Lompat ke isi utama

Caleg Difabel dan Tantangan Merebut Kursi Parlemen

Solider.id, Yogyakarta - Data dari Pusat Pemilu Akses Penyandang Disabilitas menunjukan bahwa pada tahun 2019 ini akan ada lebih dari 30 calon legislatif difabel yang berpartisipasi sebagai peserta dalam pemilu. Salah satu dari Calon Legislatif itu adalah Anggiasari Puji Ariyatie. Anggi, begitu ia akrab disapa, merupakan calon legislatif DPR RI dari partai Nasdem.

Sebagai seorang calon legislatif  difabel, Anggi memiliki perhatian penuh mengenai representasi difabel di parlemen. Isu yang ingin ia suarakan ketika nantinya berhasil duduk di kursi DPR RI adalah implementasi Undang-Undang Penyandang Disabilitas. Hal ini karena regulasi ini telah disahkan sejak beberapa tahun yang lalu, sehingga DPR RI sebagai lembaga negara yang memiliki fungsi kontrol wajib untuk melakukan pengawasan  terhadap pelaksanaan Undang-Undang tersebut.

Terkait isu difabel yang hendak Anggi suarakan di parlemen, ia memandang ada dua permasalahan penting yang menjadi fokus utama. Pertama, permasalahan akses pendidikan bagi difabel. kedua, permasalahan akses lapangan pekerjaan bagi difabel.

Pertama berkaitan dengan pendidikan, Anggi mengungkapkan bahwa hanya ada sedikit anak difabel yang dapat mengenyam bangku sekolah. Mayoritas anak-anak difabel yang dapat mengenyam bangku pendidikan itu pun sebagian besarnya berada di sekolah khusus atau sekolah luar biasa. “Apalagi kalau kita bicara yang dapat mengakses bangku perkuliahan, pasti jauh lebih sedikit lagi” ungkap Anggi saat dijumpai di Noma Café pada 22 Februari 2019

Kedua mengenai isu ketenagakerjaan bagi difabel, Anggi melihat bahwa hari ini difabel masih kesulitan mengakses lapangan pekerjaan. Ia menyebutkan bahwa stigmatisasi terhadap difabel di dunia kerja masih cukup banyak. Anggi mencontohkan bahwa ada rekannya yang merupakan seorang difabel netra lulusan master dari universitas di luar negeri, mendapatkan penolakan saat mendaftar kerja dan justru diberi sumbangan sebesar Rp. 5000.

Pilihan Anggi untuk mengangkat isu difabel menurut Anggi sesungguhnya tidak hanya akan menguntungkan kelompok difabel saja. Anggi mengatakan bahwa setiap orang  memiliki potensi untuk menjadi difabel. Apalagi di Indonesia yang memiliki angka kecelakaan lalu lintas dan bencana alam yang tinggi. Menurutnya ini adalah momen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa siapa pun dapat menjadi difabel dengan latar belakang yang berbeda-beda, oleh karenanya hak-hak difabel harus di perjuangkan.

Tidak jauh berbeda dengan Anggi, Muhammad Fu’ad Ghufron seorang calon legislatif difabel netra untuk DPRD Kota Magelang juga ingin mengangkat isu yang serupa. Menurut Fu’ad, sampai hari ini diskriminasi dibidang pendidikan terhadap difabel masih dapat dijumpai. Ia mencontohkan bahwa ketika difabel mendaftar ke sekolah-sekolah umum, siswa difabel itu kerap kali hanya diposisikan sebagai cadangan saat proses pendaftaran.

Selain itu, isu lain yang ingin Fu’ad suarakan adalah isu mengenai program keluarga harapan. Isu ini berangkat dari aspirasi warga masyarakat saat ia berkampanye. Sebagian warga masyarakat menurutnya kerap mengalami hambatan saat hendak mengakses program ini.

Tantangan Caleg Difabel Menuju Parlemen

Anggiasari Puji Ariyatie mengungkapkan bahwa dirinya sangat optimis untuk dapat meraih suara sebanyak-banyaknya sebagai modal untuk meluluskannya ke Senayan. Tetapi, ini bukan berarti tidak ada tantangan. Salah satu tantangan caleg difabel seperti Anggi, menurutnya adalah ia bukan berasal dari latar belakang caleg yang memiliki kemampuan finansial yang mumpuni sebagai modal kampanye. Menurut Anggi ini menjadi penting untuk meningkatkan kesadaran politik masyarakat agar tidak hanya menjadikan indikator kemampuan finansial dalam menjatuhkan pilihan saat pemilu.

Lagi-lagi tidak jauh berbeda dari Anggi, Muhammad Fu’ad Ghufron juga memiliki tantangan yang sama. Menurutnya bertarung dengan caleg yang memiliki kemampuan finansial yang mumpuni selalu menjadi tantangan bagi caleg difabel sepertinya. Selain itu, Fu’ad mengungkapkan bahwa minimnya kesadaran masyarakat mengenai keberadaan difabel di lingkungan sekitarnya adalah tantangan lain yang harus dihadapi oleh difabel. Alhasil Fu’ad harus menjadikan momen kampanyenya sekaligus waktu untuk meningkatkan kesadaran publik terkait isu-isu difabel. “Banyak masyarakat yang masih merasa asing dengan kehadiran difabel” ujarnya saat ditemui di SLB Ma’arif Magelang.

Strategi untuk Mengatasi Tantangan

Anggiasari Puji Ariyatie memiliki beberapa strategi untuk membantunya meraih suara dalam pemilu. Salah satunya adalah dengan menghimpun relawan dan membangun jejaring dengan berbagai komunitas maupun organisasi. Bukan hanya kelompok difabel yang membantu Anggi, namun juga para relawan nondifabel yang memiliki kepedulian terhadap isu inklusivitas juga turut andil membantu proses kampanyenya.

Muhammad Fu’ad Ghufron pun juga demikian. Selain menggunakan relawan sebagai strategi dalam kampanyenya, Fu’ad juga terus melakukan sosialisasi dalam kegiatan kemasyarakatan di daerah pemilihannya. Bersama-sama para relawannya, Fu’ad juga mencoba melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang mungkin dapat memberikan banyak suara dalam pemilihannya. Fu’ad mendapatkan dukungan penuh dari komunitas difabel Kota Magelang.

 

Wartawan : Tio Tegar

Editor        : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.