Lompat ke isi utama
Ariel sedang berfose tersenyum

Sinden, Bakat Terpendam Ariel Saptawulan

Solider.id, Semarang- Rumah sederhana di jalan Manggis III/4A Semarang begitu tenang. Seorang gadis muda 15 tahun tengah asyik menikmati terik siang dengan bersantai mendengarkan radio kesayangan. Bersama gadis belia itu, seorang perempuan sedang menemani obrolan.

Ariel Saptawulan, gadis difabel netra yang tengah beranjak remaja, kelahiran Semarang, 27 Mei 2003, adalah putri sulung dari tiga bersaudara pasangan Putri Octavia (33) dan Marditya (33). Ia memiliki hobi bernyanyi. “Saya ingin jadi sinden,” ujarnya dengan lirih. Ia tersenyum malu. Ia mengau memang sangat pendiam bila tak dilibatkan pembicaraan. “Jadi sinden bisa menghibur diri sendiri dan lingkungan,” lanjutnya (25/11).

Menurut Ariel-sapaan akrabnya- yang paling susah ketika menyanyi ala sinden adalah mengatur cengkoknya, selain harus memiliki suara yang khas. Baginya, menjadi sinden merupakan upaya melestarikan kebudayaan. Meski  berbeda dari remaja pada umumnya upaya tersebut menjadi dasar baginya untuk memilih dan menangkap peluang dengan belajar menjadi sinden.

 Ariel menceritakan, pada kesempatan tampil bersama grup karawitan sekolah dalam rangka mengisi acara Misa Difabel. Ia bertemu dengan Komunitas Sahabat Difabel yang mengajaknya mengenal dunia luar. Sejak itu, ia saya mengetahui banyak tempat dan bergabung dengan komunitas tersebut.

Usai bergabung, Ariel makin banyak memiliki agenda. Jadwal menyanyi dan tampil sebagai sinden makin membuatnya percaya diri dengan kemampuan yang ia asah hingga kini. “Saya senang bisa bergabung di komunitas (Sahabat Difabel) yang mempertemukan saya dengan banyak orang. Banyak ilmu yang saya dapatkan. Terlebih lagi banyak hal yang membuat saya  jadi kaya pengalaman,” tuturnya.

Meski sekarang ia lebih memperbanyak waktu untuk fokus belajar di SMPLB  Dria Adi. Suatu saat ia berharap dapat melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Solo.

Ariel sering mengikuti lomba macapat dan geguritan dan pernah pula masuk nominasi sinden Idol di Universitas Negeri Semarang. Capaian tersebut membuatnya semakin yakin dengan pengalaman yang sudah digenggamnya. Meski belum memiliki prestasi kejuaraan, dari semua jenis lomba yang pernah ia ikuti bisa menimba banyak pengalaman.

“Hehehe... Kalahnya karena banyak peserta lomba yang sudah dewasa dan lebih berpengalaman. Tapi walaupun belum pernah menang, saya bisa belajar dari para peserta lain,” pungkas Ariel.

Tak pernah mengeluh tentang apa yang ia rasakan, Ariel belajar menerima keadaan meski semula pernah bertanya tentang kondisi yang ia dapatkan. “Tadinya ya bertanya. Kenapa saya harus begini? Yang lain bisa jalan, bisa lari-lari, kenapa saya tidak?” tanyanya pada diri sendiri. Gadis muda usia 15 tahun itu kembali tertawa menyikapi keadaan.

Sang Ibu yang menemani obrolan lalu berkisah. Karena kecelakaan saat berkendara, membuat Ariel terlahir prematur dalam usia kandungan 6 bulan. “Syaraf matanya mengecil karena saat berada dalam tabung inkubator selama 6 bulan matanya tidak ditutup.” Putri Octavia, Ibu Ariel menjelaskan kondisi saat Ariel dilahirkan.

“Saya menangis begitu diberitahu Ibu saya tentang kondisi bayi Ariel. Saya bahkan sempat menolaknya. Dua tahun saya hanya merawat tanpa pernah mempedulikan dia. Sampai-sampai dari tetangga ada yang melaporkan ke yayasan sekolah kehidupan agar mengadopsi anak saya.” Dengan tutur perlahan, Putri lalu menjelaskan penolakan yang ia lakukan. Sering pergi meninggalkan Ariel bersama Eyangnya atau tak pernah mengurusnya. Namun Putri bersyukur karena dengan apa yang dilakukan para tetangga, justru membuat Putri tersadar bahwa itu berarti sebuah teguran.

“Tidak semua orangtua dikaruniai anak seperti dia? Bukankah berarti saya orangtua pilihan?” Merasa mendapat kekuatan, Putri bangkit menemani Ariel dengan memberi perlakuan yang sama seperti anggota keluarga yang lain.

Dibantu Ibunya, Putri mengajarkan Ariel tentang bentuk dan letak barang-barang yang ada di rumah hingga Ariel siap memasuki dunia sekolah. Tak pernah merasa kesulitan dalam mengajari Ariel, Putri merasa bersyukur karena Ariel termasuk anak yang tergolong anteng.

“Teman gereja ibu memberitahu tentang sekolah Dria Adi. Usia empat tahun saya langsung daftarkan Ariel masuk di TK.” Begitu tahu informasi tentang sekolah bagi anak-anak dengan difabilitas netra, Putri membawa Ariel untuk memasuki dunia sekolah, sekolah berasrama.

“Kata Mama saya harus belajar di sini biar bisa mandiri. Tidak ada yang berbeda, yang membuat beda itu karena kita jauh dari orangtua.” Tanpa disangka Ariel berpendapat tentang perasaannya saat masuk sekolah berasrama.

Mengaku kesulitan dalam belajar matematika, Ariel juga butuh seseorang yang bisa membantunya memperdalam belajar Hadist Qur’an. “Materi yang kita pelajari bukan materi seperti di SLB, tapi materi sekolah umum. Jadi untuk mencermatinya susah sehingga butuh tenaga ekstra. Tunanetra kan kendalanya di matematika, karena harus menghafal rumus-rumus dan harus tahu kapan rumus itu akan digunakan. Lalu sampai saat ini saya masih punya keinginan untuk belajar mendalami hadist. Tapi karena sampai sekarang masih kesulitan, paling hanya bisa cari di internet yang kadang tidak lengkap juga. Masih sulit nemu panduan hadist dalam bentuk Braille,” tambahnya.

Menemui beberapa hambatan dalam belajar, Ariel hanya berkiat untuk selalu percaya pada apa yang ditakdirkan Allah swt. “Tidak usah mikir omongan orang lain dan jangan larut dalam pikiran yang membuat kita susah. Hidup harus dibuat enak. Ini harus kita tekankan pada diri sendiri, karena tidak mungkin dorongan seperti ini datang dari orang lain.” Mencoba bijak menyikapi keadaan, Ariel bicara berbekal apa yang ia rasakan.

Merasa yakin bisa meraih mimpi yang digantungkan, Ariel tak patah semangat saat kegiatan nyinden sedang sepi  untuk tampil. “Biar tunanetra tidak terkenal jadi tukang pijat saja, saya ingin jadi penyanyi atau musisi. Karenanya saat ini saya juga sedang belajar musik-musik modern. Sehingga saat dibutuhkan tampil dengan musik modern saya sudah menguasainya. Minimal bisa salah satu musik modern. Nah, sekarang saya sedang belajar keyboard. Jari-jari saya yang tak selincah guru musiknya sempat membuat saya hampir nyerah. Gimana to kog susah banget? Tapi saya coba terus dan akhirnya saya bisa,” tutupnya.

 

Reporter: Yanti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.