Lompat ke isi utama
isi untuk pengguna kursi roda di Old Trafford

Aksesibilitas Difabel di Fasilitas Olahraga: Berkaca pada Old Trafford

Solider.id, Banjarnegara – Ada yang menarik saat saya menyaksikan leg pertama babak enam belas besar Liga Champions antara Manchester United melawan Paris Saint German (13/02).  Hal menarik tersebut bukan tentang takluknya Setan Merah di kandang sendiri setelah tak pernah kalah di bawah asuhan Ole Gunnar Solkjaer sebagai manajer baru klub. Yang menarik juga bukan momen ketika gelandang serang PSG, Angel Di Maria, dilempari botol bir oleh pendukung Manchester United. Yang menarik justru momen ketika Angle Di Maria mengambil tendangan sudut dari sisi sebelah kanan pertahanan Manchester United di babak kedua yang berujung gol dari Presnel Kimpembe, ada latar belakang penonton berkursi roda pada sisi penonton tandang (away) di Stadion Old Trafford ini. Ada sekitar empat baris area yang disiapkan untuk para pendukung Manchester United yeng menggunakan kursi roda.

Dikutip dari Guardian, kebijakan menghadirkan tempat yang cukup untuk pengguna kursi roda di Old Trafford memang cara Manchester United untuk memberi kesempatan semua kalangan pendukungnya untuk bisa menonton pemain kesayangan mereka. Spot ini bisa menampung sekitar 300 pengguna kursi roda dan membuat kapasitas 2600 penonton yang tadinya menggunakan spot tersebut harus dipindah ke sisi penonton yang lain secara bertahap.

“Saya sangat bangga karena klub yang sudah saya dukung sejak pertama kali saya datang ke stadion ini ketika masih kecil tahun 1957 sudah melangkah maju dalam meningkatkan aksesibilitas yang memenuhi standar dari Accessible Stadia Guide,” ungkap Chas Banks, sekretaris Asosiasi Suporter Difabel Manchester United seperti dikutip dari Guardian.

Tidak hanya memberikan jatah 300 kursi bagi pengguna kursi roda, manajemen Stadion Old Trafford juga membangun jaring pelindung karena spot untuk pengguna kursi roda ini berada persis di bawah sisi tribun untuk pendukung tim lawan yang bermain tandang ke Old Trafford.

Sebelumnya, Dailymail melansir bahwa para pendukung difabel di Old Trafford rentan terkena lemparan koin, botol berisi urin bahkan payung dari para pendukung lawan Manchester United yang berada persis berada di atasnya. Pada laga melawan Wolves, para pendukung Manchester United yang menggunakan kursi roda ini bahkan terkena granat asap yang dilemparkan pendukung Wolves.

Kebijakan di atas adalah sebuah rangkulan klub sepak bola terhadap para pendukungnya dengan memenuhi segala kebutuhannya. Tanpa pendukung, klub sepak bola seperti kehilangan pemain ke dua belasnya, selain juga kehilangan pemasukan reguler dari keuntungan penjualan tiket pertandingan.

Penyelenggaraan Indonesia 2018 Asian Para Games lalu sebenarnya bisa menjadi batu loncatan penyediaan fasilitas olahraga yang dilengkapi dengan fasilitas bagi difabel. Dikutip dari Tempo, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, sudah ada 264 kursi untuk difabel, 6 toilet difabel dan ramp dengan lebar dan tingkat kemiringan yang sesuai. Memang, pada beberapa arena pertandingan baik di area terpadu Gelora Bung Karno maupun area selain itu, pekerjaan besar masih harus dihadapi untuk pengembangan sistem manajemen olahraga difabel di Indonesia karena beberapa fasilitas yang dibangun untuk menunjang aksesibilitas pada gelaran Indonesia 2018 Asian Para Games lalu sifatnya masih belum permanen.

Jika harus mengambil satu contoh fasilitas olahraga yang bisa menjadi rujukan bagi sistem manajemen olahraga Indonesia yang lebih inklusi, Jakarta International Velodrome di Rawamangun, Jakarta Timur bisa menjadi pilihan yang tepat. Saat menjadi tenaga ahli penyusunan buku Games Legacy Indonesia 2018 Asian Para Games, saya berkesempatan untuk menilik langsung fasilitas olahraga megah ini. Saya menyaksikan sendiri bagaimana aksesibilitas untuk difabel baik sebagai atlet maupun penonton di arena untuk balap sepeda dalam ruangan ini benar-benar dikedepankan.

Jakarta International Velodrome memang memasukkan fasilitas bagi difabel sejak awal pembangunan. Meniru konsep dari Velodrome London, hampir secara konsep arsitektur bangunan dan material diupayakan sama dengan yang ada di London yang juga menghadirkan aksesibilitas untuk difabel. Apalagi, 9 – 13 Januari yang lalu, arena balap sepeda ini menjadi tuan rumah Asian Track Cycling Championship (ACC) 2019 atau kejuaraan balap sepeda nomor satu di Asia.

ACC 2019 tidak hanya diperuntukkan bagi pebalap sepeda nondifabel, ajang ini juga mempertandingkan beberapa kelas Paracycling dalam satu balutan kompetisi. Enam atlet difabel yang bersinar di Indonesia 2018 Asian Para Games lalu berlaga membawa nama timnas Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa sebenarnya fasilitas olahraga yang aksesibel sangat efektif mendorong sistem kompetisi dan pengembangan olahraga inklusi yang mempertandingkan cabang olahraga difabel dan nondifabel dalam satu tempat dan ajang yang sama.

Lalu bagaimana dengan fasilitas olahraga di daerah? Samad, Ketua NPC Banjarnegara, mengatakan bahwa penyediaan fasilitas olahraga yang aksesibel di Banjarnegara terasa seperti melihat jalan yang panjang ke depan.

“Seperti sedang melihat jalan berliku yang panjang sekali di depan karena fokus NPC sekarang belum ke arah situ. Bagaimana agar pemerintah mengenal kami dan membantu dari segi pendanaan itu dulu yang menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa untuk Peparprov Jawa Tengah 2018 lalu, kontingen yang dikirimkan ke Solo adalah kontingen olahraga yang tidak terlalu memerlukan aksesibilitas fasilitas olahraga dalam skala besar.

“Kemarin di Peparprov kan yang kami kirimkan seperti catur dan renang itu tidak terlalu memerlukan tempat latihan yang harus dipaksakan aksesibel,” ungkapnya.

Namun, melihat Banjarnegara memiliki fasilitas olahraga yang aksesibel juga menjadi mimpi bagi ia dan teman-temannya.

“Kalau mendengar cerita Pak Yuhda kalau di Old Trafford sudah ada yang khusus buat kursi roda, saya sih berharap stadion Kolopaking Banjarnegara juga bisa seperti itu. Teman-teman pengguna kursi roda juga banyak yang ingin menonton Persibara Banjarnegara,” tutupnya.  

 

Wartawan : Yuhda

Editor        : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.