkelanjutan bagi semua. Pembangunan berkelanjutan dengan prinsip "tidak meninggalkan siapa pun (No One Left Behind)",

SDGs secara eksplisit memasukkan disabilitas dan penyandang disabilitas [difabel_red] sebanyak 11 kali . Kedisabilitasan dirujuk di banyak bagian SDGs, khususnya di bagian yang terkait dengan pendidikan, pertumbuhan dan lapangan kerja, ketimpangan, aksesibilitas pemukiman manusia, serta pengumpulan data dan pemantauan SDG.

“Meskipun, kata disabilitas tidak dikutip secara langsung pada semua tujuan, namun tujuan SDGs memang relevan untuk memastikan inklusi dan pengembangan orang dengan difabilitas,” terang Risna.

Agenda 2030 yakni SDGs yang sudah mulai diimplementasikan pada 2016, memegang janji yang sangat berarti bagi masyarakat difabel di mana pun. Untuk itu mempromosikan pengarusutamaan difabilitas dan implementasi SDGs sepanjang kurun waktu 15 tahun harus dilakukan. Dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan Agenda 2030 dan pencapaian SDGs bagi warga difabel; serta mempromosikan dialog aktif dengan para pemangku kepentingan tentang SDGs, supaya menciptakan dunia yang lebih baik bagi warga difabel.

17 Goals mengubah dunia

17 tujuan SGDs tentu saja tidak dapat diaplikasikan secara bersamaan atau dalam waktu yang sama. Kurun waktu 15 tahun dimaksudkan agar dapat secara bertahap diterapkan oleh negara-negara yang telah mengadopsi SGDs, salah satunya Indonesia. Adapun yang menjadi fokus pada advokasi yang dimotori oleh Perhimpunan OHANA Indonesia ialah pencapaian goal 10 dan 11.

Adapun 17 Goals SDGs yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik, atau dunia yang sepenuhnya inklusif difabilitas adalah, 1. Tidak ada kemiskinan, 2. Nol kelaparan, 3. Kesehatan dan kesejahteraan yang baik, 4. Pendidikan berkualitas, 5.kesetaraan gender, 6. Air bersih dan sanitasi, 7. Energi yang terjangkau dan bersih, 8. Pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, 9. Industri, inovasi, dan infrastruktur, 10. Mengurangi ketimpangan, 11. Kota dan komunitas berkelanjutan, 12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, 13. Aksi iklim, 14. Kehidupan di bawah air, 15. Kehidupan di darat, 16. Institusi kuat dan perdamaian dan keadilan, serta 17. Kemitraan untuk mencapai tujuan.        

 

Wartawan: Harta Nining Wijaya

Editor       : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.