Lompat ke isi utama
Empat Pembicara dalam diskusi yang bertajuk Meneguhkan Nilai Keislaman dan Kemanusiaan Dalam Penghapusan Kekerasan Seksual

Nilai Keislaman dalam Rancangan UU Penghapusan Kekerasan Seksual

Solider.id, Yogyakarta- Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) sedang hangat dibicarakan. RUU tersebut menuai berbagai respon. Salah satunya berupa penolakan karena dianggap melegitimasi perzinahan.

Pernyataan tersebut dibantah oleh Maria Ulfah Anshor, Pengurus Alimat Jakarta dalam diskusi bertajuk Meneguhkan Nilai Keislaman dan Kemanusiaan Dalam Penghapusan Kekerasan Seksual di Teatrikal Perpustaaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jumat (1/3).

Maria menolak tanggapan yang menyatakan RUU PKS mengesahkan perzinahan. Lantaran, dalam perspektif Islam, RUU PKS memiliki landasan filosofis: menjaga nilai-nilai ubudiyah di keseharian.

Salah satu nilai ubudiyah berupa tindakan menentang kekerasan seksual. Selain itu, kekerasan seksual juga bertentangan dengan Tauhid karena pelaku tunduk pada nafsu seksnya.

“Kedudukan pelaku pada korban ini (kekerasan seksual-red) bertentangan dengan status manusia sebagai hamba Allah SWT,” tegas Maria dalam diskusi tersebut yang diadakan berbagai elemen aliansi.

Masalah lain yang menurut Maria mendesak pengesahan RUU PKS adalah konteks sosiologis yang seringkali tidak berpihak pada korban. Seringkali korban dianggap sebagai pelaku yang juga menginginkan kekerasan seksual terjadi. Konteks sosiologis ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang menjunjung tinggi relasi yang setara sesama manusia.

Argumentasi yang menyatakan RUU PKS melegitimasi perzinahan pun menjadi mentah lantaran dalam wilayah privat, kasus kekerasan seksual juga terjadi. Di wilayah privat, kasus tertinggi kedua dilakukan oleh ayah, kemudian disusul oleh paman, ayah tiri, dan suami yang semuanya merupakan hubungan muhrim, sedangkan kasus paling tinggi dilakukan oleh pacar. Data tersebut diungkapkan Sri Wiyanti Eddyono, Dosen Hukum UGM.

“Ini menunjukkan, kekerasan seksual dilakukan oleh orang terdekat kita, orang yang kita percaya,” ungkap Sri Wiyanti.

M. Ikhsanuddin, Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ An Nur, salah satu pembicara dalam acara tersebut kembali menegaskan pengesahan RUU PKS dalam perspektif Islam. Dalam buku karangan Imam Ghazali, Ikhsanuddin menjelaskan, ada bab yang membicarakan tentang etika relasi seksual berjudul Adab Al-Muasyarah.

“Artinya, dengan melihat kitab ini, kita bisa menyimpulkan Islam sangat menghargai perempuan dan menjunjung etika relasi seksual” tukas Ikhsanuddin.[]

 

Repoorter: M. Sidratul Muntaha

Editor: Robandi

The subscriber's email address.