Lompat ke isi utama
Dua mahasiswa sedang membantu pengguna kursi roda ketika melewati pedestrian malioboro

Ketika Difabel Menjelajah Pedestrian Malioboro

Solider.id, Yogyakarta- “Wah, apakah difabel tidak boleh berbelanja di sini ya? Kok jalanan sudah sempit, diberi batu (bola-bola bulat atau bollart_red) juga. Padahal, kebutuhan kita sama sebagai mana manusia lainnya. Hak kami sama kan? Kami juga butuh belanja dengan bahagia, jalan-jalan menghirup udara Jogja, menikmati pedestrian tanpa tertekan, tapi kok akses jalan tidak mudah ya?”

Beberapa difabel mengungkapkan kepada Solider dengan ekspresi sedih, jengkel, marah, kecewa, sedih, tidak bahagia atas kondisi pedestrian Malioboro ketika sedang beraktivitas bersama warga Yogyakarta pada Sabtu pagi (23/2).

Kekecewaan itu terucap setelah mereka melintas area pedestrian yang digunakan sebagai lapak para pedangan berjualan, mulai dari pakaian sampai berjualan makanan. Selain itu pedestrian tidak mudah diakses mereka karena berbagai hambatan yang ditimbulkan dari penataan barang dagangan dan bangunan hiasan yang merintangi sepanjang jalan.

Hari itu mereka dengan memakai dresscode berwarna pink menyusuri pedestrian Malioboro. Di antara mereka ada yang menggunakan kursi roda, krug penyangga tubuh, penopang kaki (brache), tongkat putih, tongkat kayu, ada pula yang tanpa alat bantu.

Aktivitas mereka bukan tanpa alasan, mereka membawa misi mulia mengawal Peraturan Daerah tentang Penyandang  Disabilitas Daerah Istimewa Yogyakarta. Perda DIY No. 4 Tahun 2012. Mereka berjalan dari Titik Nol menuju kantor DPRD DIY, hendak berdialog terbuka dengan anggota dewan.

Berempati dengan mengalami

Kontan saja, mendengar keluhan sekaligus menyaksikan ekspresi kekecewaan yang nyata tersirat, dapat dibayangkan jika menjadi mereka. Empati itu bisa tumbuh dengan mengalami atau menjadi bagian dari hidup mereka.

Sebuah kalimat muncul dari benak orang yang memmiliki empati, “inilah bentuk diskriminasi”. Hambatan (barrier) diciptakan, entah sengaja atau tanpa sengaja. Padahal, menjadi difabel tentu saja tidaklah mereka pesan (order), pasti orang tua mereka pun tidak juga menginginkannya. Sama halnya ketika saya terlahir sebagai perempuan, tentu ini atas ketentuan sang pencipta.

“Lapak para pedagang kakli lima sepanjang Pedestrian Malioboro ini tidak dirancang terbuka bagi difabel pengguna kursi roda,” suara kekecewaan seorang perempuan. Dia tidak lain adalah Nuning Suryatiningsih, kordinator kegiatan pagi hari itu.

Penempatan barang dagangan tidak ditata sedemikian rupa, sehingga menutup atau mengambil akses jalan yang ada. Ditambah adanya bollart, akses yang diperuntukkan bagi pembeli memilih barang yang hendak dibeli menjadi sempit.

Ketika itu, Nuning dengan kursi roda yang digunakannya tidak dapat mengakses jalan karena terlalu sempit. Dibantu dua mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Nuning turun dari kursi roda miliknya.

Setelah dipastikan Nuning berdiri dan kuat menopang tubuhnya, dua mahasiswa  tadi lantas mengangkat kursi roda, memindahkannya dari hambatan, berikutnya memastikan Nuning duduk kembali di kursi roda.

Dua mahasiswa datang bersama lima teman lainnya. Mereka  tergabung dalam sebuah organisasi Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA). Salah satu organisasi resmi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana. Pagi itu mereka terlibat dan mendukung dalam kegiatan dialog terbuka yang diinisiasi oleh Perhimpunan OHANA Indonesia.

Membangun kepedulian

Mereka membutuhkan bentuk kepedulian daripada belas kasihan. Memberi kesempatan bukan pengucilan, agar bahagia sebagai warga negara itu dirasa oleh setiap dari mereka yang terlahir sebagai difabel. Menjadi difabel yang tidak ada satu pun makhluk mencita-citakan.

Membangun peradaban sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD DIY, Arif Norr Hartanto, harus diwujdukan dan dikawal. Membangun peradaban sama halnya dengan membangun mental sebuah bangsa. Meski tidak mudah, tetapi berbekal kemauan dan rasa kemanusiaan, cinta kasih, tidak ada yang tidak bisa diwujudkan.

Cara yang paling mudah adalah menenggelamkan diri, membiarkan larut dalam rasa menjadi mereka yang terlahir difabel. Terlebih, menjadi difabel itu selain terjadi sejak dilahirkan dapat juga terjadi pada siapa saja. Oleh sebab sakit, kecelakaan, atau sebab lain yang kita semua tidak pernah tahu, tidak pernah menginginkannya.

Ungkapan nelangsa beberapa difabel, juga pemandangan bagaimana sulitnya difabel mengakses jalan publik,  masih terjadi hingga saat ini. Itu tentu hanya bagian kecil hambatan yang tercipta bagi para difabel.

Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh mengatakan, aksesibilitas bagi difabel pada sepanjang pedestrian Malioboro sangat baik. Baik yang berada di sisi kanan maupun kiri sepanjang Malioboro disebut Syarif sudah memadai.

Hanya saja, ada sebagian akses jalan disabilitas yang benar terganggu oleh barang-barang para Penjual Kaki Lima (PKL).  Hal itu diakui Kepala UPT Malioboro.

“Di sinilah dibutuhkan kesadaran dan kepedulian bagi para pengguna trotoar lainnya. Dahulukan para difabel saat menggunakan trotoar. Itu yang perlu dibangun. Termasuk saat menggelar dagangan,” ungkap Syarif Jumat (1/3).

UPT Malioboro akan segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, untuk mengurai permasalahan yang ada. Salah satunya dengan mensosialisasikan pentingnya membangun kesadaran terhadap para PKL di  pedestrian Malioboro.

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.